
Ketua PB Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia, dr. Irsan Hasan, SpPD-KGEH, (kanan) dalam diskusi bersama Philips Indonesia.
JawaPos.com - Deteksi dini penyakit hepatitis sangat penting untuk dilakukan. Cara paling tepat melakukannya adalah dengan screening lewat Ultrasonografi atau USG.
Menurut Ketua PB Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia, dr. Irsan Hasan, SpPD-KGEH, pengobatan Hepatitis telah mengalami kemajuan dalam 15 tahun. Sebab, telah ada pelbagai metode pengobatan seperti operasi. Namun, tidak terdapat peningkatan signifikan kesintasan satu tahun setelah 15 tahun berlalu.
"Mendeteksi hepatitis harus dengan USG, nggak bisa lewat darah. Harus USG. Kami usulkan ini ke Kementerian Kesehatan (Kemenkes) supaya jadi program nasional. Masalahnya, nanti akan terkait dengan pembiayaan," kata dr. Irsan dalam diskusi bersama Philips Indonesia baru-baru ini.
Saat ini, lanjutnya, kalangan profesional di bidang liver atau peneliti hati mewaspadai penyakit perlemakan hati yang dapat memicu hepatitis. Perlemakan hati ini dianggap berbahaya karena selain penderita cenderung tidak merasakan gejala seperti penyakit Hepatitis lainnya, perlemakan hati juga tidak dapat terdeteksi dari tes darah.
Penyakit ini, ungkapnya, dapat disebabkan oleh konsumsi alkohol berlebih, pola makan rendah protein dan kegemukan. Cara mendeteksinya hanya menggunakan USG atau CT scan hati.
"Saya sarankan kepada kelompok berisiko ini untuk mendapatkan USG abdomen sebagai upaya deteksi dini," jelasnya.
Dia menjelaskan hingga saat ini dunia medis tak punya data nasional terkait berapa orang yang sadar terkena hepatitis. Namun, ada sebuah obat penyembuhan revolusi hepatitis C yang dapat sembuh 100 persen. Meskipun obat tersebut masih tergolong mahal.
"Hepatitis C ini ada program khusus dari Kemenkes bahwa obat diberikan gratis. Hepatitis C penyembuhannya alami kemajuan pesat. Ada obat membuat virus hepatitis C sembuh 100 persen. Meskipun masih mahal, namun organisasi kesehatan dunia (WHO) memberikannya untuk negara miskin. Beruntungnya, Indonesia dimasukkan dalam daftar dan diizinkan untuk diedarkam secara generik," paparnya.
Menurutnya dari 1 persen penderita hepatitis C di Indonesia yang sudah diobati baru 3 ribuan. Artinya, dari 2,5 juta orang, yang sadar untuk memeriksakan diri dan meminta obat gratis hanya sekitar 3 ribuan orang.
"Mereka yang datang nanti kalau sudah parah. Dan untuk ibu hamil, sudah bertahun-tahun lalu kami nyatakan wajib cek. Kami sebutnya guidelines dan konsensus. Tiap bumil harus tahu idap hepatitis B atau tidak karena sikapnya ketahuan sakit atau tidak. Makanya ini harus menjadi kesadaran bersama," pungkasnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
