Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 24 April 2018 | 15.25 WIB

Merokok atau Obesitas, Mana Lebih Berbahaya?

Perokok aktif dapat memotong usia hingga 14 tahun, tergantung dari jumlah rokok yang diisap setiap hari. - Image

Perokok aktif dapat memotong usia hingga 14 tahun, tergantung dari jumlah rokok yang diisap setiap hari.

JawaPos.com - Merokok dan obesitas, seakan sudah biasa dalam kehidupan seiring berkembangnya gaya hidup masyarakat. Orang merokok dihantui oleh segudang risiko kesehatan yang membahayakan. Begitu juga berbagai risiko komplikasi akibat obesitas yang tidak boleh disepelekan. Lalu mana yang paling berbahaya, merokok atau obesitas?


Dalam keterangan tertulis hello sehat, Senin (23/4), menjadi perokok aktif dapat memotong usia hingga 14 tahun, tergantung dari jumlah rokok yang diisap setiap hari dan berapa lama ia merokok. Perkiraan ini pun belum menghitung angka harapan hidup yang hilang karena komplikasi merokok, seperti emfisema atau kanker paru, yang dapat merenggut lebih banyak lagi usia.


Sementara itu, obesitas bisa menghilangkan sekitar 8-10 tahun dari perkiraan usia Anda, terutama untuk orang yang telah berusia 40-45 tahun. Dilihat sekilas, merokok tampak lebih membahayakan.


Para peneliti pun meyakini bahwa merokok memiliki risiko kematian yang lebih besar daripada obesitas. Laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) terbaru menyebutkan setidaknya 2,8 juta orang meninggal setiap tahun akibat kelebihan berat badan atau obesitas. Sementara merokok menyebabkan hampir 7 juta kematian per tahun. WHO juga menunjukkan bahwa merokok akan menyebabkan lebih dari 8 juta kematian setiap tahun mulai pada tahun 2030 nanti.


Perbedaan yang cukup tajam ini sedikit banyak dipengaruhi oleh kesadaran masyarakat yang lebih tinggi terhadap bahaya berat badan berlebih. Hal ini kemungkinan besar juga ikut dipengaruhi oleh bagaimana masyarakat memandang obesitas. Banyak orang yang menganggap merokok sebagai suatu hal yang sudah biasa, berbanding terbalik dengan memiliki berat badan berlebih. Pada umumnya orang obesitas menerima konsekuensi yang lebih berat berupa cap negatif dan isolasi sosial dari lingkungan sekitar daripada seorang perokok.


Itu mengapa berbagai studi bahkan melaporkan ada lebih banyak orang yang khawatir tentang dampak obesitas dan karena itu lebih rutin memeriksakan kesehatannya, daripada yang konsultasi ke dokter soal bahaya merokok. Terlebih, banyak pula perokok yang sudah tahu bahwa rokok itu berbahaya tapi merasa sulit atau tidak mampu untuk berhenti.


Lebih parahnya menyepelekan kebiasaan buruk tersebut sehingga lebih jarang berobat. Inilah yang dapat meningkatkan risiko komplikasi dan kematian dini pada seorang perokok.


Sama Bahayanya


Merokok dan obesitas merupakan dua hal yang berbeda, dengan dampak yang berbeda pula. Tetap saja, merokok dan mempertahankan berat badan berlebih sama-sama berbahaya. Apalagi berlangsung dalam waktu lama.


Baik orang merokok maupun orang obesitas sama-sama bisa memperpanjang angka harapan hidup mereka dengan menjalani gaya hidup sehat. Perubahan ini semata-semata dilakukan untuk mencegah risiko komplikasi kesehatan berbahaya seperti diabetes, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung yang bisa diakibatkan oleh keduanya.


Langkah tepat yang harus dilakukan untuk bisa panjang umur adalah dengan berolahraga teratur (minimal 30 menit setiap hari selama 3-5 hari dalam seminggu, menjaga berat badan tetap sehat dengan pola makan seimbang, serta berhenti merokok dan atau hindari asap rokok. Semua hal ini idealnya harus dilakukan setiap orang, tak peduli apakah seorang perokok, orang yang obesitas, maupun keduanya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore