Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 Maret 2018 | 14.35 WIB

Hati-hati, Mata Sering Buram Sebelah Tanda Ada Masalah Kesehatan

Ilustrasi pandangan mata terasa buram sebelah bisa jadi dikarenakan masalah kesehatan yang serius - Image

Ilustrasi pandangan mata terasa buram sebelah bisa jadi dikarenakan masalah kesehatan yang serius

JawaPos.com - Pada umumnya, mata buram menandakan seseorang memiliki masalah ketajaman penglihatan. Di antaranya seperti mata minus, plus, atau silinder yang bisa ditanggulangi dengan pemakaian kacamata atau lensa kontak. Namun, sebaiknya periksakan ke dokter apabila mata buram sebelah saja.


Kondisi mata buram sebelah dikenal dengan nama central serous chorioretinopathy (CSCR). Central serous chorioretinopathy juga biasa disebut sebagai central serous choroidopathy. Dalam bahasa Indonesia, CSCR disebut sebagai retinopati serosa sentral. Mata buram sebelah akibat CSCR bisa menandakan masalah kesehatan serius yang mendasarinya.


Dalam keterangan tertulis hellosehat.com, Senin (12/3), CSCR adalah gangguan penglihatan akibat adanya kebocoran cairan dari lapisan jaringan di bawah retina, disebut koroid. Kebocoran ini yang kemudian merembes dan menumpuk di lapisan retina, menyebabkan gangguan penglihatan berupa perubahan bentuk benda dari bentuk asli benda yang seharusnya dilihat.


CSCR biasanya hanya membuat mata buram sebelah. Gejala lain yang dapat menyertai adalah area berwarna hitam tepat di pusat penglihatan. Garis lurus yang menjadi terlihat bengkok, bergelombang. Benda menjadi terlihat lebih kecil dari ukuran asli. Benda menjadi terlihat lebih jauh dari jarak sebenarnya. Benda yang berwarna putih menjadi terlihat kekuningan.


Ada dua fase CSCR


Mata buram sebelah akibat CSCR terbagi dalam dua jenis, yaitu akut dan kronis. CSCR akut lebih sering menyerang laki-laki usia pertengahan (20–50 tahun). Gangguan mata buram sebelah jenis ini bersifat sementara dan mendadak.


CSCR akut biasanya dapat sembuh sendiri ketika cairan tersebut pada akhirnya terserap kembali dalam waktu 2–6 bulan. Apabila fase akut ini terjadi secara berulang kali, bisa berkembang menjadi CSCR kronis dengan gejala gangguan penglihatan yang lebih jelas terasa.


Pada fase kronis, penumpukan cairan bertahan lebih dari 6 bulan dan sudah tidak dapat diserap kembali tanpa diberikan pengobatan. Selain buram sebelah, sisi mata yang terpengaruh oleh CSCR juga dapat kehilangan penglihatan seluruhnya (buta sebelah) apabila penumpukan cairan terletak di daerah makula (struktur di mata yang mengandung banyak sel batang dan kerucut).

Apa penyebab mata buram sebelah khas CSCR?


Penyebab pasti dari CSCR belum diketahui, tapi ada beberapa hal yang diduga ikut andil sebagai penyebabnya. Genetik alias kelainan mata bawaan. Sedikitnya 50 persen penderita CSCR memiliki keluarga yang juga menderita hal serupa. Tekanan darah tinggi (hipertensi) dapat meningkatkan risiko mengalami mata buram sebelah akibat CSCR hingga 2,2 kali lipat. Penggunaan kortikosteroid (dexamethasone, methylprednisolone), karakterisik dan sikap yang kompetitif, agresif, serta temperamental. Gangguan tidur meningkatkan risiko CSCR hingga 22 persen.


Pemeriksaan apa saja yang dibutuhkan?


Pemeriksaan akan diawali dengan memberikan obat tetes mata yang berfungsi untuk membesarkan pupil sehingga retina dapat terlihat dengan jelas. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan dengan menggunakan oftalmoskop untuk melihat kondisi retina. Pemeriksaan lainnya yang juga dapat dilakukan adalah pemeriksaan angiografi fluorosen dan pemeriksaan optical coherence tomography (OCT).


Pemeriksaan angiografi fluorosen dilakukan dengan menyuntikkan zat kontras ke pembuluh darah dan kemudian foto retina diambil ketika zat kontras tersebut melalui pembuluh darah retina. Sedangkan pemeriksaan OCT dilakukan dengan cara memindai ketebalan retina.


Adakah pengobatan yang dapat mengobati CSCR?


Pengobatan mata buram sebelah tergantung dari fase CSCR mana yang diderita. Fase akut bisa sembuh sendiri seiring waktu hingga cairan diserap kembali oleh tubuh, sementara fase kronis dapat ditangani dengan fotokoagulasi laser, suntikan anti-VEGF (bevacizumab), hingga obat minum (acetazolamide, aspirin, spironolakton).

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore