
Dapur Bandar Djakarta yang memasang banner Save Our Shark untuk berhenti menjual menu hiu.
JawaPos.com - Sejumlah negara masih menghidangkan menu ikan hiu ke dalam mangkuk makanan mereka. Rata-rata paling banyak menghidangkan sup sirip ikan hiu. Bahkan, harganya pun mencapai harga yang tinggi. Jika ditelisik dari segi kandungan gizi, ternyata daging ikan hiu berbahaya untuk dikonsumsi. Apa sebabnya?
Konsumsi ikan hiu salah besar. Jika ada yang menganggap mengonsumsi ikan hiu untuk kesegaran dan menambah nafsu makan, ternyata hal itu keliru. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2009 menyatakan bahaya kandungan merkuri hiu adalah yang tertinggi dari seluruh ikan yakni 14 ppm. Karena di dalam tubuh hiu ada akumulasi polutan dari hewan yang dimangsanya.
"Maka pelaku industri kuliner harus ikut bersama-sama kampanye untuk tidak menjual menu ikan hiu lagi, harus berkomitmen," tegas Bycatch and Shark Conservation WWF Dwi Aryoga Gautama dalam konferensi pers di Bandar Djakarta, Tangerang, Minggu (13/5).
Catatan WWF, secara global jumlah hiu berkurang 35 persen. Sedangkan di Indonesia dari 118 spesies, ada 29 jenis yang terancam punah. Salah satunya hiu martil dan hiu paus. Salah satu penyebabnya adalah karena hiu ketika melepaskan anakannya harus pergi ke pesisir. Alasan lainnya adalah karena untuk konsumsi.
"Maka kita harus bersama Save Our Shark. Bayangkan jika itu dikonsumsi untuk kesehatan hiu mengandung banyak merkuri. Logam berat lainnya paling enggak boleh disantap oleh ibu hamil sebab bisa sebabkan anak cacat lahir," jelas Yoga.
Harga satu set hiu rata-rata bisa mencapai jutaan rupiah untuk diekspor. Sedangkan jika hanya dagingnya di pelelangan ikan rata-rata Rp 7-9 ribu per kilogram. Paling mahal adalah memang bagian sirip.
"Indonesia untuk ekspor grade A biasanya ke Srilanka. Dan memang sampai sekarang belum ada panduan untuk akomodasi komoditi itu (hiu)," jelasnya.
Penggemar daging hiu di Indonesia rata-rata di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan kota besar lainnya. Jika di luar negeri paling banyak penggemar daging hiu ada di Asia Timur dan Afrika.
Salah satu pelaku kuliner yakni Bandar Djakarta berkomitmen untuk tidak lagi menjual menu daging hiu. Penjualan dijual sejak tahun 2000-an hingga tahun 2014. Menu ikan hiu saat itu hanya dagingnya dengan cara dibakar.
"Kami membelinya di pelelangan saat itu. Tapi sejak 2016-2017 kami sudah bekerja sama dengan WWF untuk sadar berkomitmen tak lagi jual menu hiu. Dan tak rugi juga karena tidak ada pelanggan yang bertanya menu hiu ke mana," kata Business Development Bandar Djakarta Group Shandra Januar.
Selain karena hiu bahaya untuk masyarakat dan bisa menyebabkan kepunahan, Shandra menjelaskan sebagai pelaku industri seafood, Bandar Djakarta sadar jika ikut menjual menu hiu, artinya ikut membuat ekosistem hiu punah dan merusak ekosistem lainnya di laut. Sehingga jangan sampai, industri kuliner seafood kehabisan bahan baku karena rusaknya ekosistem laut.
"Paling terketuk kami sadar, kami ini pemain industri seafood. Kalau kami enggak jaga ekosistem, maka kami juga enggak ada dagangan. Sama halnya dengan kepiting bahwa yang betina tak boleh dijual. Mari sama-sama jaga ekosistem," tandasnya

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
