Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 Mei 2018 | 14.14 WIB

Ternyata Mengonsumsi Daging Ikan Hiu Berbahaya, Apa Sebabnya?

Dapur Bandar Djakarta yang memasang banner Save Our Shark untuk berhenti menjual menu hiu. - Image

Dapur Bandar Djakarta yang memasang banner Save Our Shark untuk berhenti menjual menu hiu.

JawaPos.com - Sejumlah negara masih menghidangkan menu ikan hiu ke dalam mangkuk makanan mereka. Rata-rata paling banyak menghidangkan sup sirip ikan hiu. Bahkan, harganya pun mencapai harga yang tinggi. Jika ditelisik dari segi kandungan gizi, ternyata daging ikan hiu berbahaya untuk dikonsumsi. Apa sebabnya?


Konsumsi ikan hiu salah besar. Jika ada yang menganggap mengonsumsi ikan hiu untuk kesegaran dan menambah nafsu makan, ternyata hal itu keliru. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2009 menyatakan bahaya kandungan merkuri hiu adalah yang tertinggi dari seluruh ikan yakni 14 ppm. Karena di dalam tubuh hiu ada akumulasi polutan dari hewan yang dimangsanya.


"Maka pelaku industri kuliner harus ikut bersama-sama kampanye untuk tidak menjual menu ikan hiu lagi, harus berkomitmen," tegas Bycatch and Shark Conservation WWF Dwi Aryoga Gautama dalam konferensi pers di Bandar Djakarta, Tangerang, Minggu (13/5).


Catatan WWF, secara global jumlah hiu berkurang 35 persen. Sedangkan di Indonesia dari 118 spesies, ada 29 jenis yang terancam punah. Salah satunya hiu martil dan hiu paus. Salah satu penyebabnya adalah karena hiu ketika melepaskan anakannya harus pergi ke pesisir. Alasan lainnya adalah karena untuk konsumsi.


"Maka kita harus bersama Save Our Shark. Bayangkan jika itu dikonsumsi untuk kesehatan hiu mengandung banyak merkuri. Logam berat lainnya paling enggak boleh disantap oleh ibu hamil sebab bisa sebabkan anak cacat lahir," jelas Yoga.


Harga satu set hiu rata-rata bisa mencapai jutaan rupiah untuk diekspor. Sedangkan jika hanya dagingnya di pelelangan ikan rata-rata Rp 7-9 ribu per kilogram. Paling mahal adalah memang bagian sirip.


"Indonesia untuk ekspor grade A biasanya ke Srilanka. Dan memang sampai sekarang belum ada panduan untuk akomodasi komoditi itu (hiu)," jelasnya.


Penggemar daging hiu di Indonesia rata-rata di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan kota besar lainnya. Jika di luar negeri paling banyak penggemar daging hiu ada di Asia Timur dan Afrika.


Salah satu pelaku kuliner yakni Bandar Djakarta berkomitmen untuk tidak lagi menjual menu daging hiu. Penjualan dijual sejak tahun 2000-an hingga tahun 2014. Menu ikan hiu saat itu hanya dagingnya dengan cara dibakar.


"Kami membelinya di pelelangan saat itu. Tapi sejak 2016-2017 kami sudah bekerja sama dengan WWF untuk sadar berkomitmen tak lagi jual menu hiu. Dan tak rugi juga karena tidak ada pelanggan yang bertanya menu hiu ke mana," kata Business Development Bandar Djakarta Group Shandra Januar.


Selain karena hiu bahaya untuk masyarakat dan bisa menyebabkan kepunahan, Shandra menjelaskan sebagai pelaku industri seafood, Bandar Djakarta sadar jika ikut menjual menu hiu, artinya ikut membuat ekosistem hiu punah dan merusak ekosistem lainnya di laut. Sehingga jangan sampai, industri kuliner seafood kehabisan bahan baku karena rusaknya ekosistem laut.


"Paling terketuk kami sadar, kami ini pemain industri seafood. Kalau kami enggak jaga ekosistem, maka kami juga enggak ada dagangan. Sama halnya dengan kepiting bahwa yang betina tak boleh dijual. Mari sama-sama jaga ekosistem," tandasnya

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore