Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 April 2017 | 16.20 WIB

Mengatasi Gangguan Batu Empedu: Segera Lakukan Ini Bila Muncul Keluhan

KONSULTASI: Dengan wawancara dan pemeriksaan fisik saja dokter bisa mengetahui adanya gangguan batu empedu pada pasien. Pemeriksaan USG diperlukan untuk melihat posisi batu. - Image

KONSULTASI: Dengan wawancara dan pemeriksaan fisik saja dokter bisa mengetahui adanya gangguan batu empedu pada pasien. Pemeriksaan USG diperlukan untuk melihat posisi batu.

JawaPos.com - Batu empedu adalah penyakit yang menyerang di area organ pencernaan. Salah satu gejalanya adalah nyeri hebat seperti ditekan di sekitar bagian perut atas beberapa jam setelah mengonsumsi makanan berlemak.
---
Umumnya, batu empedu muncul di kantong empedu dan saluran empedu yang mengarah ke usus 12 jari. Pemicu utamanya konsumsi makanan dengan lemak dan kolesterol tinggi. Dokter F. Siusana Hadi SpB-KBD menjelaskan, makanan-makanan itu memengaruhi komposisi cairan empedu.


”Dalam cairan empedu, ada kolesterol, elektrolit, dan protein. Karena kebanyakan kolesterol, cairan pun mengendap dan membentuk kristal,” paparnya.


Siu menuturkan, terbentuknya batu empedu sering tidak disadari penderita. Namun, bila batu empedu membesar dan menyumbat, barulah timbul keluhan. ”Nyerinya khas, di perut kanan atas atau ulu hati. Biasanya, nyerinya makin berat sekitar 1–2 jam setelah makan. Terutama makanan berlemak,” ucapnya.


Spesialis bedah digestif yang berpraktik di Siloam Hospitals Surabaya itu menambahkan, terkadang rasa nyeri tersebut menembus hingga punggung. Bila sudah parah, pasien biasanya mengalami jaundice atau kuning di kulit dan mata.


”Penyebabnya, cairan empedu yang diproduksi kembali ke liver, lalu diedarkan lewat pembuluh darah,” kata alumnus program spesialis bedah Universitas Udayana, Bali, itu.


Batu empedu yang ditemukan di kantong empedu disebut kolelitiasis, sedangkan yang ada di saluran empedu disebut koledokolitiasis. Penanganannya biasanya dilakukan lewat terapi obat, diet rendah lemak dan kolesterol, baru operasi.


Obat diberikan bila batu belum terbentuk dan masih berupa sludge atau lumpur. Siu menjelaskan, prosedur operasinya berbeda dengan operasi batu ginjal. ”Saat operasi, yang diambil bukan cuma batunya. Kantong atau saluran tempat batu empedu juga diangkat,” papar Siu.


Pengangkatan itu bisa dilakukan lewat operasi bedah konvensional maupun laparoskopi. Namun, di antara keduanya, laparoskopi dianggap punya lebih banyak nilai plus. Tindakan tersebut tidak melibatkan sayatan yang lebar sehingga risiko infeksi bisa ditekan. ”Sayatannya maksimal tiga titik, itu pun tidak terlalu lebar. Jadi, pasien bisa pulih lebih cepat,” imbuhnya.


Siu menegaskan, langkah operasi mutlak dilakukan bila ukuran batu besar dan menimbulkan keluhan. Bila tidak ada keluhan, dokter tidak merekomendasikan operasi. ”Kecuali kalau pasien punya riwayat diabetes. Wajib segera operasi supaya batu empedu tidak menyebabkan radang,” ungkap Siu. Menunda tindakan lewat konsumsi herbal tertentu dinilai Siu tidak bakal membantu.


Pria yang berpraktik sejak 1998 itu menjelaskan, setelah operasi, pasien diwajibkan menjaga pola makan. Karena produksi empedu yang berkurang, konsumsi makanan berlemak tinggi sebaiknya dikurangi.


Empedu memiliki peran penting dalam sistem pencernaan dan sistem ekskresi manusia. Secara umum, ada dua fungsi penting empedu dalam tubuh manusia. Yaitu, membantu penyerapan lemak dan vitamin larut lemak ke dalam tubuh serta membantu kerja hati dalam sistem ekskresi zat sisa ke luar tubuh.


”Makanan berlemak bakal sangat lama dicerna, bahkan bisa memicu diare pada pasien pascaoperasi,” ungkapnya. (fam/c11/ayi)

Editor: Dwi Shintia
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore