Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 15 September 2017 | 16.04 WIB

Jangan Sepelekan Diare

Diskusi soal diare di Fairfield by Marriott Surabaya, Kamis (14/9 - Image

Diskusi soal diare di Fairfield by Marriott Surabaya, Kamis (14/9

JawaPos.com - Diare menjadi salah satu penyakit yang umum dialami di masyarakat. Selama ini hanya dianggap sebagai hal biasa. Tidak sedikit juga orang menyepelekan penyakit itu.


Penyakit ini jika tidak ditangani dengan benar, ada banyak risiko yang mengancam. Mulai dari dehidrasi hingga bisa mengakibatkan kematian. Terutama pada mereka yang masih berusia di bawah dua tahun. Dari data Riskesdas 2013, setidaknya ada 17 persen anak Indonesia yang mengalami diare. Rata-rata setahun 2 hingga 6 kali. Sebagian besar penyebabnya adalah karena terjadi infeksi.


“Infeksi ini bisa karena virus, bakteri dan jamur. Ini yang paling banyak menyebabkan diare cair akut,” ujar dr Andy Darma SpA (K) dalam sebuah acara di Fairfield by Marriott Surabaya, Kamis (14/9).


Rotavirus pun menjadi penyebab terbanyak terjadinya penyakit ini yang diperkirakan mencapai 60 persen. Diare yang disebabkan oleh rotavirus biasanya disertai dengan intoleransi laktosa. Hal ini dikarenakan keberadaan Rotavirus menyebabkan terjadinya kerusakan di jonjot usus. Produksi enzim pun terganggu. Terutama laktosa. Padahal, laktosa ini merupakan gula yang terdapat di dalam susu. Baik itu susu formula atau ASI.


“Meski begitu, kalau memang masih dalam tahap ASI eksklusif, tetap harus diberikan. Soalnya, selain laktosa, ASI mengandung nutrisi dan imunoglobulin yang baik untuk bayi,” lanjut dokter yang berpraktik di RSUD dr Soetomo tersebut.


Sedangkan jika sejak kecil sudah menggunakan susu formula, bisa diganti dengan susu yang memiliki kadar laktosa lebih rendah. Orang tua pun harus selalu waspada memperhatikan apakah sang buah hati mengalami dehidrasi atau tidak.


Tanda yang paling gampang adalah anak terlihat lemas. Mulut bayi juga tampak kering. Air seninya berwarna pekat. Bisa juga dilakukan pengecekan dengan mencubit kulit. Jika terjadi kekurangan cairan, kulit akan butuh waktu lama untuk kembali normal. “Kalau sudah mengalami dehidrasi seperti ini, pemberian cairan harus diperhatikan,” papar Andy.


Oralit menjadi hal pertama yang dianjurkan. Pemberiannya pun sedikit demi sedikit. Tidak langsung diberikan dalam jumlah banyak.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore