
Ilustrasi
JawaPos.com – Penanganan medis untuk berbagai penyakit saluran cerna biasanya dilakukan dengan peralatan medis endoskopi. Misalnya saja penyakit maag, batu kandung empedu, penyakit pankreas dan saluran empedu, penyakit saluran cerna baik atas maupun bawah, penyakit usus halus, dan lain-lain.
Endoskopi merupakan salah satu peralatan kedokteran untuk memindai atau meneropong kelainan atau penyakit pada organ-organ pencernaan. Peralatan ini dilengkapi dengan kamera mikro yang dihubungkan dengan komputer.
Ketua Umum Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia (PEGI) Dr. dr. Ari Fahrial Syam SpPD KGEH menjelaskan sebenarnya, peralatan teknologi endoskopi yang terdapat di Indonesia sudah maju. Beberapa rumah sakit sudah memiliki ERCP (endoscopic retrograde cholangiopancreatography), endoskopi ultrasound, entroskopi untuk melihat usus halus, dan intra ductal ultrasound untuk memindai batu empedu.
Ada juga manometri untuk meneropong tekanan dalam lambung dan kerongkongan yang biasa terjadi pada penderita penyakit maag dan GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).
“Tetapi tidak semua rumah sakit yang memiliki fasilitas tersebut,” kata Ari kepada wartawan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Senin (11/9).
Contohnya, peralatan untuk ERCP dimiliki Rumah Sakit (RS) Umum Pusat Cipto Mangunkusumo (Jakarta) dan RS Kariadi (Semarang), dan rumah sakit swasta di Bandung dan Surabaya.
“Ada dokter endoskopi di suatu rumah sakit tetapi rumah sakit itu tidak memiliki peralatan endoskopi yang canggih. Begitu pun sebaliknya,” jelas Ari.
President Japanese Gastroenterological Endoscopy Society/JGES Profesor Hisao Tajiri mengatakan di negeri Sakura terdapat sekitar 30 ribu ahli endoskopi. Sedangkan jumlah penduduk Jepang sekitar 127 juta jiwa (data tahun 2016).
“Bandingkan dengan Indonesia yang berpenduduk 280 juta tapi hanya memiliki 600 dokter endoskopi,” tukasnya.
Kasus lain yang juga banyak terdapat di masyarakat adalah meningkatnya kejadian batu di saluran empedu. “Nah, dengan pelatihan endoskopi saluran cerna tingkat lanjut, maka dokter di Indonesia memiliki kemampuan untuk mengeluarkan batu dari saluran empedu atau mengambil sampel jaringan di pankreas,” ujarnya.
Di Indonesia, angka kejadian kanker kolorektal terbilang tinggi. Angka itu berbeda dengan kasus kanker di Jepang. Di Jepang, Hisao, kasus yang paling banyak adalah kanker lambung. Selain karena pola makan yang salah, juga disebabkan oleh bakteri Helicobacter pylori (H. Pylori). (ika/Marieska)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
