
Khairul Fahmi. (Dokumen Khairul Fahmi)
JawaPos.com - Insiden pemusnahan amunisi afkir yang menelan korban jiwa 13 orang di Garut menimbulkan tanda tanya. Bagaimana kedisiplinan dan kepatuhan menjalankan standar operasional prosedur (SOP) pemusnahan amunisi tidak layak pakai.
Berikut wawancara dengan Pengamat Militer Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi:
Bagaimana terkait insiden pemusnahan amunisi afkir yang menewaskan 13 orang?
Secara normatif, pemusnahan amunisi tidak layak pakai (ATLP) merupakan kegiatan rutin yang dilakukan untuk menjaga keselamatan jangka panjang, karena amunisi yang sudah kedaluwarsa bisa sangat tidak stabil.
Namun, prosedur ini seharusnya dijalankan dengan pengamanan ketat sesuai SOP militer, termasuk pemilihan lokasi yang jauh dari permukiman, pengendalian penuh atas zona steril, dan evakuasi semua pihak yang tidak berkepentingan dari area sekitar.
Mengingat kalau salah satu elemen ini tidak dilaksanakan secara konsisten, maka risiko kegagalan teknis dan jatuhnya korban meningkat drastis.
Ada video beredar yang menunjukkan warga berada di sekitar lokasi ledakan, bagaimana itu?
Memang jika melihat video-video yang beredar, tampaknya ada kelemahan signifikan dalam pengamanan area. Yang terlihat dengan masih adanya pergerakan warga sipil di sekitar lokasi. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan serius terkait kepatuhan terhadap prosedur pengamanan. Jadi, ya, kita melihat potensi adanya unsur kelalaian dalam pelaksanaan teknis di lapangan.
Namun kita tentunya perlu menghormati dan menunggu hasil investigasi resmi dari TNI dan pihak berwenang untuk mengetahui secara pasti apa penyebab dan faktor-faktor yang terlibat dalam tragedi ini. Evaluasi menyeluruh sangat diperlukan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Soal adanya warga sipil yang berada di lokasi ini ada info kalau mereka mengambil logam bekas ledakan. Ternyata ada ledakan susulan amunisi, bagaimana ini?
Dalam SOP, setelah pemusnahan amunisi, lokasi harus menjalani prosedur sterilisasi total. Tim teknis wajib memastikan tidak ada bahan peledak aktif yang tersisa, termasuk detonator, amunisi gagal ledak, atau serpihan berbahaya lainnya.
Jika warga sipil bisa masuk dan bahkan sempat mengumpulkan logam sisa, itu menunjukkan bahwa tahapan sterilisasi, pengamanan perimeter, atau evakuasi sepertinya tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Soal korban dari TNI, apakah mungkin menghalau warga yang mendekat?
Idealnya, mereka tidak perlu berada dalam posisi itu. Jika prosedur pengamanan berjalan sesuai doktrin operasi standar personel TNI sampai harus turun langsung untuk menghalau warga, itu artinya perimeter aman tidak terbentuk dan terkendali secara maksimal sejak awal.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
