Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 10 November 2015 | 18.10 WIB

Kisah Firman, Suku Anak Dalam yang Lulus Tes Jadi TNI

M Firman Haryanto - Image

M Firman Haryanto

Sejumlah warga Suku Anak Dalam (SAD) kini mulai membuka diri dengan dunia luar. Sebagian besar mereka sudah sekolah, belajar, dan tamat. M Firman Haryanto salah satu anak SAD yang sukses dan lulus tes masuk menjadi seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI).



JENNIFER AGUSTIA, JAMBI



Seorang pemuda berperawakan tinggi, cepak, dan berbadan tegap kemarin terlihat di Makorem Telanaipura. Dia mengenakan setelan kemeja putih, celana dasar hitam, sepatu sneaker, dan ransel yang disandang di punggungnya. Sekilas, tak ada yang berbeda antara pemuda itu dengan pemuda-pemuda usia belasan tahun lainnya.



M Firman Haryanto, itulah nama pemuda yang memiliki tinggi 171 Cm tersebut. Dia adalah salah satu dari 300 pemuda se Sumbagsel yang lulus tes masuk TNI. Firman, begitu ia dipanggil biasanya bukanlah anak dari Kota. Namun, Firman merupakan anak asli Suku Anak Dalam dari Temanggung Depati Jaring. Firman adalah satu dari sedikit SAD yang memiliki cita-cita menjadi prajurit negara.



Jambi Independent (Jawa Pos Group) berkesempatan berbincang bersama Firman di sebuah ruangan di Makorem kemarin. Firman adalah anak SAD kelahiran 25 April 1997. Usianya kini 18 tahun, namun ia hanya tamatan SMP, yakni SMPN 36 Sungai Bahar.



"Tamat SMP tahun ini, sekolah putus nyambung. Ya begitulah," ungkapnya.



Firman memang tak tinggal di daerah pedalaman, namun sudah menjadi warga trans di Desa Bukit Makmur Kecamatan Sungai Bahar Kabupaten Muaro Jambi.



Dia hanya tamatan SMP memang, namun ia juga punya cita-cita yang tinggi. Bukan prajurit biasa, namun jika diberikan kesempatan Firman ingin memakai baret merah menjadi Kopassus. "Kalau bisa saya ingin jadi Kopassus," ungkapnya.



Menjadi TNI merupakan cita-citanya sejak kecil. Ketika ada pembukaan penerimaan prajurit TNI, seorang yang sudah dianggapnya abang memberikan informasi untuk ikut seleksi. Enam tahap seleksi diikutinya mulai dari tes administrasi hingga tes kesehatan. Akhirnya, Minggu (8/11) lalu dirinya dinyatakan lulus tes. "Kemarin diumumkan lulus," katanya.



Firman mengatakan pada saat akan tes, ada empat orang SAD yang ikut mendaftar. Namun, hanya dirinya yang lulus. Kemudian se Sumbagsel menurutnya ada 300 yang dinyatakan lulus kemudian akan mengikuti pendidikan di Lahat selama delapan bulan ke depan. "Rencananya tanggal 13 besok ini langsung berangkat pendidikan," kata sulung dari tiga bersaudara ini.



Ditanya apakah tes yang dilalui cukup berat, Firman mengatakan cukup berat. Dan dia maklum dengan tes tersebut karena merupakan syarat masuk TNI. Dia juga mempersiapkan diri secara matang ketika akan ikut seleksi. Yang paling utama disiapkannya adalah fisik. Ia berolahraga seperti lari, push up, renang, dan lain sebagainya.



"Yang berat tes nya, kan mau masuk TNI. Yang paling sulit itu tes psikologi," katanya.



Ketika ditanyakan mengenai resiko menjadi prajurit, Firman mengatakan tak takut mati. Bahkan dia mengatakan semua orang pasti akan mati, bagaimanapun caranya. Keluarganya pun mendukung cita-cita Firman. Orang tuanya yang bertani sawit, dan keluarga lainnya menurut Firman mengadakan syukuran atas lulusnya putra mereka.



"Syukurannya cuma yasinan. Saya dari dulu memang pengen jadi TNI, disegani pastinya," tandas Firman. (mui/JPG)

Editor: afni
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore