Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 12 April 2025 | 21.13 WIB

Atas Nama Syawalan, Tak Ada Genosida Politik di Republik

ILUSTRASI (NINA/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI (NINA/JAWA POS)

Situasi psikologis ”percaya-tidak-percaya” juga menggelung dalam sanubari pembaca saat mengikuti baris (b)per baris buku John Roosa berjudul Riwayat Terkubur: Kekerasan Antikomunis 1965-1966 di Indonesia. Bukan hanya berbisik, tapi juga hati jadi gamang; memang ada pembantaian massal yang dilakukan dengan sangat terbuka seperti itu. Bahkan, membantai warga negara yang tiap hari martabatnya dipropagandakan sebagai iblis saat kalender melintasi bulan suci dan peringatan Natal di tahun 1965 dengan jumlah korban tak masuk akal bagi seorang manusia paling idiot sekalipun.

Melihat bagaimana koran Angkatan Bersendjata menyambut Lebaran dengan sukacita pada 23 Januari 1996, terutama syawalan ”jang penuh gairah”, diksi genosida yang sangat buas dan menakutkan yang dielaborasi dengan dingin oleh Roosa itu seperti sesuatu yang sangat jauh dan sangat samar. Indonesia tampak seperti negeri Saba dalam gambaran Tuhan: baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Buka Puasa Politik

Tahun 1998, 1 Syawal jatuh pada 29 Januari. Sepekan sebelum itu, markas komando pasukan elite Angkatan Darat Kopassus di Cijantung dengan bangga melepas undangan buka puasa kepada lebih kurang 7.000 orang.

Suasana buka puasa di Cijantung itu dijadikan oleh majalah bulanan Media Dakwah edisi No 284, Syawal 1418 H - Februari 1998, sebagai cover story. Tampak di sampul itu, Prabowo dengan senyum bersalaman dengan barisan ”tokoh” yang mengenakan uniform serban membebati kepala.

Media Dakwah menulis begini yang saya kutipkan secara verbatim: ”Suasana malam Ramadhan ke-24 di Markas Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur saat itu (23/1) tampaknya baru kali itu terjadi. Di markas besar pasukan elit tersebut, sekitar 7000 umat Islam dan prajurit Kopassus mengadakan buka puasa bersama, dilanjutkan dengan sholat maghrib, sholat Isya dan Tarawih berjamaah”.

Selaku tuan rumah, Prabowo Subianto sebagai Danjen Kopassus dengan pangkat mayor jenderal berpidato dengan menekankan pentingnya kemanunggalan rakyat dan ABRI sembari membuka diri menerima pengaduan dari para ulama. Prabowo bilang, ”Saya instruksikan kepada pasukan saya untuk membuka pintu, 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, 31 hari sebulan menerima kedatangan bapak-bapak semua.”

Sampai di sini, suasana yang sangat intim persatuan umat dan ABRI dalam semangat Ramadan-Syawal itu begitu hikmat. Hingga kemudian, Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang dipimpin Jenderal TNI Subagyo HS bersama anggota-anggota perwira tinggi lainnya meninjau Cijantung pada 5 Agustus 1998. Sebab, 500 meter dari Mako Kopassus yang dijadikan buka puasa bersama dengan jumlah hadirin yang fantastis di pekan pemungkas Ramadan 1418 H, terdapat bunker penyiksaan dari warga negara yang diculik. Bunker itu bernama ”kapal selam”. Beberapa korban penculikan yang sampai hari ini belum kembali ke keluarganya juga ditempatkan di kapal selam itu.

Namun, seperti 1965, memori kekerasan negara di tahun 1998 ini juga perlahan samar dan jauh. Sangat tidak masuk akal seorang pimpinan pasukan elite militer yang dicintai ”umat Islam” melakukan perbuatan bertentangan dengan saptamarga. Kalaupun iya, pastilah itu dilakukan demi melindungi kepentingan luas dari umat Islam itu sendiri. Opini publik tetap gamang, hatta internal Angkatan Darat sendiri berhasil membuktikan operasi penculikan tersebut benar adanya dan Prabowo dipecat.

Pimpinan pasukan elite Kostrad pertama, Mayjen Soeharto, pada 1965; pimpinan pasukan elite Kopassus, Mayjen Prabowo Subianto. Keduanya bernasib sama dengan beberapa pengecualian dalam detail, sama-sama menjadi pemuncak kekuasaan eksekutif dengan status ”bersih” dari pelanggaran HAM berat masa lalu. Cukup dengan syawalan, semua buku amal politik bisa direvisi sesukanya.

Harian Angkatan Bersendjata edisi 23 Januari 1966 mengucapkan: ”Minal Aidin Walfaizin. Pimpinan dan seluruh wartawan serta karyawan Mingguan Angkatan Bersendjata mengutjapkan: Selamat Hari Raya Idulfitri 1 Sjawal 1385 H. Mohon maaf lahir dan batin kepada segenap kolega, ralasi pemasang iklan dan seluruh pembatja”. Itu. (*)

---

*) MUHIDIN M. DAHLAN, Dokumentator partikelir Warung Arsip dan penulis buku Kronik Penculikan Aktivis

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore