Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 2 Maret 2025 | 04.37 WIB

Tangan Kanan Memberi, Tangan Kiri Mengintip

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

Kedermawanan orang Indonesia tak perlu diragukan lagi. Selama tujuh tahun berturut-turut Indonesia didapuk sebagai jawara pertama negara paling dermawan. Setidaknya tervalidasi oleh studi World Giving Index (WGI) dari Charities Aid Foundation. Apalagi di bulan Ramadan, laku sedekah akan naik secara eksponensial. Namun, bagaimana bila orang Indonesia terketuk bederma lebih dikarenakan altruistik strategis semata?

Fenomena berbondong-bondongnya orang berdonasi bagi Agus ”Sedih” dan penjual es teh yang dihina Gus Miftah patut dicermati. Hanya dalam waktu singkat, kedua orang tersebut mendapatkan kucuran dana yang tak main-main jumlahnya. Agaknya penindasan secara psikologis yang dialami pedagang es teh dan nasib buruk Agus membangkitkan kesetiakawanan banyak orang yang merasa menjadi bagian dari kawanan besar generasi digital.

”Intuisi lebih dulu, penalaran kemudian” merupakan kodrati moral manusia. Dengan mendahulukan intuisi emosional, mereka berbondong-bondong menyalurkan bantuan. Mereka seakan mengimani silogisme: jika saya bederma, maka saya orang baik. Dan karena saya bederma pada kasus viral, maka saya adalah orang baik dalam skala nasional.

Sebetulnya, selain kasus viral tersebut, berseliweran kasus-kasus lain yang membutuhkan uluran tangan, seperti penderita kanker ganas miskin yang diunggah oleh situs penggalangan dana daring. Lantas, mengapa seakan-akan kasus lain itu sedemikian terseok-seoknya untuk mendapatkan donasi, berbanding terbalik dengan kasus bapak penjual es teh? Bisa jadi ini terkait perilaku manusia sebagai homo economicus, yang walaupun untuk urusan bederma, melakukan berbagai kalkulasi.

Pada 1971, Robert Trivers menerbitkan teorinya mengenai altruisme timbal balik. Dalam bederma, homo economicus akan berhitung secara matematis. Ini sebetulnya hal yang wajar karena adanya gen ”egois” dalam diri manusia sehingga dalam kedermawanannya, ia akan pilih-pilih dalam bersikap dermawan. Karena itu, untuk setiap hal baik yang ia berikan, ia akan memperhitungkan kira-kira hal baik apa pula yang bisa ia dapatkan.

Pada kasus bapak penjual es teh, seorang ustad lantas tergerak membuat video dan memberikan hadiah umrah. Seorang influencer (pemengaruh) memberikan bantuan beasiswa kepada anak-anak bapak penjual es teh. Dan seorang YouTuber memberikan uang tunai senilai Rp 100 juta. Padahal, dalam tingkat urgensi, penderita kanker ganas yang fakir itu tentu lebih membutuhkan donasi dalam waktu singkat.

Mari kita ulik keuntungan apa yang mereka peroleh. Ustad, influencer, dan YouTuber tersebut mendapatkan publikasi yang tak main-main ketika memberikan donasi terkait kasus viral. Apalagi jika aksi kedermawanan itu disorot oleh kamera. Selain pundi-pundi yang bisa jadi didapat bila video mereka juga ikut viral, reputasi baik mereka juga ikut meroket dan mendapat puja-puji di media sosial.

Perihal pamrih ini juga sejalan dengan budaya menyebutkan jumlah uang sedekah di rumah ibadah. Bila dibandingkan, jumlah total sedekah melalui kotak amal jauh lebih sedikit bila dibandingkan sedekah dengan penyebutan nama donatur. Mungkin karena itu, beberapa pengurus rumah ibadah lebih memilih cara pertama. Pendonatur pun agaknya juga mengamininya karena mendapatkan keuntungan ganda: pahala di akhirat dan reputasi di dunia sebagai dermawan.

Agaknya fenomena ini selaras dengan postulat Glaucon dari Athena ribuan tahun silam: orang-orang terobsesi dengan reputasi. Terlihat sebagai ”orang baik” lebih penting dibanding benar-benar menjadi baik. Padahal, apabila mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi dalam tubuh ketika melakukan kedermawanan, mereka tentu akan memilih bertindak sesuai adagium: tangan kanan memberi, tangan kiri tidak mengetahui.

Sebetulnya, setiap manusia memiliki naluri untuk berbuat altruis. Ketika ia bederma, otaknya menghasilkan serotonin yang berlimpah, endorfin yang meluap-luap, dan oksitosin yang tumpah ruah. Serotonin miliknya tak hanya akan membantu kinerja sistem pencernaan, saraf, dan kesehatan tulang, tetapi memperbaiki suasana hatinya, menjauhkannya dari depresi, dan meningkatkan kebahagiaan. Sedangkan endorfin, selain sebagai natural painkiller yang membuatnya tak terlalu merasakan nyeri atau sakit yang ia derita (entah nyeri kepala, dada, atau gigi), juga membantu meningkatkan sistem imunitas bersama-sama dengan oksitosin. Bahkan laku itu juga akan memperlambat hormon yang memengaruhi penuaan dan menurunkan kadar kortisol dalam tubuhnya.

Namun, apa jadinya ketika seseorang menyiarkan laku altruisnya? Ia akan mempunyai ekspektasi tertentu. Kadang kala ekspektasi itu tak tercapai, misalnya di kasus Agus ”Sedih”. Rupanya donasi tersebut tidak ia pergunakan untuk berobat, melainkan untuk membayar utang rumah kerabatnya. Hal itu menimbulkan badai kekecewaan di dalam diri donatur. Kadar serotonin, dopamin, dan endorfin dalam otaknya anjlok. Begitu juga glutamat dan GABA segera dilepaskan ke habenula, struktur bilateral mungil yang terletak di daerah epithalamic diencephalon. Hal-hal tersebut memodulasi intensitas rasa sakit emosional. Karena itu, efek baik yang awalnya diterima seseorang ketika berdonasi, bisa hilang, bahkan defisit, tergantikan luka emosional yang sering kali termanifestasi sebagai nyeri fisik.

Bagi seorang dermawan, sikap altruisnya semacam katalisator bagi terbangkitkannya neurotransmiter yang berefek baik bagi tubuhnya. Akan tetapi, laku altruis itu hanya menyehatkan tubuh bila tak diikuti pamrih atau ekspektasi timbal balik. Sesungguhnya, ketika Anda berbuat baik, sejatinya Anda sedang berbuat baik kepada diri sendiri. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore