
ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
Menghadapi perang samudra dengan cara angkatan darat menjadi salah satu premis Arus Balik yang diiris dengan gelombang ironi oleh Pramoedya Ananta Toer sedemikian rupa.
Sultan Trenggono dan impian pasukan kudanya adalah khas angkatan darat. Merasa kuat, tetapi sesungguhnya kalah.
Kita semua seperti tokoh Wiranggaleng di Arus Balik, sosok lemah yang menaiki armada laut Jawa yang lemah. Pada akhirnya, menjadi olok-olok samudra.
Napas saya tertahan ketika menonton film dokumenter dari saluran YouTube angkatan laut perihal Komodor Yos Sudarso dan kapal tuanya yang tenggelam tanpa daya di hadapan siasat kolonial terakhir pada Operasi Trikora di Laut Arafuru, Maluku.
Yos Sudarso seperti Wiranggaleng. Yang dipunyai hanya jiwa patriotik, sementara perlengkapan samudranya bobrok dan tak ubahnya besi usang. Apa daya semangat patriotik tanpa navigasi politik yang berpihak pada samudra. Karam tak bersisa dan parau berkata: ”Kobarkan semangat pertempuran.”
Di Panarukan, dermaga yang mencium laut disusutkan. Semua energi dikembalikan ke darat.
Di baris terakhir Jalan Raya Pos, Pram menulis: Saya tidak pernah berjalan di atas bumi Panarukan ……
Berbeda dengan Pram, saya berada di Panarukan, menyaksikan salah satu prajurit ”terbaik” dan ”problematis dalam sejarah” angkatan darat dan pencinta kuda linuwih dilantik menjadi presiden Republik Indonesia.
Di Panarukan, di gigir Pantai Sedulur yang tak jauh dari monumen ”1000 Km”, saya bersama dengan dua puluhan anak muda dari Gerakan Situbondo Membaca. Meneroka sastra, bertemu diksi kuda, laut, dan sejarah yang kalah.
Tentu saja, si pemelihara dan penunggang kuda dari Hambalang itu tidak seromantik kuda yang diimajikan penyair kuda asal Sumba yang menjadi warga legendaris sastra Jogja, Umbu Landu Paranggi. Kuda putih, hitam, merah; kuda-kuda yang mempersiang hari, memperasing diri.
Ini tentang derap kuda perang kavaleri darat, kuda-kuda bentukan Sultan Trenggono di Arus Balik. Kuda-kuda penakluk daerah-daerah sekitarnya, bukan kuda-kuda penahan gelombang kolonialisme dari laut.
Trenggono adalah sang penunggang kuda yang ditangisi Ibu Suri:
Tanah ini, Jawa ini, kecil, lautnya besar. Barangsiapa kehilangan air, dia kehilangan tanah, barangsiapa kehilangan laut dia kehilangan darat.
Laut sudah lama asing. Sementara, darat sudah mengalami kerusakan yang tak terperi. Diperebutkan tiga kaum sekaligus: jenderal ”perang”, pengusaha rakus, dan pengkhotbah agama yang memburu receh. Itu. (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
