
BANYAK SISI: Jusuf Wanandi (tengah) punya kepedulian pada dunia seni. (DOKUMENTASI AGUS DERMAWAN)
Kedekatan hati Jusuf dengan seni rupa adalah petunjuk ihwal kerekatan hatinya dengan seniman, yang telah dilangsungkan cukup lama. Apa yang ia lakukan terhadap pelukis Hendra Gunawan pada 1979 adalah sebuah amsal.
Pada waktu itu Hendra berpameran tunggal di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Lantaran Hendra bekas pelukis Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang diafiliasi PKI dan baru bebas dari sel tahanan politik, tidak ada kolektor Indonesia yang berani membeli karyanya. Padahal, Hendra saat itu sangat membutuhkan uang. Dalam keadaan terdesak, Hendra memberanikan diri ke rumah Jusuf dengan membawa empat lukisan berukuran serbabesar. Jusuf iba. Lalu, tanpa pikir panjang empat lukisan itu dibayar dengan harga sesuai permintaan Hendra. ”Empati selalu mendorong orang untuk berbaik budi,” kata Jusuf.
Sementara itu, ia mengingat benar ucapan Saddam Hussein: seniman adalah sama dengan politikus sejati. Keduanya membuat kehidupan dengan rumus-rumus yang maju. ”Pak Hendra berkata bahwa ia butuh uang untuk mencipta terus, agar dirinya maju. Saya ingin beliau maju. Saya pun membeli lukisannya,” lanjut Jusuf.
Empati Jusuf menghasilkan pahala. Lima belas tahun kemudian harga lukisan Hendra bertengger di nominal mengejutkan. Sehingga nilai empat lukisan yang dulu ia beli mencapai kelipatan 300 kali! ”Percaya saja, manusia yang baik budinya akan mudah dibikin kaya,” katanya bercanda.
Atas bobot artistik koleksi dan sikap budayanya, majalah Visual Art (edisi 22, 2007) memosisikan Jusuf Wanandi sebagai Kolektor Paling Berpengaruh di Indonesia 1957–2007, di samping Soekarno, Adam Malik, Suteja Neka, Ciputra, dan Agung Rai.
”Dengan budaya dan seni kita menemukan jejak-jejak perasaan luhur. Jejak itu membawa kita kepada kesadaran untuk tidak menjadi maling dan bandit dalam kehidupan sosial. Untuk tidak berbohong dalam politik, korupsi di kursi birokrasi, dan jegal-jegalan demi kekuasaan,” katanya.
Bagi banyak orang, Jusuf Wanandi bukan cuma pemikir politik, melainkan juga penggerak kebudayaan dan kesenian. (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
