Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 8 September 2024 | 17.22 WIB

Kebudayaan Politik Jusuf Wanandi

BANYAK SISI: Jusuf Wanandi (tengah) punya kepedulian pada dunia seni. (DOKUMENTASI AGUS DERMAWAN) - Image

BANYAK SISI: Jusuf Wanandi (tengah) punya kepedulian pada dunia seni. (DOKUMENTASI AGUS DERMAWAN)

Kedekatan hati Jusuf dengan seni rupa adalah petunjuk ihwal kerekatan hatinya dengan seniman, yang telah dilangsungkan cukup lama. Apa yang ia lakukan terhadap pelukis Hendra Gunawan pada 1979 adalah sebuah amsal.

Pada waktu itu Hendra berpameran tunggal di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Lantaran Hendra bekas pelukis Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang diafiliasi PKI dan baru bebas dari sel tahanan politik, tidak ada kolektor Indonesia yang berani membeli karyanya. Padahal, Hendra saat itu sangat membutuhkan uang. Dalam keadaan terdesak, Hendra memberanikan diri ke rumah Jusuf dengan membawa empat lukisan berukuran serbabesar. Jusuf iba. Lalu, tanpa pikir panjang empat lukisan itu dibayar dengan harga sesuai permintaan Hendra. ”Empati selalu mendorong orang untuk berbaik budi,” kata Jusuf.

Sementara itu, ia mengingat benar ucapan Saddam Hussein: seniman adalah sama dengan politikus sejati. Keduanya membuat kehidupan dengan rumus-rumus yang maju. ”Pak Hendra berkata bahwa ia butuh uang untuk mencipta terus, agar dirinya maju. Saya ingin beliau maju. Saya pun membeli lukisannya,” lanjut Jusuf.

Empati Jusuf menghasilkan pahala. Lima belas tahun kemudian harga lukisan Hendra bertengger di nominal mengejutkan. Sehingga nilai empat lukisan yang dulu ia beli mencapai kelipatan 300 kali! ”Percaya saja, manusia yang baik budinya akan mudah dibikin kaya,” katanya bercanda.

Atas bobot artistik koleksi dan sikap budayanya, majalah Visual Art (edisi 22, 2007) memosisikan Jusuf Wanandi sebagai Kolektor Paling Berpengaruh di Indonesia 1957–2007, di samping Soekarno, Adam Malik, Suteja Neka, Ciputra, dan Agung Rai.

”Dengan budaya dan seni kita menemukan jejak-jejak perasaan luhur. Jejak itu membawa kita kepada kesadaran untuk tidak menjadi maling dan bandit dalam kehidupan sosial. Untuk tidak berbohong dalam politik, korupsi di kursi birokrasi, dan jegal-jegalan demi kekuasaan,” katanya.

Bagi banyak orang, Jusuf Wanandi bukan cuma pemikir politik, melainkan juga penggerak kebudayaan dan kesenian. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore