
Sitor Situmorang. (Dok. sitorsitumorang.org)
JawaPos.com - Sitor Situmorang dikenal sebagai salah satu dari sederetan sastrawan Indonesia angkatan 45. Karyanya sangat fenomenal dan mendapat respons besar dari kalangan penikmat sastra. Tidak jarang juga karyanya dijadikan sebagai literatur untuk kesusastraan Indonesia.
Sitor Situmorang adalah penyair yang lahir pada 2 Oktober 1924 di Harianboho. Harianboho merupakan salah satu desa di kaki gunung Pusuk Buhit.
Nama kecil Sitor Situmorang adalah Raja Usu yang diambil dari nama leluhurnya. Beberapa waktu kemudian, nama itu berubah menjadi "Sitor". Sehingga, pada saat dia masuk ke Sekolah Rakyat (SR), namanya terdaftar sebagai Raja Usu alias Sitor Situmorang.
Sitor Situmorang masuk sekolah rakyat (HIS) pada 1931 di Balige. Ketika naik ke kelas 5, dia pindah ke Sibolga bersama dengan kakak tertuanya yang menjadi pegawai di Sibolga.
Setelah tamat sekolah rakyat pada 1938, Sitor Situmorang masuk ke SMP (MULO) di Tarutung, dan tamat tahun 1941. Setelah tamat SMP, Sitor berangkat ke Batavia (Jakarta) dan masuk ke sekolah menengah atas (AMS).
Bersekolah di AMS, Sitor Situmorang mendapat dukungan penuh dari saudara-saudaranya. Harapannya, agar Sitor dapat memperoleh pendidikan yang setinggi-tingginya. Apalagi Sitor berkeinginan masuk ke sekolah tinggi jurusan hukum setelah tamat AMS.
Namun, kedatangan Jepang mengkandaskan harapan Sitor. Jepang menawarkan pendidikan yang lebih baik untuknya di Tokyo. Pada 1943, Sitor diberangkatkan ke Jepang untuk menimba ilmu. Setelah pulang dari Jepang, dia dipekerjakan di kantor keuangan Jepang di Sibolga.
Beberapa lama kemudian, karena situasi Sibolga tidak aman, kantor itu dipindahkan ke Tarutung sehingga Sitor ikut pula ke Tarutung. Sitor bekerja pada Jepang hingga berakhirnya pemerintahan Jepang di Indonesia. Pada 1945, Sitor Situmorang menikah dengan gadis berpendidikan Belanda, anak seorang demang.
Setelah Jepang jatuh, tahun 1946 Sitor bekerja sebagai redaktur surat kabar Suara Nasional yang diterbitkan oleh Komite Nasional daerah Tapanuli. Pada saat itul dia mulai berkenalan dan bergaul dengan dunia tulis-menulis. Akan tetapi, Sitor lebih beringinan menjadi wartawan kota besar.
Dengan seizin istri, Sitor berangkat ke Medan dan bekerja di surat kabar Waspada Medan sejak 1947. Dengan demikian, Sitor mulai bergaul dengan orang-orang Partai Nasional Indonesia (PNI), karena pemimpin Waspada yang kala itu Muhammad Said merupakan kader PNI. Karena ada revolusi sosial, Sitor kembali ke Tarutung dan meninggalkan Waspada.
Tahun itu juga dia melamar ke Suara Merdeka di Pematang Siantar dan diterima. Pada saat kembali ke Waspada Medan, Sitor diutus untuk menjalankan tugas kewartawanannya di Jakarta dan Yogyakarta. Di Jakarta, pada saat itu terbit majalah sastra Siasat. Setelah membaca Siasat Sitor mengetahui bahwa di Jakarta ada beberapa sastrawan yang terkenal, seperti Chairil Anwar dan Asrul Sani. Sitor pun berkenalan dengan karya-karya mereka.
Pada 1950, Sitor mendapat beasiswa dari Pemerintah Belanda untuk pergi ke Eropa. Akhirnya berangkat ke Eropa untuk menuntut ilmu selama tiga tahun. Kembali ke Jakarta, dia mulai merasakan kemampuan menulis.
Ketika itu sebenarnya Sitor sudah mulai terkenal dan terkemuka. Teeuw dalam Sastra Baru Indonesia (1980) menyatakan bahwa kunjungannya ke Eropa itu mengakibatkan Sitor terpengaruh sangat kuat oleh eksistensialisme yang dikenalnya begitu dekat selama ia berada di Paris.
Sitor adalah salah seorang sastrawan Indonesia yang secara sadar mengatakan diri turut berpolitik. Ketika Waspada menugaskannya menempati pos di Yogyakarta membuatnya berkesempatan berkenalan dengan “Bapak-bapak Republik”.
Bapak-bapak Republik merupakan istilah Sitor Situmorang untuk menyebutkan orang-orang yang dimaksudkannya seperti Bung Karno, Bung Hatta, serta para pimpinan PNI, telah memperkaya daya juang kreativitas sastranya dengan warna baru politik. Sitor bahkan pernah diangkat menjadi anggota MPRS.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
