ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
”De grote operatie ... grote strijd tegen de politie van Surabaya, het geeft de strijd op.”
W.W. Verrips, kepala rampok
Beberapa pekan sebelum esai ini terbit, saya terdampar di dermaga Tanjung Perak. Saat terang tanah, saya melihat bus dengan bodi berbentuk ”sangar” melintas. Pendek, tapi panjang. Inilah kali pertama saya naik bus Suroboyo berwarna merah itu. Bagi warga Surabaya, Suroboyo sudah biasa dan sehari-hari. Tetapi, tidak dengan saya.
Dengan lima ribu rupiah, dengan kabin penumpang yang lengang seperti petak pertapaan Prabu Airlangga di Gunung Penanggungan, saya menyusuri kembali Kota Surabaya.
Ajaib, hanya pada saat naik dan bertapa di Suroboyo R2, saya melihat (kembali) secara gamblang Jembatan Merah. Bukan sekadar Jembatan Merah-nya, bukan sekadar properti arsitektural kolonial dan old town yang menjadi landscape (pariwisata sejarah perang revolusi nasional), melainkan ujung Jalan Kasuari.
Di antara jalan dengan nama burung-burungan ini, Rajawali-Kasuari-Elang-Garuda, ada gedung Bank Indonesia. Dan, Bank Indonesia lebih memilih Jalan (”burung”) Garuda sebagai penanda alamatnya ketimbang Jalan (burung) Kasuari yang sebelumnya bernama Bankstraat. Bank sentral lebih memilih burung bertanda petik dan mitologi ketimbang burung yang secara fisik hadir dan masih ada.
Dengan mudah, di internet pembaca menemukan asal-usul gedung tua yang menjadi cagar budaya ini. Ringkasnya, gedung ini muasalnya adalah gedung De Javasche Bank. Saat Revolusi Agustus tergelar, De Javasche Bank dinasionalisasi. Jadilah republik memiliki bank sentral sendiri yang disebut Bank (Negara) Indonesia. Lho, kok, sama dengan BNI 46. Iya.
Tapi, bukan sejarah ”bank-bank-an” yang saya ulas di esai ini, bukan bagaimana Hatta menginisiasi bank sentral dan bank pertama republik (BNI) di Jogja pada 1946, melainkan kisah dari ujung Bankstraat (Kasuari) yang saya lihat sekilasan dari bingkai kaca Suroboyo Bus.
Untuk itulah, sebagai seorang dokumentator partikelir, saya memerlukan media bernama Java Post. Betul, koran yang memuat esai ini jauh semasa revolusi bernama Java Post. Jika koran Jawa Pos berulang tahun, atau 75 tahun lalu, itu adalah kalender terbit kali pertama Java Post.
Hanya pada saat berada di geladak Suroboyo Bus, kliping Java Post yang sudah lama saya baca dan simpan hadir kembali secara terang benderang. Kliping yang berkisah bagaimana komplotan perampok yang dipimpin W.W. Verrips merancang dan melakukan perampokan besar di De Javasche Bank pada 30 Desember 1950. Tujuh belas bulan setelah Java Post terbit dan tiga tahun sebelum perampok legendaris nasional, Kusni Kasdut, memulai sejarah pentingnya dari Surabaya; aksi rampok (culik-tebus) pertama (coba-coba).
Java Post merekonstruksi ulang bagaimana perampokan terbesar seusai Revolusi Agustus terjadi. Mulai perencanaan di Semarang, konsolidasi di Hotel Embong Ungu, simulasi atau ”latihan umum” sehari sebelum hari H, hingga aksi perampokan siang bolong.
Aksi yang dinamakan ”the grote operatie”, operasi besar, berhasil menggondol kas sebesar Rp 3,85 juta. Nilai rampokan itu setara dengan membangun empat gedung serbaguna Grha Sabha Pramana UGM.
Disebut ”operasi besar” karena melibatkan pegawai bank dan pembesar. Dalih Verrips, kelompoknya butuh dana untuk kembali ke Belanda. Sekaligus oleh-oleh terakhir yang bisa didapatkan dari Indonesia yang telah memperoleh kemerdekaannya. Saya kira, perampokan ”the grote operatie” ini sekaligus jadi momentum terakhir (orang) Belanda merampok Indonesia.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
