Barat dan timur adalah guruku/Muslim, Hindu, Kristen, Buddha/pengikut Zen atau Tao/semua adalah guruku/[….]/Ya, semua adalah guruku/Ibrahim, Musa, Daud, Laotze/Sidharta, Zarathustra, Socrates, Isa Almasih/Namun hanya pada Muhammad Rasulullah/Dan di masjid saja aku berkhidmat/Walau jejak-Nya/Kujumpai di mana-mana.
Kerja-Doa
Persentuhan pertama saya dengan puisi Abdul Hadi W.M. melalui buku sekolah, kelas empat kukira, yang memuat sajaknya ”Nyanyian Seorang Petani”. Berilah kiranya yang terbaik bagiku/tanah berlumpur dan kerbau pilihan/bajak dan cangkul/biji padi yang manis//Berilah kiranya yang terbaik/angin mengalir/hujan menyerbu tanah air/bila masanya buahnya kupetik/ranumnya kupetik/rahmat-Mu kuraih.
Sajak singkat naratif itu paling berhasil dalam kurikulum, selain ”Gembala” M. Yamin –abadi dalam kepala. Bertahun kemudian saya sadari betapa kesederhanaannya memuat prosesi kerja dan doa. Persis sajak ”Cipasung” Acep Zamzam Noor yang imaji visualnya menurut Sapardi dua dimensi; petani mencangkul (kerja) seperti orang rukuk sembahyang (ibadah).
”Nyanyian Seorang Petani” prototipe mini sajak Abdul Hadi: kerja/doa satu paket dalam spirit profetik-relegiusitas. Dalam Madura, Luang Prabhang (2006) inilah sajak tertua (1965). Meski ditempatkan kedua setelah ”Prelude” (1967) –mungkin dianggap mirip prolog– pola naratifnya muncul kembali di seperempat halaman akhir dengan menonjolkan unsur ketuhanan.
Bagian itu merupakan ajuannya sebagai Ahli Cipta, semacam penulis tamu, di Pulau Pinang Malaysia (1991–1993), lalu terbit dalam Pembawa Matahari (2002). Ini menambah garis tebal namanya sebagai sastrawan sufi bersama Kuntowijoyo, Danarto, atau Zawawi.
Awalnya ia berkisar di gerbong sajak imajis/suasana bersama Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono. Lalu mereka menempuh jalan berbeda. Gejala ini dilihatnya sendiri dalam esai lawas di atas. Simbolisme, tulis Hadi, ditemui pada sajak GM, imajisme pada Sapardi, sedangkan Sutardji menampakkan gejala surealis.
Madura, Luang Prabhang sendiri lebih separo berisi puisi imajis. Baru pada sajak ”Tuhan, Kita Begitu Dekat” dan seterusnya, muatan sufistiknya kental sekali. Pola ungkapnya pun berubah cukup drastis, dari imajis ke seminaratif.
Perubahan itu sangat mungkin merespons studinya atas syair Fansuri maupun penyair sufi lainnya –kesempurnaan totalitas! Menarik, ia beri ruang puitik pada sosok kontroversial Syekh Siti Jenar, bahkan Jayakatwang, sebagai wujud empati bagi tasawuf yang tertindas.
Persentuhan empiris puisinya dengan studi sufistik menguatkan akar tematik dan memancarkan bahasa terang, di tengah dominasi sajak liris-suasana, samar-remang. Dengan itu ia menyempal dari gerbong mainstream walau tetap tanpa dinding penyekat. Atau jika kini ada sedikit batas, itu ibarat sebaris puisi Subagio Sastrowardoyo, Kematian hanyalah selaput gagasan yang gampang diseberangi. (*)
---
RAUDAL TANJUNG BANUA, Penyair, tinggal di Jogjakarta

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
