Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 28 Januari 2024 | 16.36 WIB

Berlapis-lapis Akar dan Sumber, Tiada Dinding

Barat dan timur adalah guruku/Muslim, Hindu, Kristen, Buddha/pengikut Zen atau Tao/semua adalah guruku/[….]/Ya, semua adalah guruku/Ibrahim, Musa, Daud, Laotze/Sidharta, Zarathustra, Socrates, Isa Almasih/Namun hanya pada Muhammad Rasulullah/Dan di masjid saja aku berkhidmat/Walau jejak-Nya/Kujumpai di mana-mana.

Kerja-Doa

Persentuhan pertama saya dengan puisi Abdul Hadi W.M. melalui buku sekolah, kelas empat kukira, yang memuat sajaknya ”Nyanyian Seorang Petani”. Berilah kiranya yang terbaik bagiku/tanah berlumpur dan kerbau pilihan/bajak dan cangkul/biji padi yang manis//Berilah kiranya yang terbaik/angin mengalir/hujan menyerbu tanah air/bila masanya buahnya kupetik/ranumnya kupetik/rahmat-Mu kuraih.

Sajak singkat naratif itu paling berhasil dalam kurikulum, selain ”Gembala” M. Yamin –abadi dalam kepala. Bertahun kemudian saya sadari betapa kesederhanaannya memuat prosesi kerja dan doa. Persis sajak ”Cipasung” Acep Zamzam Noor yang imaji visualnya menurut Sapardi dua dimensi; petani mencangkul (kerja) seperti orang rukuk sembahyang (ibadah).

”Nyanyian Seorang Petani” prototipe mini sajak Abdul Hadi: kerja/doa satu paket dalam spirit profetik-relegiusitas. Dalam Madura, Luang Prabhang (2006) inilah sajak tertua (1965). Meski ditempatkan kedua setelah ”Prelude” (1967) –mungkin dianggap mirip prolog– pola naratifnya muncul kembali di seperempat halaman akhir dengan menonjolkan unsur ketuhanan.

Bagian itu merupakan ajuannya sebagai Ahli Cipta, semacam penulis tamu, di Pulau Pinang Malaysia (1991–1993), lalu terbit dalam Pembawa Matahari (2002). Ini menambah garis tebal namanya sebagai sastrawan sufi bersama Kuntowijoyo, Danarto, atau Zawawi.

Awalnya ia berkisar di gerbong sajak imajis/suasana bersama Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono. Lalu mereka menempuh jalan berbeda. Gejala ini dilihatnya sendiri dalam esai lawas di atas. Simbolisme, tulis Hadi, ditemui pada sajak GM, imajisme pada Sapardi, sedangkan Sutardji menampakkan gejala surealis.

Madura, Luang Prabhang sendiri lebih separo berisi puisi imajis. Baru pada sajak ”Tuhan, Kita Begitu Dekat” dan seterusnya, muatan sufistiknya kental sekali. Pola ungkapnya pun berubah cukup drastis, dari imajis ke seminaratif.

Perubahan itu sangat mungkin merespons studinya atas syair Fansuri maupun penyair sufi lainnya –kesempurnaan totalitas! Menarik, ia beri ruang puitik pada sosok kontroversial Syekh Siti Jenar, bahkan Jayakatwang, sebagai wujud empati bagi tasawuf yang tertindas.

Persentuhan empiris puisinya dengan studi sufistik menguatkan akar tematik dan memancarkan bahasa terang, di tengah dominasi sajak liris-suasana, samar-remang. Dengan itu ia menyempal dari gerbong mainstream walau tetap tanpa dinding penyekat. Atau jika kini ada sedikit batas, itu ibarat sebaris puisi Subagio Sastrowardoyo, Kematian hanyalah selaput gagasan yang gampang diseberangi. (*)

---

RAUDAL TANJUNG BANUA, Penyair, tinggal di Jogjakarta

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore