
ILUSTRASI
Sebagai penggemar dangdut, dan sering kepikiran dengan keberlanjutannya, klaim Michael sebenarnya terdengar menenteramkan. Sayang, alih-alih sedikit penjelasan genealogis (bagaimana para penyanyi laki-laki berbahasa Jawa pencinta Didi Kempot itu menyanyi dangdut), saya merasa hanya menemukan klaim yang berulang-ulang. Michael, dalam tulisan di Laras.or.id (13/03/22), seakan ingin mengunci gugatan, menyebut Denny Caknan dkk. sebagai “bukan pencinta Rhoma Irama, bukan penghamba dangdut koplo, … anak-anak muda dengan pengetahuan dangdut minim”.
Membayangkan lahirnya generasi baru dangdut dari menggemari Didi Kempot, bagi saya terdengar seperti membayangkan munculnya band-band rock dari mendengarkan lagu-lagu Soneta. Terdengar sedikit memutar, meskipun bukan hal mustahil. Cuma, saya sedikit punya kekhawatiran, alih-alih “meraba dan menafsir dangdut”, seperti ditulis Michael, Denny dkk. justru menapaki galur musik yang berbeda. Mereka tak mencintai Rhoma, atau Hamdan ATT, atau Evie Tamala, karena cinta mereka kepada Didi Kempot mungkin malah membawa mereka kepada Rinto dan Obbie, atau Arie dan Youngky. Maka, dibanding penerus dangdut, jangan-jangan mereka adalah generasi baru musisi/penyanyi pop cengeng yang kembali muncul setelah lama menghilang?
Abah Lala, dalam satu podcast, menyebut aktivitas bermusiknya sebagai “ndangdutan”. Namun, hemat saya, rasa “kalah” pada lagu “Ojo Dibandingke” ciptaannya lebih dekat kepada ke-”kalah”-an Jamal Mirdad (“Nathalia”, cipt. Obbie Messakh) dibanding kalah-nya Meggie Z. (“Benang Biru”, cipt. Fazal Dath). Ada dialog-dialog di depan atau tengah lagu yang memberi efek dramatis pada beberapa lagu Denny Caknan, hal yang juga kita dapati pada beberapa lagu Didi Kempot, pun pada lagu-lagu Ratih Purwasih. Senggakan, juga suara sorak-sorai akapela di belakang vokal, warisan musikal yang disumbangkan musik Jawa kepada khazanah musik Indonesia, dianggap menjadi salah satu penghubung para penerus Didi Kempot ini dengan dangdut koplo, dan dengan demikian juga dengan dangdut. Namun, jauh sebelum koplo memasifkannya, Pompi dkk. sudah melakukannya untuk lagu-lagu pop ‘80an.
***
Pasti banyak hal yang mesti lebih dijelaskan dan didiskusikan lebih jauh. Tapi, saya cenderung pada simpulan, pada akhirnya penggemar pop cengeng yang menghilang di pertengahan ‘90an telah kembali, atau setidaknya menemukan penerusnya. Sobat Ambyar saya rasa lebih dekat kepada “Gelas-gelas Kaca” dibanding “Pecah Seribu”, sementara Sad Boy & Sad Girl lebih berduka karena “Hati yang Luka” daripada karena “Termiskin di Dunia”. Dan, sebagai para pemuja dan penerus Didi Kempot, di situ juga Denny Caknan dkk. berada. (*)
*Tulisan kedua, habis.
---
MAHFUD IKHWAN, Penulis asal Lamongan

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
