Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 2 Juli 2023 | 18.36 WIB

Politik Sebatang Pohon Soekarno di Padang Arafah

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Sebulan setelah peristiwa akbar di kolong langit Asia terselenggara di Bandung, Konferensi Asia Afrika, Soekarno berangkat ke Arab Saudi.

SOEKARNO berhaji ke Tanah Haram. Sebagai putra sang fajar yang menyaksikan sendiri sedari remaja bangkitnya pergerakan Islam dari rumah kosnya di Peneleh VII, Surabaya, Sarekat Islam, berhaji menjadi sangat penting.

Namun, yang menarik dari hajinya Soekarno adalah diplomasi lingkungannya. Saya menyebutnya sebagai politik sebatang pohon.

Sebagai pemimpin dari negeri yang prototipenya seperti gambaran surga ideal dalam kitab suci –pohon yang hijau, air mengalir jernih, tanah subur gemah ripah loh jinawi– seperti itu konten diplomasi yang ingin ditunjukkan Soekarno.

Betul, tanah Indonesia kaya batu bara, emas, nikel, gas, dan minyak. Tetapi, berhadapan dengan Saudi, hal-hal itu tak meninggalkan kesan apa pun. Seperti secauk debu.

Di Padang Arafah dengan matahari yang panas membakar, insting manusia bukanlah memecah batu, menggali tanah, dan melubangi gunung, melainkan berlindung, berteduh, mengaso. Dan, di sinilah pentingnya sebatang pohon.

Pembaca bisa bayangkan, semua orang, siapa pun, tak terkecuali, bahkan sakit parah sekalipun, harus ke Padang Arafah untuk wukuf, untuk menyiapkan diri melakukan perang akbar melawan tiga iblis perusak bumi.

Di padang tandus itulah Soekarno tampil sebagai politikus genuine yang tahu bagaimana berdiplomasi yang bermartabat. Diplomasi substantif yang meninggalkan rekam jejak panjang.

Soekarno tidak sekadar punya ide menanam pohon di Tanah Haram, tetapi ia juga tahu jenis pohon apa yang pas di tanah berkarakter seperti apa.

Soekarno, pemimpin yang punya hubungan ajaib dengan pepohonan, pribadi yang memiliki pengetahuan ekologi, memilih sendiri pohon yang seperti apa yang tepat ia serahkan untuk Tanah Haram, untuk menaungi jutaan tamu Tuhan dari segala sudut bumi saat menyelenggarakan wukuf.

Mimba. Ya, intaran. Di Bali, pohon yang berasal dari tanah Hindustan ini dianggap sakral. Disebut pohon hayat lantaran sifat-sifat dan karakter yang melekat dalam dirinya. Bahkan, di Bali, ada desa adat yang bernama Intaran yang diambil dari nama pohon ini.

Intaran, bagi Soekarno, dengan segala karakternya, dipilih mewakili Indonesia untuk tumbuh abadi di Tanah Haram. Intaran adalah pohon dengan batang kuat dan kulit yang terpecah-pecah menahankan sekuat-kuatnya cuaca paling ekstrem sekalipun untuk memilih tetap tegak dan hidup.

Karakter intaran ini seperti zaitun. Hanya butuh sedikit saja air untuk bisa tegak lurus dengan langit. Saking bertahannya, sebatang pohon zaitun di Palestina yang tak jauh dari Masjidilaqsa dan sudah berumur ribuan tahun menjadi seperti dongeng hidup, menjadi pohon dikeramatkan.

Boleh dibilang, intaran adalah karakter dari asa dan daya yang coba Soekarno perlihatkan. Seperti akar dan batang intaran, seperti itu juga karakter negeri bernama Indonesia sehabis keluar dari revolusi yang ekstrem.

Seperti ranting dan daun intaran yang punya khasiat besar untuk kesehatan manusia, Soekarno memberitahukan bagaimana hidup mestilah bermanfaat untuk kehidupan berkelanjutan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore