Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 2 Januari 2022 | 16.47 WIB

Apa Yang Kau Tjari (di Perpustakaan), Palupi?

Photo - Image

Photo

Dalam sebuah talk show yang berlangsung daring di pekan pertama Desember 2021, salah satu deputi Perpustakaan Nasional RI (PNRI) menyebut literasi (baca perpus) sangat ampuh memulihkan ekonomi dan reformasi sosial.

---

Betul? Alih-alih menjadi semacam PKO atau penolong kesengsaraan oemoem –pinjam istilah Muhammadiyah– yang berada di garda depan di masa pandemi, nasib perpustakaan justru sebelas dua belas dengan mal. Ruang yang sakratulmaut memohonkan iba dan donasi. Perpustakaan yang selama ini meminta untuk didatangi, oleh pandemi, justru sedapat mungkin dijauhi.

Sampai di sini, saya justru heran saat membaca sepotong berita baru dengan pesan tampak sangat lusuh. Bahwa, perpustakaan di kampus negeri ternama di Jogja dengan bantuan dana dari Pegadaian mendandani interior ruangan serupa musim Lebaran. Ya, menambah sofa, bikin minigolf, dan permainan meja sepak bola. Mereka menyebut ruangan itu sebagai The Gade Creative Lounge.

Tidak ada yang salah dalam soal memperindah interior dengan alasan ini dan itu. Namun, ini ide setelah pandemi yang justru menginterupsi apa yang disebut ruang fisik terpusat.

Monster pandemi yang telah membunuh 5 juta orang itu seperti sesuatu yang lewat begitu saja tanpa membuat paradigma kita memandang realitas berubah sama sekali. Kebanggaan sebagai negeri pemilik perpustakaan terbanyak nomor dua di dunia, 165 ribu, seakan sebuah prestasi yang terus digotong dengan kacamata kuda.

Metaverse

Nyaris terlupa bahwa ada pintu masuk memasuki dunia baru setelah pandemi. Yakni, (platform) iPusnas. Mungkin, mulanya sebuah rencana proyek paling ekor atau lampiran, tetapi justru menjadi terdepan ketika pintu perpustakaan terkunci berbulan-bulan.

iPusnas berada di tengah perayaan transformasi ekonomi digital yang berlangsung cepat. Bayangkan, valuasi sektor ekonomi digital hingga 2025 dikalkulasi mencapai 2 ribu triliun rupiah.

Menggiurkan, bukan? Tapi, di mana perpustakaan dalam deret angka ribuan triliun itu. Nyaris tidak ada.

Hanya iPusnas yang klop dengan format ruang virtual masa depan yang di pengujung tahun ini menjadi perbincangan paling hangat. Yakni, metaverse.

Meta bukan sekadar nama, melainkan model kehidupan baru. Dari sisi bahasa, metaverse adalah melampaui (meta, beyond) semesta (universe). Istilah ini –sebagaimana cyberspace– disumbang tradisi literasi. Lebih tepatnya, sastra.

Metaverse kali pertama hidup dalam fiksi sains Neal Stephenson pada 1992, Snow Crash. Dalam fiksi itu, tercipta sosok avatar yang berinteraksi dengan sesuatu yang nyata dalam ruang virtual tiga dimensi. ”Khayalan” Stephenson ini, oleh para visioner pembangun infrastruktur virtual dalam perusahaan internet raksasa seperti Facebook, dianggap berkontribusi besar bagi keberlanjutan keajaiban di dunia internet.

Dalam jagat metaverse, yang fisik dan digital hadir bersamaan. Di ruang metaverse itu, sang avatar berinteraksi sedemikian rupa dalam rutinitas, rapat-rapat di kantor, nongkrong di perpus dan nge-gym, traveling, nonton konser, maupun belanja sayur di pasar.

Demi masa depan yang diyakini PASTI terjadi itu, Facebook merogoh kas sangat dalam yang pastinya menggerus laba perusahaan. Tapi, itulah pertaruhan dari sebuah keyakinan.

Lihat, saat orang berlomba-lomba menggelontorkan dananya untuk infrastruktur virtual, perpustakaan masih dengan paradigma lama, tapi sesungguhnya salah kaprah.

Misal, siapa garda terdepan kerja literasi di Indonesia? Tidak ada pustakawan yang bertungkus lumus menggotong buku dari pulau ke pulau, memindahkan buku dari rumah ke rumah penduduk. Yang memberikan literasi spiritual di mimbar-mimbar Jumat juga bukan pustakawan, melainkan mubalig.

Museum dan Hotel

Sebagaimana dunia memasuki gerbang virtual, perpustakaan mestinya bersiap. Dimulai dari perubahan paradigma berpikir yang diejawantahkan ke pembangunan infrastruktur virtual secara besar-besaran.

Perpustakaan yang sudah ada mulai secara perlahan-lahan dialihfungsikan. Saya usulkan dua.

Pertama, dari perpustakaan ke museum. Buku adalah benda museum. Menjadi artefak ide. Karena dipandang sebagai museum, perpustakaan mengubah cara pandangnya selaiknya seperti museum melihat ”tamu”. Sekadar datang untuk melihat sekadarnya dan pulang membawa kesan-kesannya. Perpustakaan bukan lagi tempat membaca di mana kita suntuk memahami dunia di dalamnya.

Sejatinya, ini bukan usulan baru. Toh, perpustakaan yang kita kenal dengan PNRI saat ini mulanya merupakan pembelahan diri dari Museum Gajah (Museum Nasional RI). Kembalikan itu ke habitatnya semula.

Kedua, dari perpustakaan ke hotel. Di koran ini pada 26 Oktober 2008, saya mengusulkan Hotel Atlantic yang berada di depan kompleks ”Perpusnas Lama” di Salemba, Jakarta Pusat, sebagai percobaan. Kini, setelah Perpusnas pindah ke ring satu, Medan Merdeka Selatan, kompleks yang kini tampak wingit itu bisa disulap menjadi Library Hotel (LH).

LH bukan perhotelan yang ada sudut bacanya. Perpustakaan dan hotel berada dalam satu konsepsi. Lantai-lantai hotelnya bisa diberi nama berdasar Dewey System. Kamar-kamarnya mengambil nama-nama penulis penyumbang gagasan besar keindonesiaan. Isi kamarnya adalah buku-buku terpilih.

Di Indonesia maupun di Asia Tenggara, hotel jenis ini belum ada. Di New York ada satu. Namanya Library Hotel yang beralamat 299 Madison Avenue. Tidak jauh dari NY Public Library. Kala Jakarta terpilih sebagai ”Kota Literasi”, apa tidak sebaiknya memiliki pula hotel khusus di mana para tamu literasi internasional menginap dan menikmati panorama literasi Indonesia yang katanya ini katanya itu.

Konsekuensi dari usulan itu dari segi nomenklatur adalah perpustakaan mulai menarik satu kakinya dari Kementerian Pendidikan (virtual library). Perpustakaan tetap berdiri sebagai bagian tak terpisahkan dari dunia pendidikan. Artinya, ia dibutuhkan (calon) kaum terpelajar untuk menyelesaikan problem gagasan yang disimulasikan dalam berbagai tugas dalam kelas.

Tapi, satu kaki lagi mesti diletakkan di Kementerian Pariwisata karena gedung-gedungnya yang beralih fungsi sebagai museum, wahana bermain (ruang virtual), dan hotel yang masuk dalam peta kunjungan wisata publik. Sebut saja wisata literasi.

Demikianlah, perpustakaan mesti tahu menempatkan diri bahwa mereka tidak boleh melawan arus informasi yang tersaji di internet; mereka bagian yang tak terpisahkan dari arus zaman agar tak sekadar ”proyek” menghabiskan anggaran tiap tahun dengan dalih frasa konstitusi: mencerdaskan kehidupan bangsa. (*)

---

MUHIDIN M. DAHLAN, Pendiri @radiobuku dan @warungarsip

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore