
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Sebagai seorang penulis, sering saya memperoleh pertanyaan, ”Apakah sebuah teks bisa mengubah dunia?” Jawabannya bisa, meskipun sebesar apa, tentu berbeda-beda. Setidaknya bisa mengubah pikiran atau isi hati seseorang, bukan?
---
MESKIPUN begitu, jika saya harus menunjuk satu teks yang benar-benar berhasil mengubah dunia secara nyata, saya bisa menyebutkan salah satunya. Terutama di bulan Agustus ini, di usia republik yang menurut ukuran manusia harusnya sudah tua: naskah Proklamasi.
Hanya beberapa baris sebenarnya teks tersebut. Isi badan utamanya juga hanya terdiri atas dua kalimat.
Teks itu menyatakan sesuatu yang tak ada sebelumnya menjadi ada: sebuah bangsa bernama Indonesia. Teks yang sama membuat bangsa yang baru disebutkan itu melompat dari keadaan terjajah menuju alam kemerdekaannya. Dua hal ini bahkan hanya perlu disebut dalam satu tarikan napas di kalimat pertama.
Tentu saja segala perubahan dan penciptaan sebuah bangsa yang disebabkan teks tersebut tak terjadi dengan serta-merta. Tapi, kita bisa merasa yakin, segala perjuangan bersenjata maupun diplomasi yang terjadi di hari-hari kemudian, semuanya digerakkan oleh baris-baris teks tersebut.
Pada saat yang sama, kita bisa juga bertanya, apakah teks yang sama bisa menghasilkan perubahan dahsyat macam itu jika dituliskan satu abad sebelumnya? Atau ditulis dan dibacakan orang berbeda dan di kota yang berbeda pula?
Tepat tanggal 17 Agustus nanti, kita akan mendengar naskah itu dibacakan kembali. Bisa di tengah upacara bendera, di sekolah atau di kantor pemerintah, bisa pula kita dengar di televisi atau radio. Apakah maknanya akan sama seperti ketika itu dibacakan kali pertama?
Kenapa kita memperingati hari itu? Kenapa kita membacakan atau mendengar teks tersebut di hari yang sama setiap tahun? Kenapa malah seperti lampiran di sebuah tanggal pada kalender, seperti barang museum.
Museum! Ada satu cerita pendek Asrul Sani yang kebetulan berjudul ”Museum”, tentang kunjungan seorang pegawai negeri dari kota kecil, mengunjungi ibu kota memanfaatkan waktu cutinya, dan terseret-seret ke museum.
”Museum adalah suatu balai yang ganjil. Ia berisi benda-benda yang jika dilihat dari kacamata kita orang yang hidup ini, benda-benda itu seolah-olah ada karena suatu salah sangka,” demikian kata pemandu yang membawa si pegawai.
Bayangkan bahwa segala hal yang mengingatkan kita kepada keberadaan Indonesia adalah barang-barang museum. Museum itu bisa saja berada di kepala kita, dan isinya: bendera pusaka yang dijahit Ibu Fatmawati, paspor berwarna hijau dengan gambar burung garuda, hewan reptil bernama komodo, atau medali emas Olimpiade yang diperoleh Susy Susanti dan Alan Budikusuma.
Anda bisa menambahkan barang-barang lainnya seperti merek mi instan atau rokok, yang selalu Anda bawa pergi ke luar negeri, sebab keduanya akan membuat Anda mengingat tanah air. Setidaknya di mulut dan perut.
Benarkah itu semua ”Indonesia”? Atau sebetulnya, seperti kutipan cerpen di atas, kita salah sangka belaka? Sebagaimana membacakan teks Proklamasi setiap tahun, kita pikir bangsa ini terlahir kembali. Bukankah itu bayangan konyol, sebuah salah sangka?
Apakah dengan mendengarkan teks Proklamasi, saya sendiri masih sering terharu mendengarnya meski melalui siaran langsung televisi, kita dimerdekakan kembali? Lagi-lagi, seperti barang di museum, itu salah sangka.
Kita bahkan tak tahu persis sedang terjajah oleh apa, atau kita bisa tak bersepakat satu sama lain. Ada yang berpikir kita sedang dijajah negara asing oleh utang, teknologi, kuasa ekonomi. Ada juga yang berpikir kita dijajah dogma agama dan kebodohan. Apakah teks Proklamasi bisa membebaskan kita dari itu semua?
Kembali kepada kekuatan sebuah teks: saya bisa yakin bahwa kekuatan teks Proklamasi tidak semata-mata ada pada dirinya. Yang utama, itu lahir dari berbagai hal yang justru melahirkannya. Ada perlawanan dan upaya pembebasan, ada imajinasi tentang nama Indonesia, ada sebuah bahasa yang mempersatukan.
Teks Proklamasi merupakan empasan ombak dari gelombang beragam teks-teks lain yang telah diciptakan sebelumnya. Mereka datang bergulung-gulung. Ia memang menghantam keras, tapi itu hanya bisa terjadi karena ada dorongan yang juga kencang.
Yang sering terjadi seperti ketika kita mengunjungi museum, kita tercerabut dari gelombang-gelombang yang menghasilkan hantaman tersebut, sebab kita berhadapan dengan benda-benda mati.
Memang, museum merupakan tempat untuk membekukan segala yang bergerak. Sebagaimana perpustakaan, ruang arsip, rekaman, seremoni, upacara. Yang kita butuhkan adalah bagaimana menghidupkan segala yang mati itu.
Bangsa ini memerlukan kembali imajinasi baru, cita-cita agung bersama. Sesuatu yang akan memunculkan riak, membesar, menciptakan ombak bergulung-gulung, hingga di satu waktu ia mewujud menjadi ”teks” yang menghantam serupa 76 tahun lalu.
Sayang sekali saya belum melihatnya. Terutama di hadapan politisi yang miskin imajinasi, yang cuma bisa pasang baliho dengan foto superbesar. Dipikirnya foto mereka bisa mengubah dunia? (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
