Logo JawaPos
Author avatar - Image
09 Maret 2025, 23.53 WIB

Kebudayaan Kolektor

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

”Sejak kecil saya memang menyukai lukisan, dan sejak SMA sudah menjadi kolektor. Lukisan yang saya sukai adalah yang naturalis dan realis, karena indah untuk dinikmati. Tapi jangan tanya berapa koleksi saya, ya.”

Siti Hediati Hariyadi, mantan istri Presiden Prabowo Subianto, Tiras, September 1996

SECARA umum, ke mana arah kebudayaan kita hingga satu dekade ke depan? Jawabannya mudah saja: lihat siapa agensi dan kenali di mana selera utama kaum yang memimpin dan mengatur (politik anggaran) kebudayaan.

Duet kepemimpinan Fadli Zon (menteri kebudayaan) dan Hashim Djojohadikusumo (ketua Dewan Penyantun Museum dan Cagar Budaya) mengindikasikan ke arah kebudayaan (kaum) kolektor.

Kebudayaan kaum kolektor atau sebut saja kebudayaan kolektor merujuk pada para pengumpul benda-benda masa lalu. Mereka bukan sekadar mengumpulkan dengan motif semata lantaran kecintaan pada benda itu sendiri, melainkan karena tahu nilai yang terkandung dalam benda tersebut. Nilai itu bisa berupa harga maupun posisinya dalam lanskap narasi kebudayaan.

Museum adalah simbol utama dalam kebudayaan kolektor. Safari kali pertama menteri kebudayaan dengan mengunjungi museum menjadi peluit dimulainya kebudayaan kolektor.

Bahkan, setelah membuka perhelatan #SeabadPram di Blora, Menteri Fadli bergeser menyambangi salah satu museum purba paling monumental di Asia di Sragen, Museum Sangiran.

Di museumlah, koleksi (benda) kebudayaan terjaga. Terjaga nilai historisnya, terjaga nilai edukasinya, terjaga nilai ekonominya. Di museum pulalah sebuah negara memasrahkan keamanan tertinggi dari benda yang bernilai tinggi itu.

Peradaban bangsa, dalam kebudayaan kolektor, sekali lagi, ada di museum. Hidup dan berjalan dari satu pintu museum ke pintu museum lainnya adalah jejak kita menghikmati apa yang disebut dengan kebudayaan kolektor.

Museum itu adalah ruang. Dan, hanya museum yang dikelola negara dengan fasilitas (dana, daya, aman) yang maksimum yang biasanya bertahan dari masa ke masa.

Berbeda sama sekali dengan institusi swasta maupun pribadi yang memang berangkat dari hasrat individual. Mungkin bisa diwariskan dalam keluarga, tetapi biasanya tak bertahan lama dengan berbagai alasan.

Kegairahan

Tetapi, justru keterlibatan dari institusi swasta dan pribadi inilah yang membuat kebudayaan kolektor hidup dan berdegup.

Tanyalah konglo Hashim dan Menteri Fadli, bagaimana menantangnya, bagaimana bergemuruhnya hasrat memburu sebuah benda yang disukai, baik itu buku, keris, kaset, kain, maupun benda purbakala.

Tanyalah Joseph Solaiman atau akrab disapa Om Jo. Kolektor lukisan sebelum nama Hong Djin masyhur ini mendapatkan julukan ”Pak Katrol” karena jasanya menaikkan harga-harga lukisan Sudjojono maupun Affandi yang sebelumnya sudah dikerek Bung Karno lewat politik patronase. Paus kolektor ini pula yang membuat Kemang, Jakarta, menjadi lain narasinya lantaran kehadiran Galeri Santi yang kerap menyelenggarakan pameran koleksi dan berjejaring dengan para kolektor lukisan di planet bumi ini.

Atau, dalam dunia koleksi buku tua, kita mesti menyebut individu dari Bandung bernama Harry Haryoto Kunto. Entah bagaimana cerita sarjana planologi ITB mengoleksi semua buku tua ihwal Bandung yang kemudian sebuah predikat melekat pada dirinya: kuncen Bandung. Lebih kurang ada 30 ribu buku koleksi Kang Harry yang didapatkan dari para pedagang bekas di Cikapundung. Umumnya, koleksi itu soal Bandung.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore