ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
Waktu ku kecil aku tak tahu yang mungil mungil Kusentil-sentil kukira pentil gak tahunya pensil
Waktu ku tolol aku gak tahu yang nongol-nongol
Kusenggol-senggol kukira botol gak tahunya pestol
Tembak tembak dor dor dor dor
Tembak tembak
Tembak tembak dor dor dor dor
Tembak tembak
LIRIK lagu di atas belakangan sedang viral. Lagu berjudul Waktu Ku Kecil itu sejatinya karya grup musik Knalpot Band. Menjadi viral saat dibawakan oleh ibu-ibu di kondangan. Coba baca setiap komentar yang menyertai lagu itu di media sosial Anda. Pasti hampir semua merasa ”terteror”. Lagu itu terus berdengung, berbunyi, dan berputar di otak walau tidak lagi didengarkan secara langsung. Dalam dunia musik, hal ini disebut sebagai earworm. Fenomena earworm adalah sesuatu yang menarik sekaligus membingungkan banyak orang.
Lagu Waktu Ku Kecil memiliki karakteristik yang membuatnya sangat ”mudah terjebak” dalam benak pendengarnya. Dengan remix ulang bernuansa dangdut dan melodi serta vokal berulang, lagu ini memberikan pengalaman musikal sulit dilupakan. Namun, justru hal inilah yang menjadi alasan sebagian orang merasa ”terteror” (dalam tanda petik). Fenomena ini tidak hanya terjadi pada Waktu Ku Kecil, jauh sebelumnya juga pada lagu-lagu populer lain, sebut saja Tak Gendong ke Mana-Mana dari Mbah Surip atau Hancur Hatiku dari Olga Syahputra. Fenomena earworm menjadi lebih menarik karena sifatnya yang involunter atau tidak disengaja. Lagu Waktu Ku Kecil mampu masuk ke pikiran seseorang hanya dengan mendengar beberapa detik awalnya. Sekali seseorang mendengar lagu tersebut, sulit baginya menghilangkan melodi itu dari kepala. Secara psikologis, earworm terjadi karena kombinasi melodi, ritme berulang, dan struktur musik sederhana. Lagu Waktu Ku Kecil saya kira dirancang dengan elemen-elemen itu. Membuatnya sangat mudah diingat.
Earworm bukanlah fenomena baru, tetapi dengan munculnya lagu-lagu seperti Waktu Ku Kecil, efeknya kini menjadi semakin relevan. Popularitas lagu ini telah menimbulkan diskusi tentang bagaimana musik memengaruhi otak. Di satu sisi, musik dapat memberikan rasa nyaman. Di sisi lain, ketika musik ”menguasai” pikiran seseorang tanpa kendali, hal ini dapat menjadi persoalan tersendiri. Di Korea, gejala serupa juga terjadi pada lagu APT, hasil kolaborasi Rose BLACKPINK dan Bruno Mars. Dirilis pada 18 Oktober 2024. Lagu ini pada 17 Desember 2024 memecahkan rekor dengan 600 juta penayangan di YouTube. Tetapi, sebagaimana diberitakan CNN (3/11/2024), gejala earworm pada lagu APT menjadi ”momok” bagi pelajar Korea Selatan (dan juga Malaysia) yang tengah mempersiapkan ujian kemampuan skolastik perguruan tinggi (CSAT). Para pelajar secara tidak sadar terus menyanyikan lagu itu (beberapa di antaranya sambil berjoget). Karenanya, di kedua negara itu, kini lagu APT dilarang diputar.
Tak Disengaja
Berdasar penelitian Geffen (2024), fenomena earworm dipicu oleh struktur musik yang memiliki kombinasi antara melodi sederhana, tempo cepat, struktur musik pendek, dan ritme berulang. Elemen-elemen tersebut merangsang pusat memori otak, memungkinkan lagu untuk tersimpan dengan mudah dan bertahan lama dalam pikiran pendengar. Hal ini menjelaskan mengapa lagu seperti Waktu Ku Kecil dapat terus muncul dalam pikiran, tak terkontrol, meskipun pendengarnya tidak sedang mendengarkan lagu tersebut secara langsung. Dalam aspek neurologis, earworm dikaitkan dengan aktivitas otak yang berhubungan dengan memori asosiatif dan emosi. Studi Moseley et al (2018) menunjukkan bahwa melodi dengan pola pengulangan tertentu lebih cenderung menciptakan pengalaman ini. Karena otak manusia secara alami tertarik pada pola dan pengulangan. Waktu Ku Kecil dirancang untuk menarik perhatian melalui struktur musikal yang mudah dikenali. Melodi yang terus mengulang dalam pikiran dapat menjadi pengalaman menyenangkan atau sebaliknya: mengganggu (sebagaimana kasus pada pelajar di Korea Selatan).
Dari perspektif perilaku, earworm dapat memberikan persoalan dalam hal fokus dan konsentrasi. Penelitian terbaru oleh Lees dan Lawson (2024) berjudul Earworms—A Narrative Review of Infectious Music menemukan bahwa melodi yang terus berulang juga dapat menciptakan gangguan dalam kognisi seseorang. Ketika lagu tertentu terus muncul dalam pikiran, kemampuan untuk berkonsentrasi pada tugas lain menjadi terganggu. Namun, fenomena earworm tidak selalu membawa dampak negatif. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa earworm dapat memberikan manfaat emosional dalam kondisi lebih santai. Arthur C. (2023) menemukan bahwa earworm, meskipun mengganggu bagi sebagian orang, dapat meningkatkan suasana hati atau menjadi sumber hiburan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks lagu seperti Waktu Ku Kecil, pendengar dapat menikmati pengalaman ini sebagai bagian dari keterlibatan emosional dengan musik.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
