Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 21 September 2024 | 20.07 WIB

Islamic Arts Biennale, Biennale Akbar di Awal Tahun

KONSEPTOR: Dari kiri, Amin Jaffer, Julian Raby, Muhammad Shono, dan Abdul Rahman Azzam. (Dokumentasi Diriyah Arts Biennale Foundation) - Image

KONSEPTOR: Dari kiri, Amin Jaffer, Julian Raby, Muhammad Shono, dan Abdul Rahman Azzam. (Dokumentasi Diriyah Arts Biennale Foundation)

Di tengah maraknya penyelenggaraan biennale (pameran seni rupa dua tahunan) di seluruh penjuru dunia, biennale Islam kedua di Arab Saudi tentu merupakan sesuatu yang sangat istimewa.

DIKENAL dengan istilah Islamic Arts Biennale (IAB), tim direktur artistik dipimpin Abdulrahman Azzam (penulis, sejarawan, dan advisor untuk Al-Madar 2023), Julian Raby (mantan direktur National Museum of Asian Art di Smithsonian Museum), Amin Jaffar (kurator senior dari koleksi Al-Thani di UK yang karya akademik dan kuratorialnya berfokus pada pertemuan budaya-budaya Eropa dan Asia), serta perupa Muhannad Shono (seorang artis yang menggali spiritualitas dengan peran imajinasi sebagai kurator kontemporer). IAB edisi kedua akan digelar pada permulaan tahun 2025, (25 Januari–25 Mei).

Tim di atas juga didukung sekitar sepuluh pakar lain dari dalam dan luar negeri. Mereka berlatar belakang penulis, scholar, dan/atau konsultan. Seperti Masa Al Kutaubi, Rizwan Ahmad, Heather Eckhar, Marika Sardar, Joanna Chevalier, Amina Diab, Sarah Al Abdali, Bilal Badat, Faye Behbehani, dan Wen Wen.

Diadakan oleh Diriyah Arts Biennale Foundation yang juga sukses mengadakan biennale Islam periode 2023–2024, IAB tahun depan akan mengambil tempat di Western Hajj Terminal, Airport King Abdulaziz, Jeddah. IAB akan memakai lahan seluas 110 ribu meter persegi. Dan khusus ruang pameran akan dilangsungkan pada ruang seluas 1.200 meter persegi.

Dengan kondisi itu, IAB menjadi sebuah biennale raksasa. Dan tentu saja IAB mengandung makna mendalam. Jutaan umat Islam akan melewati lokasi IAB. Baik untuk berhaji maupun melakukan umrah.

Memang maksud utama IAB yang berlokasi bandara untuk menggali dan memamerkan seni Islam masa silam yang kaya dan belum pernah diapresiasi secara utuh. Konon hal itu akan disandarkan dengan seni rupa kontemporer. Kesemuanya bisa dinikmati di lima buah galeri yang mengangkat keistimewaan. Baik craft maupun bentuk seni rupa Islami yang lain.

Berbagai institusi yang memiliki koleksi seni Islam diikutkan. Baik institusi lokal maupun internasional. Termasuk tiga institusi penting di Indonesia yang ada di Jakarta, Jogjakarta, dan Lombok.

Pada biennale Islam 2023–2024 yang diadakan di Diriyah, Indonesia diwakili perupa perempuan Citra Sasmita dari Bali. Karya Citra yang commissioned waktu itu menjelajahi koneksi seni asal Bali yang mayoritas beragama Hindu dengan budaya Islam. Karya-karya Citra Sasmita masuk sebagai enam karya yang paling mengesankan. Satu hal yang membanggakan mengingat ada 170 karya yang dipamerkan dari 92 perupa, dari 43 negara.

Konsep karya Citra memang sangat sesuai dengan tujuan biennale Islam di Diriyah yang mementingkan revitalisasi dan pembaruan negeri serta dunia yang melaju teramat cepat.

IAB yang akan datang secara global mungkin tidak berbeda, namun secara khusus seni rupa dan budaya Islam masa klasik disandarkan dengan seni rupa masa kini. Dalam hal ini, IAB kedua juga meng-highlight arsitek yang menganggap arsitektur sebagai ekspresi seni yang sah. Maka dari itu, sebuah kompetisi telah diciptakan untuk mendesain sebuah musala yang sesuai zaman. Pemenang dari Architectural Award itu akan diumumkan pada pembukaan biennale tahun depan.

Di Indonesia, Masjid Said Kaum yang diciptakan arsitek kebanggaan Indonesia Adhi Moersid (1937–2019) pernah dianugerahi Aga Khan Award for Architecture pada tahun 1986. Masjid seluas 400 meter persegi di tengah permukiman padat penduduk di daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang dikelilingi ruang terbuka hijau dinilai memberi dampak positif bagi masyarakat sekitar. Dianggap berhasil membuktikan upaya nyata arsitektur modern Indonesia untuk merangkul kembali nilai-nilai spasial lokal.

Keistimewaan Masjid Said Kaum adalah bahwa sang arsitek mendalami filosofi Jawa yang istilah konsepnya adalah ”kagunan”. Dan diwujudkan dengan desain yang mengakar pada budaya setempat serta disesuaikan pada iklim setempat pula, yang berarti iklim tropis Indonesia. Akan menjadi menarik untuk diketahui pemikiran dan desain arsitektur untuk musala yang dikompetisikan untuk pembukaan IAB nanti.

Dengan terlibatnya sekian banyak pakar dan institusi serta ribuan karya dan artefak yang berkumpul dan tentu saling bertemu (atau malah berbenturan?), menjadi menarik sekali apabila IAB ini akan menghasilkan pemikiran dan kenyataan baru, kreatif, serta inovatif mengenai budaya dan karya Islam yang akan memperkaya khazanah budaya dunia.

Diharapkan akan menyusul banyak diskusi antara pakar maupun peserta ataupun pengamat dan pemirsa dunia. Semoga dari IAB mendatang akan lahir visi serta konsep aktual yang dapat diwujudkan dengan dukungan semua pihak. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore