
Pertunjukan (Dokumentasi Tubaba Art Festival)
Oleh SELVI AGNESIA
---
Seniman residensi dari Asia dan Amerika berkolaborasi dengan seniman Indonesia. Narasi Gunung Krakatau diolah sebagai bahan karya tari hingga menjelma sajian pertunjukan yang segar di Tubaba Art Festival #8.
SETELAH melewati perjalanan dua jam dengan mobil dan tiga jam dengan perahu dari Tulang Bawang Barat, Lampung, Kitamari, koreografer asal Jepang, dibuat takjub di hadapan Krakatau. Ia merasa terkejut sekaligus tercengang. Berbeda dengan Gunung Fuji yang menjadi simbol keindahan Jepang, Krakatau baginya adalah tempat antah-berantah yang mistis, bukan tujuan wisata utama, gunung yang tidak ada apa pun, tidak berpenghuni, seolah mati suri. Tetapi baginya, gunung ini selalu hidup, selalu terhubung dengan dunia luar dan selalu lahir kembali.
”Keberadaan saya sebagai manusia menjadi terlihat kecil oleh alam (Krakatau). Seluruh tubuh merasakan sensasi pengaruh darinya. Merasa kecil ketika berada di hadapan alam merupakan kesan pertama untuk saya,” ungkap Kitamari yang juga murid dari penari butoh dunia, Masami Yurabe.
Pengalaman istimewa serupa juga dirasakan seniman residensi lain dari China, Thailand, Amerika, dan seniman lokal dari Indonesia. Sepulang dari kunjungan dan riset singkat ini, mereka berproses bersama, mencoba menafsirkan Krakatau dengan mengolah narasi pengetahuan tidak semata sebagai sejarah bencana, namun merujuk pada tema Tubaba Art Festival Self and Space: Festivity From Kitchen yang diselenggarakan 1–3 Agustus 2024, karya ini menjadikan tubuh Krakatau ”dapur magma” sebagai bahan produksi karya kolaborasi bersama.
Merujuk pada catatan dramaturgi pertunjukan dari Taufik Darwis sebagai dramaturg pertunjukan, sejarah letusan Gunung Krakatau yang mengguncang dunia dimulai ketika Gunung Krakatau purba meletus pada tahun 535 M dan berdampak pada hilangnya peradaban Pasemah Lampung serta Salakanagara Banten selama beberapa dekade. Letusan kataklismik kedua pada tahun 1883. Letusan tersebut memicu perhatian global terhadap bencana alam dan juga turut mengubah dinamika gerak seni di dunia.
Berpijak pada metafora tubuh Krakatau yang terus mencari bentuk dan menata ulang dirinya beralih menjadi kata kunci Krakatau sebagai ledakan (boom), mudik (sejarah, leluhur), dan siklus kekacauan, setelah satu bulan proses pengolahan ide dan latihan tubuh yang intens, karya kolaborasi ini terwujud pada pertunjukan tari ”Krakatoa: Boom; Homecoming; Cycle Chaos” pada 2 Agustus di Hutan Las Sengok, Tiyuh (Desa) Karta, dalam perhelatan Tubaba Art Festival #8.
Pertunjukan ini merupakan showcase seniman residen berkolaborasi dengan seniman Indonesia, di antaranya: kelompok Sanggar Pakem dari Tubaba, koreografer: Kitamari (Jepang), Wendi Wu (China), Tassakorn Seepuan (Thailand), dan Isvhara Devati (Indonesia), musik: Kurt D. Petterson (Amerika Serikat), Lawe Samagaha, Edhitya Rio, Widi Asari bersama dramaturgi Taufik Darwis.
Narasi katastropik Krakatau diwujudkan melalui koreografi gerak sembilan penari dengan simbol gerak yang sublim, juga sesekali meneror. Berawal dari lorong labirin, penonton menyaksikan tubuh-tubuh itu telentang tak berdaya, perlahan mereka bangkit. Lima penari berjalan maju sembari menggotong tubuh temannya, penari lain berjalan mundur sembari jongkok. Ketika melewati labirin, tubuh-tubuh itu semakin intens bergerak menerobos penonton nakal yang sibuk memotret. Mereka memasuki Hutan Las Sengok, menari di antara batu, pohon, berguling di atas rumput dan tanaman putri malu yang katanya membuat kulit perih, selain gigitan nyamuk hutan. Namun, mereka merasa nyaris trans ketika menari dengan alam di bawah matahari yang berangsur terbenam.
Pada karya ini terasa pantulan refleksi antara tubuh penari dan tubuh Krakatau. Mereka meniru entakan sayap burung, juga tubuh yang bergetar serupa serangga kepik merah di Krakatau. Terasa ada gejolak, ledakan, kehancuran (manusia) dan alam, lalu tumbuh menjadi bentuk yang baru secara terus-menerus. Pertunjukan ini merespons fenomena generatif Krakatau sebagai satu simbol yang merepresentasikan hubungan Lampung dengan dunia. Tidak sekadar dipahami sebatas lokasi, melampaui itu, Krakatau adalah spirit yang terus tumbuh.
”Krakatau tidak sekadar memiliki narasi tentang kekacauan yang diakibatkan oleh bencana. Krakatau juga dapat menjadi sumber pengetahuan regeneratif bagi masa depan dunia,” ungkap Taufik Darwis, sebagai dramaturg pertunjukan.
Begitu pun dengan Tubaba Art Festival yang penyelenggaraannya terus berlanjut dengan konsep acara yang terus berkembang hingga tahun ke-8 dan dikunjungi rata-rata 3.000 penonton. Setiap tahun penonton dari luar Lampung berdatangan, seiring dengan regenerasi pelaku seni dari anak-anak muda bimbingan Sekolah Seni Tubaba.
Tidak hanya pertunjukan tari kolaborasi dan program residensi, festival ini juga menyajikan: pameran seni rupa ”kitchen” dan pameran seni rupa solidaritas ”Palestine Art Care” sebagai respons Tubaba untuk kemanusiaan, pameran keramik Tanoh Nughik, pertunjukan teater anak ”Pulang ke dapur ibu”, pertunjukan musik dari Sekolah Seni Tubaba berkolaborasi dengan musisi Panji Sakti dan berbagai macam workshop puisi, anyaman tikew, jurnalisme seni, keramik.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
