Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 1 September 2024 | 17.26 WIB

Melihat dan Membahasakan Ulang Revolusi Indonesia

Cover buku. - Image

Cover buku.

Oleh WAHYU HARJANTO, Peneliti di Mindset Institute Jogjakarta, alumnus Jurusan Sejarah FIB Universitas Gadjah Mada

---

Buku ini masih meletakkan ketegangan sebagai pusat dan suspens sebagian besar tulisan. Padahal, petani masih tetap menanam padi di sawah, pengasong dan wong mbarang (pengamen) terus beraksi di jalan-jalan kota selama masa revolusi.

PERSPEKTIF atau sudut pandang adalah persoalan klasik dalam metodologi umumnya dan historiografi atau sejarah penulisan sejarah Indonesia khususnya. Ia merupakan instrumen pokok para sejarawan dalam memahami dan memaknai realitas atau permasalahan tertentu, dan dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Mohammad Ali adalah sejarawan pertama Indonesia yang mengikhtiarkan adanya perspektif yang menurutnya ”khas Indonesia” dalam rekonstruksi sejarah Indonesia. Sebuah sudut pandang yang menurutnya akan mewakili tidak saja perasaan, tetapi juga kepentingan Indonesia dalam melihat dan menarasikan ulang pengalamannya yang terjadi di masa lalu.

Dari Nerlandosentris ke Indonesiasentris

Lewat buku Pengantar Ilmu Sedjarah Indonesia (1963), Ali dengan tegas menolak sejarah Indonesia yang ditulis ”dari atas geladak kapal Belanda”. Ia menolak historiografi Indonesia yang dibangun berdasar perspektif dan kepentingan kolonial (Nerlandosentris) sehingga lalu menawarkan perspektif Indonesiasentris dalam historiografi.

Pengembangan metodologi bercorak Indonesiasentris ini bagi Ali mendesak untuk dilakukan. Sebab, hanya dengan cara itu sejarah Indonesia bisa berada di pusat, tidak lagi di pinggir. Usulan Ali disambut hangat oleh kampus utama di Indonesia, seperti Universitas Indonesia (di bawah R. Mohammad Ali) dan Universitas Gadjah Mada (di bawah Sartono Kartodirdjo).

Alhasil, antara tahun 1970–1990 akhir adalah ”kurun emas” historiografi berperspektif Indonesiasentris. Karya-karya sejarah kampus hingga buku-buku ajar sejarah di sekolah menengah pertama-atas semuanya lalu ”berbau” Indonesiasentris.

Dari Indonesia ke Nasional

Pandangan esensialis Mohammad Ali dan Sartono Kartodirdjo tentang adanya realitas ”Indonesia” tersebut menjadi ciri utama historiografi Indonesia sepanjang 20 tahun itu. Celakanya, seiring perkembangan muncul keganjilan yang tak terduga. Penampilan sejarah Indonesia kemudian cenderung sangat politis, monolitik, dan elitis.

Hal itu terjadi ketika perspektif Indonesiasentris diadopsi dan dijabarkan sesuai kepentingan rezim Orba Soeharto. Politisasi sejarah lewat wacana nasionalisme tidak saja muncul sebagai warna dominan dalam historiografi, tetapi menjadi kaidah atau hukum (langue) yang akan memaksa orang yang berniat menata dan menarasikan ulang masa lalu Indonesia.

Rekonstruksi terhadap berbagai kejadian lain di masa lalu sebagaimana dilakukan oleh para peneliti sejarah atau sejarawan sekalipun mungkin memiliki nilai secara intelektual dan kesejarahan tidak bisa dilakukan di luar sistem bahasa dan tafsir Orba. Ruang lingkup kajian sejarah Indonesia dengan demikian menjadi sangat sempit dan terbatas.

Dari Nasional ke ”Pasca-Nasional”

Buku ini berangkat dari isu terakhir di atas. Ia merepresentasikan tarik-ulur sejarawan dalam melihat dan membahasakan revolusi Indonesia di tengah ”dunia” yang didominasi oleh perspektif politik militer. Poros kekuatan yang mendalilkan bahwa historiografi tentang revolusi harus menonjolkan semangat dan solidaritas perjuangan serta peran tentara.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore