Logo JawaPos
Author avatar - Image
25 Agustus 2024, 16.44 WIB

Dialah Vijay, tapi Dia Bukan Inspektur

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

SEORANG bapak melakukan apa pun demi membela anaknya. Ia mengelabui dunia, menyogok polisi, bahkan membunuh. Ia seorang tukang cukur biasa meskipun namanya Maharaja.

Demikian kira-kira sinopsis atas sinopsis kebanyakan akun film di media sosial Indonesia beberapa hari terakhir berkaitan film berjudul Maharaja (2024). Mereka sedang diharu biru oleh sejenis film India yang sepertinya belum pernah mereka lihat.

Kebanyakan mereka dipukau alurnya yang mengejutkan sehingga beberapa akun bahkan menyebut ’’Christopher Nolan pun sungkem”. Yang lain menyoroti keberhasilannya mencampur aksi brutal dengan isu yang tak gampangan, yang membuatnya terhindar menjadi John Wick yang lain.

Namun, di atas semuanya adalah soal ekspektasi. Penonton Indonesia yang tahu serba-sedikit tentang sinema India, itu pun biasanya dipenuhi stereotipe dan prasangka, tidak menyangka akan menemukan film macam Maharaja.

Mungkin di luar sana banyak yang bertanya: Bagaimana bisa industri film yang biasanya memproduksi joget-joget tidak jelas atau adegan-adegan kelahi yang mengingkari hukum gravitasi tiba-tiba menyajikan film dengan teknik naratif secanggih ini?

Tanpa bermaksud menggurui, saya pikir kita mulai perlu untuk tahu lebih banyak tentang sinema India Selatan. Lebih khusus lagi tentang Vijay Sethupathi.

***

Sejak mulai eksis pada 1918 hingga menjelang India merdeka, sinema India Selatan yang berpusat di Madras tak lebih sebagai tiruan pucat dari saudara tuanya di Bombay. Jika Bombay (kini jadi Mumbai) hanya memproduksi film berbahasa Hindi, Madras (kelak menjadi Chennai) membuat film setidaknya dalam empat bahasa, yaitu Tamil, Malayalam, Kannada, dan Telugu. Itulah mengapa hingga hari ini sinema Tamil masih sering dipertukarkan dengan sinema Selatan secara umum.

Setelah India merdeka (1947), menguatnya pengaruh Dravida Munnetra Kazhagam (DMK), partai lokal Tamil Nadu berideologi anti-Hindi dan antikasta, membentuk corak sinema produksi Madras secara umum. Politik mewarnai nyaris semua pusat sinema di India, termasuk di Bombay (yang lebih komersial) maupun di Kolkata (yang nyeni), tapi tak ada seperti yang terjadi di Tamil.

Film dan politik berkelindan sangat dekat di Tamil Nadu –silakan cek Theodore Baskaran atau Sara Dickey untuk tahu lebih lanjut. Kedekatannya dengan politik ini membuat ideologi dan nilai menjadi sajian yang tak disembunyikan di layar. Dan ini menjadi corak khas dari sinema yang mereka produksi, hingga sekarang.

Secara global, bukan hal ganjil seorang aktor atau bintang film menjadi politisi. Namun, tampaknya, hanya di Tamil Nadu kebanyakan bintang film akan mendirikan partai dan beberapa di antara mereka menjadi perdana menteri. Sebagai contoh, M.G. Ramachandran (MGR) dan Jayalalitha adalah pasangan layar lebar yang pernah memimpin Tamil Nadu tak kurang dari 24 tahun.

Industri film Asia Selatan kemudian pecah menjadi empat, yaitu di Chennai (ibu kota Tamil Nadu) untuk film berbahasa Tamil, di Hyderabad untuk sinema Telugu, di Bangalore untuk sinema Kannada, dan di Kochi untuk sinema Malayalam. Masing-masing mengembangkan corak berbeda, tapi politik tetap jadi bagian tak terpisahkan.

Hingga dua dekade lalu, secara umum sinema India Selatan merupakan feeder bagi sinema Hindi. Beberapa wajah paling cantik sekaligus paling ikonik dalam sejarah Bollywood semisal Hema Malini, Sridevi, dan Rekha mengawali kariernya dari sinema Tamil. Sementara itu, sutradara seperti Mani Ratnam dan Ram Gopal Verma, dan terutama komposer A.R. Rahman, mengubah Bollywood untuk seterusnya.

Migrasi barangkali akan terus terjadi, mengingat perputaran uang terbesar tetap di Bollywood. Namun, 10 tahun belakangan peta telah berubah. Setelah mengguncang box office India dengan Baahubali (2016), sinema Telugu kemudian mengguncang dunia dengan tampil (dan menang!) di Oscar lewat RRR (2022). Lebih minor secara eksposur, sinema Kannada mengikuti cara yang sama lewat film-film seperti seri K.G.F. (2018 dan 2022) dan Kantara (2022). Biasanya dengan bobot komentar sosial yang lebih kental.

Di ujung selatan, sinema Malayalam bangkit dari kanker nepotisme yang menggerogoti industrinya selama berdekade-dekade dengan film-film slice of live yang kuat secara cerita dan artsy secara sinema. Tengoklah Bangalore Days (2014) atau Kumbalangi Night (2019) dan rasakan perasaan senang yang memanjang setelahnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore