
ILUSTRASI. (BAGUS/JAWA POS)
Proklamasi (1945) sering dianggap perwujudan sejarah yang mengandung gairah memuliakan Indonesia. Di ingatan politik, sejarah itu terucap dan terdengar sebagai pekik: ”merdeka”. Soekarno mengajak orang-orang mengucap lantang ”merdeka”, pembuktian keberanian dan sadar risiko.
HALAMAN-halaman sejarah pun memiliki paragraf-paragraf sedih, murung, kecewa, dan dendam. Proklamasi tak melulu ”kemenangan”. Pada suatu hari, proklamasi itu sakit dan kematian.
”Siapa jang bisa mengatakan padaku hari kelahiran sesuatu jang kita perdjuangkan selama ini?” Kalimat diucapkan lelaki tua tergeletak di ranjang. Sosok yang menanggung sakit dan kecewa merujuk sejarah. Tubuh itu kurus. Ia biasa batuk berdarah. Hari-hari susah makan. Lelaki tua tetap menuntut jawab.
Kita sedang membaca Bukan Pasarmalam (1951) gubahan Pramoedya Ananta Toer. Cerita (terlalu) sedih, sejak awal sampai akhir. Jawaban diberikan putra kepada bapak saat sakit masih memikirkan Indonesia: ”Tudjuhbelas Agustus tahun seribu sembilanratus empatpuluh lima, Bapak?” Jawaban itu melegakan. Bapak ”tersenjum dan puas”. Ia membenarkan jawaban putra. Penerimaan atas jawaban sejarah: ”Dipegang-pegang dan dibelai-belai djanggut dan kumisnja dengan tangan kiri.” Kita berimajinasi melihat wajah keberanian meski sakit. Wajah itu berbeda dari Soekarno, Hatta, dan Sjahrir.
Bapak menanti hari terakhir. Sakit itu memberi siksa: memuat biografi dan gejolak sejarah. Di ranjang, ia memberi pengakuan tentang keputusan dan risiko menentukan biografi dalam keluarga keturunan ulama: ”Aku tak mau djadi ulama. Aku mau djadi nasionalis. Karena itu aku djadi guru. Membukakan pintu hati anak-anak untuk pergi ke taman patriotisme.” Pengakuan biografi sebelum tamat.
Kata-kata diucapkan mengandung kebenaran. Bapak terus mengatakan: ”Sungguh berat djadi seorang nasionalis. Karena itu aku memilih djadi guru. Djadi lembaga bangsa. Tapi aku rela djadi nasionalis. Aku rela djadi kurban semua ini.” Sosok menanggungkan TBC memberi kata-kata menuntut pemikiran berlatar sejarah Indonesia. Kita membaca cerita itu dituntun dalam sengketa ideologi, gejolak kelas, pemajuan pendidikan, dan kekuatan keluarga.
Pembaca belajar sejarah Indonesia. Kita ikut terharu saat membaca dampak dialami putra: ”Sekali ini aku tak bisa menahan hatiku lagi. Peganganku pada ajah kueratkan dan tersontaklah tangisku –seperti tangis anak-anak ketjil. Ajah terdiam oleh tangisan itu. Matanja jang berlingkar biru itu berkatja-katja menitikkan air. Perutnja terguntjang-guntjang. Aku menunduk mentjurahkan airmata itu.” Proklamasi itu menghasilkan sakit, tangisan, dan duka belum berujung.
Semua terjadi setelah 1945, agresi militer (Belanda), dan pemberontakan-pemberontakan. Indonesia babak belur tapi tetap tegak. Babak-babak sejarah tak selalu menghasilkan tepuk tangan dan teriak bahagia. Kita diajak mengenali sosok mendapatkan konsekuensi duka: sakit dan mati. Ia dianggap terkena ”TBC kilat” akibat politik di Indonesia.
Kesaksian diberikan tamu setelah penguburan bapak: ”… djatuh sakit oleh keketjewaan –ketjewa oleh keadaan jang terdjadi sesudah kemerdekaan tertjapai. Rasa-rasanja tak sanggup lagi ia melihat dunia sekelilingnja jang djadi bobrok itu –bobrok dengan segala akibatnja.” Dulu bapak itu guru dan turut dalam perjuangan. Ia menanggungkan derita dan hukuman. Pengorbanan diberikan agar Indonesia tetap mulia. Ia tak ikut berebutan kursi atau turut dalam kekuasaan.
Tamu itu mengatakan: ”Segala keketjewaan itu direndamnja sadja di dalam hatinja. Tapi, akibat jang sangat besar tak diduganja akan menimpa dirinja… Dua setengah bulan sakit, dan beliau terus pergi.” Anak-anak makin mengenali bapak. Kesaksian itu membuat mereka berhak bangga memiliki bapak berani menanggung risiko (besar) dalam sejarah Indonesia. Sosok tak bernafsu kekuasaan: ”… mengundurkan diri dari partai dan segala tetek-bengek agar bisa menghindari manusia-manusia badut pentjuri untung itu.”
Cerita gubahan Pram bukan materi pelajaran sejarah. Kita mengerti murid dan guru tak ada kewajiban membaca Bukan Pasarmalam setiap Agustus. Mereka telanjur mendapat sejarah ”ramai” dan kehilangan biografi sosok-sosok di luar arus kekuasaan berpusat di Jakarta. Proklamasi memang terus diperingati tanpa keharusan mengingat sakit dan kematian.
Pada situasi berbeda dan suguhan pengisahan beralamat lain, kita sejenak mampir dalam puisi berjudul ”Proklamasi” gubahan Subagio Sastrowardojo (1975). Puisi tak gamblang mengarahkan pembaca di arus sejarah. Ia mungkin menggunakan ”proklamasi” untuk sejenis pengumuman (penting) dan mengelak dari keramaian (tafsir) sejarah. Puisi dalam suasana hening: Ketapang yang bercumbuah dengan musim/ menjatuhkan daunnya di halaman candi/ Aku ingin jadi pohon ketapang yang tumbuh/ di muka gerbang berukiran huruf lam/ yang dijaga orang kidal.
”Proklamasi” bukan menghasilkan pekik, debat, dan batuk berdarah. Kita berada di candi: bangunan suci dan tua. Kita merasa melihat candi ingin ”mengabadi” dan ketulusan pohon mengerti batas usia. Di situ, kemenangan bukan keutamaan tapi keinsafan atas waktu dan penerimaan kodrat. Di candi dan pohon, sejarah itu keheningan dan daun jatuh tapi bukan kekalahan.
Kita masih memungut puisi-puisi. Di puisi berjudul ”Sukmaku Merdeka” berlatar Indonesia masa 1980-an, Wiji Thukul mengisahkan nasib manusia belum beruntung di Indonesia. Ia memilih diksi ”merdeka”, berbeda dari deru sejarah sejak 1945: waktu yang diisi keluh akan berisi keluh/ waktu yang berkeringat karena kerja akan melahirkan/ serdadu-serdadu kebijaksanaan/ biar perang meletus kapan saja/ itu bukan apa-apa/ masalah nomor satu adalah hari ini/ jangan mati sebelum dimampus takdir// sebelum malam mengucap malam/ sebelum kubur mengucap selamat datang/ aku mengucap selamat pagi kepada hidup yang jelata/ merdeka! Kita membaca pekik diucapkan jelata ”dikutuk” penderitaan dan kemiskinan di Indonesia. Begitu. (*)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
Dugaan Penipuan Lowongan Kerja Libatkan Eks Camat Pakal, DPRD Surabaya Desak Pengawasan ASN Diperketat
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi! Daftar Line Up Skuad Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di GBK
Heboh Isu Perselingkuhan Istri Ahmad Sahroni dengan Seorang Duda Drummer Band Tahun 90-an, Netizen: Ketahuan Mulu Mesra-mesraan di Publik
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
Harga LPG Non Subsidi Naik per 18 April 2026, Cek Daftar Harga Terbarunya!
9 Soto Legendaris di Bandung, Kuliner Murah Isian Melimpah tapi Rasa Juara
