Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Juni 2024, 00.35 WIB

Koboi Mereka, Pendekar Kita

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Saya sudah berkali-kali membaca buku kecil itu. Namun, pada pembacaan kesekian, saya bangkit dengan satu visi baru: sebuah cerita baru setengah jadi. Dari kisah-kisah koboi ala Borges, saya tiba-tiba melihat para pahlawan dari masa kecil saya dalam cara yang berbeda.

Nama Lazarus Morrel, Tom Castro, Billy Harigan, Monk Eastman, atau Francisco Real dari kumpulan Sejarah Aib (2005, terjemahan Arif B. Prasetyo) itu pertama-tama tentu saja membawa kepada kisah-kisah koboi standar Hollywood. Semacam Trilogi Dolar dari Sergio Leone atau kisah-kisah berdarah ala Sam Peckinpah. Khusus kisah Francisco Real, saat itu saya punya simpulan lugu: Oh, ada juga koboi di Argentina.

Lalu, saya menemukan apa yang biasa terlewat ketika kita menonton film koboi: konteks historis. Borges, seperti biasa, tidak sepenuhnya mengarang kisah-kisah itu, melainkan menyadurnya, lalu dengan sengaja mengelirukannya. Dalam kalimatnya sendiri: ”memalsukan dan menyelewengkan ... kisah-kisah karya orang lain.” Seperti kemudian dikenali sebagai khas Borges, ia menulis cerita saduran itu semirip mungkin dengan sumber-sumber yang disadurnya.

Kisah-kisah koboi yang melibatkan tempat yang nyata, angka tahun yang bisa dicek, juga irisannya dengan peristiwa-peristiwa besar, kemudian membuat saya mengingat para pahlawan masa kecil saya dari cerita-cerita ludruk: Ronggo Janur, Joko Sambang, Bambang Sutejo, Sakerah, hingga Sarip Tambakoso. Kisah-kisah mereka tersebar dari Gresik di utara hingga Malang di selatan. Dan mereka, konon, hidup antara akhir masa VOC hingga awal abad ke-20, dengan masa tanam paksa di paro akhir abad ke-19 sebagai era paling penting. Kebetulan yang menarik, karena masa itu pula yang banyak melahirkan kisah-kisah koboi.

Selain kesamaan era, mudah sekali memadankan para pendekar dengan koboi. Kuda adalah elemen penting bagi keduanya. Kemahiran menembak di sana adalah ketangkasan berkelahi atau memainkan senjata di sini. Dan tidakkah Anda familier saat mendengar cerita koboi yang berkali-kali lolos dari maut? Para pendekar kita tak hanya identik dengan ilmu kebal atau rawarontek, bahkan Sarip Tambakoso berkali-kali bangkit dari kematian hanya karena ibunya menginginkannya tetap hidup.

Di luar kuda, senjata, dan nyawa berlapis, ada persamaan yang lebih esensial di antara mereka: sama-sama di luar hukum, jika bukan sepenuhnya melawannya –meski yang disebut terakhir biasanya punya posisi moral yang lebih jelas karena konteks kolonialnya. Posisi melawan kekuasaan inilah yang membuat mereka populer di kalangan rakyat jelata.

Lalu, entah dari mana, muncullah pertanyaan itu: jika para koboi ada di prosanya Borges, lalu di manakah para pendekar dalam sastra kita?

***

Kata dan sosok pendekar, atau karakter yang mengacu pada ciri-ciri yang bisa dikenali sebagai pendekar, mestinya telah muncul sejak fiksi modern kita mulai ketemu bentuknya. Tapi, ini baru kira-kira sebab saya belum menemukan tilikan, entah akademik atau amatiran, yang bisa diacu.

Belum pernah baca, tapi saya rasa novel klasik Belanda ber-setting Jawa De Stille Kracht (1900) karya Louis Couperus sedikit memberikan gambaran. Berdasar ikhtisar Dick Hartoko (1979), De Stille Kracht (diterjemahkan Dick sebagai ”Kekuatan Gaib”) menggambarkan teror mistis yang dihadapi pejabat kolonial di sekitar Pasuruan setelah ia memecat seorang pejabat pribumi yang dianggapnya tak becus. Kesaktian, ilmu gaib, teluh, adalah hal-hal yang ditekankan sekaligus (tampak) dieksotiskan Couperus untuk menggambarkan Jawa masa itu.

Menyebut Pasuruan menjadi menarik karena, kurang lebih di era yang sama dengan setting novel Couperus, ia juga menjadi latar bagi kemunculan sosok-sosok jagoan yang kemudian direproduksi menjadi protagonis di cerita-cerita ludruk. Penindasan yang mengiringi pelaksanaan sistem tanam paksa, khususnya berkait perkebunan tebu dan industri gula, adalah alasan kemunculan mereka. Kisah-kisah mereka menjadi sangat populer berbarengan dengan kemunculan ludruk di akhir masa kolonial dan masa pendudukan Jepang karena dianggap sangat relevan bagi semangat antikolonial.

Sebagian prosais awal kita, yang kebanyakan berlatar Tionghoa, totok maupun peranakan, sejak semula telah membawa khazanah persilatan moyang mereka ke Hindia. Hal yang sama juga terjadi di film. Jejak mereka coba dihapus dari kebudayaan kita karena alasan nasionalisme yang mengada-ada, tapi jenis kisah pendekar ala mereka inilah yang nanti mendominasi genre ini, baik fiksi, komik, sandiwara radio, dan terutama film. Dan inilah yang menguasai imajinasi kita tentang pendekar sampai hari ini.

Khoo Ping Ho, Bastian Tito, atau S.H. Mintardja meraksasa dan menjadi inspirasi atau, setidaknya, hampir pasti memapar para pembaca rakus (yang sebagiannya kelak menjadi pengarang). Sayang, mereka bukan warga istimewa dalam kesusastraan kita. Selain menjebloskan mereka ke kotak sastra pop, kita menjauhkan mereka dari jangkauan anak-anak dengan tak menyebut nama mereka di buku ajar sekolah. Di luar para epigonnya, kita juga sulit melacak jejak mereka pada karya-karya sastrawan yang lebih muda –kecuali sangat sedikit.

Roman Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati barangkali adalah karya kanon paling awal yang memasukkan karakter pendekar. Darsam dari Bumi Manusia-nya Pram jelas tak semata kusir dokar. Sementara Ashadi Siregar menggambarkan dunia jago dan kependekaran di perkebunan Sumatera Timur sebelum kemerdekaan dalam karyanya yang tak banyak diingat, Warisan Sang Jagoan. Sama tak diingatnya adalah Sarip Tambakoso dari Djamil Suherman, kisah ludruk yang disajikan ulang sebagai cerita rakyat. Mengingat kelangkaan ini, Arswendo Atmowiloto dan Seno Gumira Ajidarma perlu disebut secara khusus. Terutama atas apa yang masing-masing lakukan dengan Senopati Pamungkas dan Nagabumi.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore