Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 31 Maret 2024 | 20.05 WIB

Gabo Mencoba Keluar dari Bayang-Bayang Gabo

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Katanya, manusia merupakan makhluk kebiasaan. Ia cenderung melakukan hal serupa berulang-ulang. Selain tema kesunyian, kita juga melihat pola manusia yang melakukan aktivitas berulang-ulang, hingga menjadi kebiasaan, di karya-karya Gabriel Garcia Marquez.

DI One Hundred of Solitude, Kolonel Aureliano Buendia terus-menerus membuat ikan-ikan emas kecil. Sering kali saya berpikir bahwa tindakan itu merupakan sejenis simbol untuk melawan kesunyian dan keterasingan, membuat sang manusia menemukan relevansi dirinya melalui tindakan yang menjadi nyata karena diulang-ulang.

Si ayah dalam cerita pendek ”The Saint” jelas hidup dalam kesunyiannya. Ia terabaikan oleh dunia. Ia hanya menemukan dirinya melalui kekeraskepalaan tanpa ampun: terus membawa peti mati berisi mayat anaknya, yang tak membusuk, selama bertahun-tahun. Berusaha memperjuangkan anaknya menjadi santa.

Jangan lupa dengan sang kolonel yang setiap hari menunggu surat (dan gajinya) di ”No One Writes to the Colonel”. Florentino Ariza yang tak bisa berhenti mencintai Fermina Daza di Love in the Time of Cholera.

Demikian pula kita akan menemukan manusia semacam itu di novel terbarunya, Until August. Novel tersebut baru saja terbit di berbagai bahasa dan negara (seperti biasa, Indonesia selalu terlewatkan dalam perayaan kecil semacam itu) tepat di hari ulang tahun sang pengarang, 6 Maret lalu.

Membaca novel yang terbit secara anumerta sering kali didorong oleh rasa penasaran, seperti apa karya terakhir seorang novelis? Terutama jika novelis tersebut telah menghasilkan sederet novel besar yang kemungkinan besar kelak menjadi ”klasik” seperti Gabriel Garcia Marquez yang meninggal 2014 lalu.

Fakta bahwa sang pengarang membuat wasiat agar naskah itu tak perlu diterbitkan, kemudian dikhianati oleh kedua putranya, kepala saya semakin dipenuhi prasangka: keluarga, agensi, penerbitnya cuma mau cari uang saja, dengan embel-embel pemasaran ”novel yang hilang”.

Membaca bab pertama, di luar dugaan, saya segera menganggap pengkhianatan itu sepadan. Ditulis di masa-masa ia mulai kehilangan ingatannya, novel ini tak kehilangan apa yang menjadi obsesinya di beberapa tahun terakhir kepengarangannya.

Terutama, menurut saya, dalam upayanya melepaskan diri dari bayang-bayang pesona yang ia bangun sendiri melalui One Hundred Years of Solitude. Menjauh dari realisme magis, menjauh dari narasi faulknerian.

Dalam satu esainya, ”Gabriel Garcia Marquez Meet Ernest Hemingway”, Gabo (begitu panggilannya) menyebut pengaruh besar dua penulis Amerika ke dalam kepenulisannya. William Faulkner dan Ernest Hemingway.

Kedua penulis sangatlah kontras. Yang satu serupa ”sekawanan kambing dilepas di toko kristal”, yang lain seperti deretan sekrup yang tertata rapi.

Meskipun ia berusaha menjadikan mereka sebagai referensi bagi ”jiwa” dan ”kepengrajinannya”, di novel-novel utamanya jelas terlihat pengaruh besar Faulkner. Narasinya merupakan labirin, berputar-putar, seolah waktu bukan merupakan garis lurus.

Pengaruh Faulkner ini bahkan sudah tampak di novel pertamanya, Leaf Storm, dan memuncak di The Autumn of the Patriarch (juga dengan pengaruh dari Tyrant Banderas karya Ramon del Valle-Inclan). Gaya seperti itulah yang kemudian membuatnya dikenal, dan sekaligus, mulai memenjara dirinya.

Saya melihat usaha untuk menjauh dari gaya itu mulai terlihat di kumpulan cerita pendek Strange Pilgrims. Meskipun beberapa cerita masih menyajikan kisah-kisah magis, sebagian besar ditulis dengan pendekatan ”sekrup yang tertata rapi” dan cenderung linear. Juga layaknya ”puncak gunung es” dalam teori bercerita ala Hemingway.

Sebetulnya pendekatan semacam itu bukanlah hal baru. Jika melihat karya-karya awalnya, akan terselip beberapa cerpen serupa itu. ”The Woman Who Came at Six O’clock”, misalnya. Terlebih jika kita membaca potongan-potongan tulisan jurnalistiknya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore