
ILUSTRASI
Katanya, manusia merupakan makhluk kebiasaan. Ia cenderung melakukan hal serupa berulang-ulang. Selain tema kesunyian, kita juga melihat pola manusia yang melakukan aktivitas berulang-ulang, hingga menjadi kebiasaan, di karya-karya Gabriel Garcia Marquez.
DI One Hundred of Solitude, Kolonel Aureliano Buendia terus-menerus membuat ikan-ikan emas kecil. Sering kali saya berpikir bahwa tindakan itu merupakan sejenis simbol untuk melawan kesunyian dan keterasingan, membuat sang manusia menemukan relevansi dirinya melalui tindakan yang menjadi nyata karena diulang-ulang.
Si ayah dalam cerita pendek ”The Saint” jelas hidup dalam kesunyiannya. Ia terabaikan oleh dunia. Ia hanya menemukan dirinya melalui kekeraskepalaan tanpa ampun: terus membawa peti mati berisi mayat anaknya, yang tak membusuk, selama bertahun-tahun. Berusaha memperjuangkan anaknya menjadi santa.
Jangan lupa dengan sang kolonel yang setiap hari menunggu surat (dan gajinya) di ”No One Writes to the Colonel”. Florentino Ariza yang tak bisa berhenti mencintai Fermina Daza di Love in the Time of Cholera.
Demikian pula kita akan menemukan manusia semacam itu di novel terbarunya, Until August. Novel tersebut baru saja terbit di berbagai bahasa dan negara (seperti biasa, Indonesia selalu terlewatkan dalam perayaan kecil semacam itu) tepat di hari ulang tahun sang pengarang, 6 Maret lalu.
Membaca novel yang terbit secara anumerta sering kali didorong oleh rasa penasaran, seperti apa karya terakhir seorang novelis? Terutama jika novelis tersebut telah menghasilkan sederet novel besar yang kemungkinan besar kelak menjadi ”klasik” seperti Gabriel Garcia Marquez yang meninggal 2014 lalu.
Fakta bahwa sang pengarang membuat wasiat agar naskah itu tak perlu diterbitkan, kemudian dikhianati oleh kedua putranya, kepala saya semakin dipenuhi prasangka: keluarga, agensi, penerbitnya cuma mau cari uang saja, dengan embel-embel pemasaran ”novel yang hilang”.
Membaca bab pertama, di luar dugaan, saya segera menganggap pengkhianatan itu sepadan. Ditulis di masa-masa ia mulai kehilangan ingatannya, novel ini tak kehilangan apa yang menjadi obsesinya di beberapa tahun terakhir kepengarangannya.
Terutama, menurut saya, dalam upayanya melepaskan diri dari bayang-bayang pesona yang ia bangun sendiri melalui One Hundred Years of Solitude. Menjauh dari realisme magis, menjauh dari narasi faulknerian.
Dalam satu esainya, ”Gabriel Garcia Marquez Meet Ernest Hemingway”, Gabo (begitu panggilannya) menyebut pengaruh besar dua penulis Amerika ke dalam kepenulisannya. William Faulkner dan Ernest Hemingway.
Kedua penulis sangatlah kontras. Yang satu serupa ”sekawanan kambing dilepas di toko kristal”, yang lain seperti deretan sekrup yang tertata rapi.
Meskipun ia berusaha menjadikan mereka sebagai referensi bagi ”jiwa” dan ”kepengrajinannya”, di novel-novel utamanya jelas terlihat pengaruh besar Faulkner. Narasinya merupakan labirin, berputar-putar, seolah waktu bukan merupakan garis lurus.
Pengaruh Faulkner ini bahkan sudah tampak di novel pertamanya, Leaf Storm, dan memuncak di The Autumn of the Patriarch (juga dengan pengaruh dari Tyrant Banderas karya Ramon del Valle-Inclan). Gaya seperti itulah yang kemudian membuatnya dikenal, dan sekaligus, mulai memenjara dirinya.
Saya melihat usaha untuk menjauh dari gaya itu mulai terlihat di kumpulan cerita pendek Strange Pilgrims. Meskipun beberapa cerita masih menyajikan kisah-kisah magis, sebagian besar ditulis dengan pendekatan ”sekrup yang tertata rapi” dan cenderung linear. Juga layaknya ”puncak gunung es” dalam teori bercerita ala Hemingway.
Sebetulnya pendekatan semacam itu bukanlah hal baru. Jika melihat karya-karya awalnya, akan terselip beberapa cerpen serupa itu. ”The Woman Who Came at Six O’clock”, misalnya. Terlebih jika kita membaca potongan-potongan tulisan jurnalistiknya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
