Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 November 2022 | 18.06 WIB

Singapore Biennale: Apalah Arti Sebuah Nama?

ALIA SWASTIKA - Image

ALIA SWASTIKA

Singapore Biennale digelar kembali setelah kali terakhir berlangsung pada 2019 dengan perubahan yang cukup mencolok pada pendekatan ruang dan kuratorial. Yang cukup provokatif, para kurator pergelaran ini, empat perempuan dari berbagai konteks di Asia, memutuskan untuk memberi ”nama” dan bukannya judul pada Singapore Biennale 2022.

---

JADILAH SG 2022 bernama ”Natasha”, yang menjadi metafor untuk keberagaman, pemahaman baru atas sejarah yang mengedepankan perspektif baru yang lebih terbuka. Dibuka pada 15 Oktober 2022, Singapore Biennale masih akan berlangsung hingga Januari 2023. Meski berupaya menggunakan berbagai situs lain seperti dua pulau di bagian selatan Singapura, International Plaza, dan nantinya Orchard 22, situs terbesar menggunakan Singapore Art Museum yang sekarang ini menempati pusat pelabuhan Tanjong Pagar.

Empat kurator pergelaran SG 2022 adalah June Yap (Singapura), Ala Younis (Jordania), Nida Ghouse (India), dan Binna Choi (Korea Selatan). Pemilihan empat kurator ini saya kira memberikan satu konteks yang lebih luas dibandingkan SG beberapa edisi sebelumnya yang cenderung berfokus pada praktik seni kontemporer di Asia Tenggara. Dengan keragaman baru, diharapkan Singapore Biennale kali ini bisa menawarkan pemikiran dan karya yang lebih beragam dari kecenderungan global, apalagi dalam situasi pascapandemi yang mendorong perubahan-perubahan yang urgen dalam komposisi dan kontestasi sosial politik. Ada banyak karya yang berada dalam ketegangan antara yang politik dan poetik, antara yang kosmik dan domestik, yang abstraksi dan yang metaforis. Bagaimana kemudian bentuk kuratorial yang lebih terbuka, tanpa tema khusus yang dikomunikasikan ke publik, dapat menjadi eksperimentasi dalam penyelenggaraan sebuah Biennale.

Dalam pelaksanaannya, para kurator memang membawa pendekatan yang berbeda satu sama lain. June Yap tampaknya berupaya membawa gagasan tentang Singapura, dan lebih luas lagi, konteks Asia Tenggara dalam dialog dengan berbagai identitas kultural global. Sementara Binna Choi memperkenalkan seniman yang sering diabaikan atau tak mendapat tempat dalam sejarah kanon serta membawa proyek-proyek seni kolaboratif transnasional untuk menekankan gagasan tentang ”hubungan” dalam berbagai produksi pengetahuan dan penciptaan seni. Ala Younis menampilkan karya-karya yang menunjukkan pendekatan pengarsipan, gerakan politik dan seni sebagai refleksi kemanusiaan yang bersifat filosofis. Sementara Nida Ghouse memperluas khazanah medium dengan karya-karya yang menunjukkan makna sosial dari materialitas dan pertemuan transdisiplin yang datang dari berbagai konteks budaya.

Bagaimana hasil dari moda kurasi kolektif yang ”bebas” semacam ini? Pengalaman saya sebagai penonton, yang barangkali telah terbiasa dengan praktik Biennale yang lebih tematik dan terhubung dengan sebuah atau beberapa narasi besar, memasuki ruang atau eksperimentasi yang lebih bebas ternyata membuat tergagap. Kita seperti tak punya pegangan untuk membaca peta, tak ada panduan untuk membangun relasi makna. Di satu sisi, upaya membebaskan penonton untuk bergerak dengan imajinasi mereka sendiri tentu merupakan percobaan penting yang menjauh dari kecenderungan didaktik dari karya seni sehingga penonton lebih mengolah pemahaman mereka dalam mengalami dan memahami. Di sisi lain, tidak semua karya bisa dipahami sebagai sesuatu yang bisa berdiri sendiri. Dibutuhkan pembacaan atas konteks lain untuk bisa merasa terhubung atau tersentuh dengan karya tersebut. Tema pameran biasanya menjadi semacam petunjuk, meski samar, untuk membangun narasi yang mempertemukan imajinasi personal penonton dengan makna sosial yang lebih dibangun secara kolektif. Ternyata, situasi pameran yang terlalu bebas, dengan moda pembacaan yang boleh arbitrer, pada akhirnya justru membuat pameran terkesan membosankan.

Beberapa karya dengan segera menarik perhatian dengan aspek spectacle yang kuat, tetapi juga politis dan imajinatif. Misalnya karya Walid Raad yang menampilkan video dengan proyeksi berukuran fenomenal (tinggi 6 m) atas air terjun, yang dihadapkan dengan sosok mungil dari para pemimpin politik dunia seperti Margaret Thatcher, Bush, dan lainnya. Karya Sawangwongse Yawnghwe (Myanmar) berangkat dari penelusuran atas jalur perdagangan narkotika sepanjang Sungai Mekong dan bagaimana konteks kolonialisme, pergeseran politik, dan perdagangan orang menjadi bagian dari sejarah gelap dalam narasi tentang Asia Tenggara. Ia menggelar puluhan lukisan berukuran kecil yang menggambarkan beragam aspek dari penelitiannya, dari peta hingga tubuh yang terluka, dan menampilkan diagram skala besar yang mencatat kata-kata kunci di seputar fenomena ini. Seniman Salmia Hasby, perempuan Jordania yang bermigrasi ke New York pada 1950-an, menampilkan rekaman drawing yang diperlakukan sebagai buku harian, mencatat berbagai cerapannya atas kehidupan New York dari satu periode ke periode lainnya. Gambar-gambar Hasby kemudian ditransformasi pada teknologi kinetik dan komputik pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, yang menjadi terobosan penting bagi pendekatan artistik pada periode itu. Hasil transformasi kinetik ini kemudian diproyeksikan pada layar yang besar, memberikan sensasi visual yang kuat dan membekas.

Proyek kolaboratif seniman atau pelaku budaya lintas disiplin seperti Nina Bell F. House yang diinisiasi oleh Donghwan Kam, Nuraini Juliastuti, Sophia Park, dan Ying Que yang merefleksikan beragam cara untuk memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan serta menampilkan bagaimana pengetahuan itu menjadi praktik sosial keseharian, terutama dalam wacana dekolonisasi dan tata hidup vernakular. Mereka membuat proyek skala kecil seperti rumah-rumah yang disebar di berbagai lokasi, yang beberapa di antaranya diubah sebagai kotak penyimpan proses fermentasi kedelai untuk menjadi tempe. Atau menyediakan dispenser air minum di ruang pamer yang airnya diambil dari proses percobaan penyulingan.

Para seniman yang berkarya di sirkuit global pada akhir 1990-an dan 2000-an seperti Rirkrit Tiravanija, Phillip Pareno, Pierre Huyghe, dan Liam Gillick bersama-sama membeli kepemilikan intelektual sebuah karakter manga bernama Ang Lee dan kemudian masing-masing dari mereka membuat karya berdasar karakter tersebut. Berbagai karya mulai instalasi cahaya, video animasi, ruang belajar, dan lainnya menampilkan ragam interpretasi setiap seniman atas sosok Ang Lee. Tampaknya proyek ini yang kemudian menjadi ilustrasi dari gagasan tentang ”Natasha” di mana sosok imajinatif bisa menjadi ruang bersama untuk menumbuhkan dan memproduksi percakapan dan pengetahuan kolektif.

Natasha Tontey dari Indonesia menghadirkan serangkaian pengalaman menikmati karya dengan media yang cukup kompleks mulai kolase gambar dinding, performance, audiovisual yang interaktif, hingga instalasi objek yang berangkat dari penelitiannya dari budaya Minahasa, yang menjadi bagian dari identitas personalnya, di mana ia tertarik untuk meninjau ulang peran gender dalam upacara adat setempat yang disebut Karai yang berhubungan dengan narasi tentang penciptaan. Dalam Garden Amidst the Flame; Lacuna for Compassion (2022), Natasha mencoba membalikkan sifat-sifat agresif dan maskulin dalam upacara tersebut menjadi lebih mengedepankan nilai feminin dan kepedulian.

Araya Rasdjarmrearnsook (Thailand) tertarik pada fenomena performativitas dalam kehidupan anjing yang ia pelihara, yang awalnya sebagian besar merupakan anjing liar yang tidak terawat. Araya membangun metafor yang menunjukkan relasi yang kompleks antara manusia dan binatang, yang merasuk pada persoalan eksistensialisme dan psikologis. Videonya berjudul Teather of the Dogs menunjukkan imajinasi tekstual yang subtil dari refleksi atas bagaimana masyarakat anjing saling berhubungan, berbagi, membangun tata kelola ruang, dan sebagainya. Karya Araya seperti biasa menyentil sisi emosional penonton yang sering kali tersembunyi.

Heman Chong merancang sebuah ruang pertemuan alternatif yang menarik di area sebuah gedung perkantoran yang sehari-hari disibukkan oleh aktivitas bisnis berupa ruang perpustakaan dari buku-buku yang didonasikan oleh mereka yang pernah memilikinya, tetapi tak sempat membacanya. Heman mengundang siapa pun datang untuk membawa buku maupun membaca, dan diharapkan dari pertemuan kecil yang berlangsung di sana terjadi relasi sosial baru.

Dalam ruang hidup seperti Singapura yang sangat terstruktur, upaya-upaya untuk meretas konsep ruang dan relasi sosial dalam praktik seni merupakan kerja yang amat tidak mudah. Proyek kuratorial bernama Natasha ini sesungguhnya punya potensi untuk menghadirkan imajinasi baru dan mendorong seniman untuk berdialog dalam cara dan berperspektif yang lain dari biasanya. Sayangnya, seperti ada jarak di antara para kurator sendiri yang membuat percakapan ini seperti buntu, dan para kurator sibuk bergumam dengan diri mereka masing-masing. Karya-karya seperti berada dalam ruang hampa yang tak menawarkan kehangatan, membuat penonton seperti tersesat dalam gagasan-gagasan konseptual kurator tanpa bisa merelasikan dengan pengalamannya sendiri. Sebaliknya, sering kali pergelaran Biennale di Indonesia justru berangkat dari upaya untuk menyapa dan mengganggu penonton, menciptakan percakapan dan membangun ruang sosial, alih-alih mengutamakan munculnya wacana dan pemikiran. Dari pengalaman bercakap dan bertukar inilah justru pengetahuan dibangun bersama dengan kosakata yang berangkat dari pemahaman dan imajinasi para warga. Dengan memberi nama Natasha, kita justru pulang dengan pertanyaan, apa artinya sebuah nama? (*)

---

ALIA SWASTIKA, Kurator dan Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore