Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 Agustus 2022 | 16.50 WIB

Di Antara Pegangsaan Timur dan Rengasdengklok

ILUSTRASI BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI BUDIONO/JAWA POS

Tak ada satu pun siswa yang tak mengenal frasa ini: ”Rengasdengklok”. Bahwa ia adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Karawang, tidak terlalu penting.

---

RENGASDENGKLOK bagian tak terpisahkan dari rantai peristiwa lahirnya suatu negara baru. Bahkan, letak rantainya dekat sekali. Hanya ”sehari” jaraknya dari Pegangsaan Timur di Jakarta Pusat di mana ari-ari Indonesia sebagai negara ditanam.

Tapi, Rengasdengklok tak ada dalam bayangan manusia serasional seperti Hatta bisa hadir dan ”penting” dalam kertas skenario kelahiran Indonesia. Berbulan-bulan berdebat di sidang-sidang BPUPKI merupakan rantai rasional. Indonesia dibayangkan lahir dari ide dan pikiran yang diperdebatkan.

Semua itu buyar saat ”Rengasdengklok” ikut campur.

Di sini, Rengasdengklok bukan sekadar tempat, melainkan interupsi separo mistik dan separo dusta di tengah kasak-kusuk informasi takluknya Jepang atas sekutu.

Rengasdengklok, misalnya, tidak bakal ada dalam narasi Proklamasi seandainya saja Soekarno dan Hatta tidak bisa dibobol oleh argumen ”revolusi bodong” dari mahasiswa dan pemuda yang berkumpul di Prapatan 10 dan Menteng 31.

Mari. Rengasdengklok itu lahir dari drama tanggal 15 Agustus sore di Laboratorium Bakteriologi yang tak jauh dari kediaman Soekarno. Pegangsaan Timur. Soekarno di 56, mahasiswa berapat di nomor 15.

Rapat yang dipimpin Chaerul Saleh itu menegaskan satu hal: proklamasi kemerdekaan tidak boleh ada campur tangan Jepang. Dan, dilaksanakan hari itu juga: 15 Agustus.

Sementara, PPKI dianggap sebagai representasi Jepang. Di sana, sialnya, berkumpul ”para pemimpin” yang punya nama dan dikenal rakyat.

Jalan miring pun ditempuh: kita butuh ketua dan wakil ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau PPKI, Soekarno dan Hatta, tapi buang lembaganya. Keduanya harus diinsafkan dan bersihkan dari semua unsur PPKI.

Percobaan pertama menginsafkan Soekarno dan Hatta gagal total. Wikana, misalnya, pulang dengan kesal karena dimaki-maki oleh Soekarno.

Kata Wikana, sebagaimana terkutip di Memoir Hatta, ”Apabila Bung Karno tidak mau mengucapkan pengumuman kemerdekaan itu malam ini juga, besok pagi akan terjadi pembunuhan dan pertumpahan darah.”

Soekarno yang tak mau kalah balik menggertak, ”Ini leherku, seret aku ke pojok sana. Sudahi nyawaku. Malam ini. Gak usah nunggu besok.”

Wikana gemetar dan buru-buru memperbaiki posisi argumentasinya. ”Maksud kami bukan membunuh Bung. Kami cuman mau ngingetin, apabila kemerdekaan Indonesia tidak dinyatakan malam ini juga, besok rakyat akan bertindak dan membunuh orang-orang yang dicurigai, yang dianggap pro-Belanda.”

Begitu pula utusan yang melobi Hatta. Cekcok mulut hebat terjadi antara Soebadio Sastrosatomo dan Soebianto. Keduanya setengah putus asa pulang sambil melempar kata terakhir, ”Di saat revolusi, kami rupanya tidak bisa membawa Bung serta. Bung tidak revolusioner. Bung Hatta gak bisa diharapkan untuk revolusi.”

Nyaris saja Rengasdengklok tak pernah ada dalam sejarah jika tidak ada Soekarni yang melakukan percobaan terakhir jelang dini hari. Sebelum berangkat menginsafkan Soekarno dan Hatta, tampak Soekarni merogoh saku dan memberi semacam ”jimat” kepada Djohar Noor. Sebuah batu pualam bulat. ”Ilmu isyarat,” kata Soekarni.

Berkat ”ilmu isyarat” itulah, Soekarni menembus pertahanan Soekarno-Hatta dan mau mengikuti Soekarni dan serombongan tentara Peta ke arah timur, ke tempat yang sudah disiapkan: Rengasdengklok.

Tahu apa yang dikatakan Soekarni kepada Soekarno?

”Karena Bung tidak mau memimpin kami, kami sendiri yang akan mengambil tindakan. Siang nanti, jam 12, lima belas ribu rakyat memasuki dan menyerbu kota. Karena itu, Bung kami amankan dan bawa ke luar kota.”

Yang bikin Soekarno jerih adalah membayangkan angka ”15 ribu” hasil khayalan Soekarni. Itu buwesar sekali. Mungkin, karena kelelahan, Soekarno goyah juga atas ”informasi” yang lebih dekat dengan ”bualan” itu.

Soekarno akhirnya mau ikut asal Hatta juga mau. Dengan cepat, Soekarni menyambar, ”Sudah, Bung! Bung Hatta setuju.”

Padahal, ya, nyatanya belum. Barulah setelah Soekarno luluh, Soekarni berangkat menaklukkan Hatta dengan cara yang sama ia melumpuhkan nalar Soekarno. Hatta yang mula-mula tampak kukuh disumpal sebaris kalimat Soekarni, ”Sudahlah. Ini sudah menjadi keputusan kami dan tidak bisa dipersoalkan lagi. Apalagi, Bung Karno sudah oke. Bung ikut saja.”

Lalu, lahirlah Rengasdengklok. Apa isi Rengasdengklok? Kosong. Sepanjang hari 16 Agustus hanya diisi dengan duduk-duduk saja Soekarno dan Hatta. Juga, kedongkolan Fatmawati yang turut membawa bayinya tanpa persiapan.

Seperti itulah prosesi bagaimana negeri ini dilahirkan. Mula-mula dengan cara rasional hingga di tengah jalan yang krusial, ya, berserah ke ”batu pualam” juga, ke ”ilmu isyarat” ala Soekarni.

Hal itu tecermin dari teks Proklamasi yang dibuat tergesa-gesa, dengan pikiran yang kusut karena badan lelah diisap perjalanan sia-sia ke Rengasdengklok. Nyaris debat hebat di BPUPKI tak termanifestasi dalam naskah Proklamasi yang dibacakan di Pegangsaan Timur itu.

Tanggal 17 Agustus yang ditetapkan sebagai hari lahirnya bangsa baru ini, oleh karena itu, gabungan dari Rengasdengklok dan Pegangsaan Timur. Percampuran antara klenik batu kecil pualam yang keluar dari saku Soekarni dan ketergesa-gesaan. Inilah negeri yang didirikan dari campuran klenik dan rasionalitas yang rapuh. Rengasdengklok, lalu Pegangsaan Timur, adalah monumen tentang hal itu. Kita mewarisinya. (*)

---

MUHIDIN M. DAHLAN, Pendiri @radiobuku dan @warungarsip, tinggal di Jogjakarta

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore