Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 10 Juli 2022 | 15.02 WIB

Warung Kopi yang Berubah, Lagu-Lagu yang Berganti

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Warung kopi sebagai bagian dari kehidupan urban adalah fenomena dua puluh tahun terakhir. Seingat saya, sebelum Badrun mereplika warung kopi di kampungnya di Gresik dengan mendirikan Blandongan di Jalan Wahid Hasyim, Jogja, di awal 2000-an, tak ada orang yang melakukannya. Ketika Blandongan mantap menetap di sekitar Sorowajan, kampung di belakang kampus UIN Sunan Kalijaga, warung kopi beranak pinak di seluruh Jogja, dan tampaknya di banyak kota lain.

---

DI JOGJA sendiri, menjamurnya warung kopi membuat asosiasi kota ini dengan angkringan nyaris kikis –sehingga Joko Pinurbo mesti mengawetkannya dalam puisi.

Warung kopi, bukan kafe, adalah konsep rural. Dan sejak awal ia jelas tak hanya tentang kopi; ia adalah miniatur. Nama semacam Blandongan, yang secara harfiah kira-kira ”tempat berkumpul para blandong”, pasti punya kaitan dengan Panceng, kampung halaman Badrun, wilayah di Gresik yang masih identik dengan hutannya. Karena itu, ia juga mewakili identitas tertentu.

Saya bukan orang warungan sampai Blandongan mengubah saya. Saat itu saya adalah karyawan yang gelisah: tak yakin dengan karier menulis, tapi tak ingin menua dan mati sebagai karyawan. Seorang teman kantor mengajak nongkrong di warung kopi tak jauh dari rumah kontrakannya: Blandongan. Itu tahun 2007. Saya sudah sering mendengar tentangnya, tapi baru kali itu memasukinya. Itu adalah momen yang mengubah hidup.

Ketika dua tahun kemudian saya keluar dari pekerjaan, tak ada hari tanpa Blandongan. Dan bertahun-tahun masih demikian. Saya meratapi kegagalan novel pertama saya di sana. Tapi di sana juga, di mejanya yang menghitam karena jarang dibersihkan dan di kursi kayunya yang tak selalu nyaman, saya menghasilkan novel-novel lainnya.

Apakah karena kopinya yang hitam, keras, kental, dan terkesan jalanan? Kelihatannya. Apakah karena mereka yang datang ngopi pakai sarung dan berkopiah, seperti orang-orang di kampung saya? Mungkin. Tapi hal pertama yang membuat saya memutuskan ”ini warung kopiku!” adalah suara Ida Laila yang mengalun dari dapur tempat air dijerang. Ah, itu bahkan bukan warung kopi. Itu rumah!

Suara Ida Laila adalah alien di Jogja. Ketika saya bisa memastikan bahwa lagu itu diputar dari file Mp3, dan itu bukan lagu Ida Laila satu-satunya yang mereka punya, saya menerobos dapur dengan USB kosong, tergopoh seperti bocah miskin di antrean pembagian santunan.

File-file lagu itu masih ada di komputer saya hingga hari ini. Darinya saya mencipta novel terakhir saya, Anwar Tohari Mencari Mati.

***

Dalam waktu sangat cepat Blandongan mencipta banyak epigon. Di kiri-kanannya berdiri warung-warung kopi yang kurang lebih sama cita rasa dan konsepnya. Juga di banyak tempat lain di Jogja. Menghadapi hal ini, sepertinya Blandongan berbenah. Dan akhirnya berubah. Miniatur dimodifikasi. Identitas ditawar.

Bersama bangunan yang diperluas, meja-kursi dikalilipatkan, dan menu yang diperbanyak, kopi yang terlalu ”ekstrem” pun sedikit ”dimoderatkan”. Tapi bukan hanya itu. Pemutar musik yang sebelumnya ala kadarnya dipercanggih. Ada pelantang di tiap sudut. Ada dua televisi 60 inci.

Badrun mungkin hendak memanjakan para penggila bola macam saya, seperti ditawarkan banyak warung kopi lainnya. Tapi tampaknya lebih dari itu. TV besar itu tersambung langsung dengan internet. Tak ada lagi musik dari Mp3 karena YouTube sudah menyediakan semuanya. Atau hampir semuanya.

Ida Laila menghilang. Rhoma Irama & Soneta atau Elvy Sukaesih atau Rita Sugiarto adalah kebetulan yang jarang. Saya jadi sedikit kehilangan perasaan ”at home” seperti saat pertama datang. Tapi toh masih ada Monata dan Adella. Koplo tak sepenuhnya cocok di hati dan kuping saya, tapi setidaknya dari situlah lagu-lagu Mansyur S. atau Meggy Z. masih dinyanyikan. Lalu Via Vallen dan Nella Kharisma mengambil alih. Oke, saya tak tahu musik macam apa yang mereka nyanyikan, tapi setidaknya saya biasa mendengarnya di bus Sumber Kencono, dan Sumber Kencono biasa mengantar saya pulang. Lebih belakangan, saya mulai dengar Efek Rumah Kaca atau Sore lamat-lamat diputar. (Saya mengenal band-band indie awal 2000-an ini karena file Mp3-nya masih beredar luas di komputer-komputer kantor lama.) Kemudian musik-musik lain yang sejenis, namun kali ini tak tahu siapa penyanyinya. Dari sinilah saya tahu nama-nama macam Iksan Skuter, Silam Pukau, FSTVLST, Danila Riyadi, dst. Lucunya, lagu yang kurang lebih sama juga diputar di warung-warung kopi lainnya.

Dan tiba-tiba –sepertinya karena lagu-lagu yang saya sebut terakhir– kopi dan anak-anak yang suka ngopi diasosiasikan dengan senja. Ini membuat saya yang tergolong ”Anak Tengah Malam” (meminjam judul novel Salman Rushdie) mesti mulai mematut diri.

Hingga kini, saya masih sesekali nongkrong di Blandongan; kopi hitam-kental ala Gresik yang kini sedikit lebih encer masih tetap yang paling cocok dengan lidah saya. Tapi saya lebih sering menyumpal kuping dengan musik dari daftar putar saya sendiri.

***

Dalam 20 tahun sejak Blandongan ada, Jogja kini terdiri atas kopi, warung kopi, dan ngopi. Itu jelas tak sepuitis bayangan banyak orang. Bahkan, kalau mau sedikit melihat grafik dan angka, kenyataannya tak seindah kata ”senja” yang dilekatkan pada kopi. Seorang teman ahli agraria menunjukkan kepada saya luas persebaran warung kopi (dan bisnis kuliner) di Jogja, gejala gentrifikasi yang membayanginya, dan bom waktu persoalan sosial yang kapan saja bisa meledak.

Dimulai dari mereplika ”secuil” pantura di Jogja, Blandongan, dan secara umum warung kopi di Jogja, membentuk subkultur dan identitasnya sendiri. Kombinasi dari penyiasatan bisnis, adaptasi dengan lingkungan sekitar, respons terhadap perubahan pola perilaku konsumen, dan terutama perubahan zaman membuat warung kopi Jogja tak lagi sepenuhnya terhubung dengan kultur asalnya atau budaya yang hendak ditujunya. Beberapa warung kopi berlagak jadi kafe agar naik gengsi, sementara kafe-kafe memungut identitas ala warung biar dianggap punya akar. Bocah-bocah kelas menengah kota memberanikan diri menyeruput kopi yang lebih keras sebagai sejenis ekspresi perlawanan, sementara anak-anak desa menjajal kopi rasa-rasa sebagai wahana mobilitas. Suara Tommy J. Pisa bisa ditemukan di kafe berkonsep ’80-an yang harga kopinya mahal, sementara warung-warung yang masih menyediakan gorengan 2000-dapat-tiga memutar instrumentalia jazz. Semua sudah bercampur aduk dan bertukar tempat.

Pada saat bersamaan, bocah-bocah kelahiran awal 2000-an, yang lahir dengan ponsel pintar di genggaman, membanjiri warung-warung kopi dengan gulungan kabel dan gadget canggihnya. Mereka mungkin tak tertarik musik, tak menggilai bola, dan tak terlalu peduli rasa kopi yang mereka minum; mereka hanya butuh wifi dan bermain. Jumlah mereka banyak, nyaris di semua warung kopi, di mana-mana di seluruh Indonesia. Dan hampir dipastikan, mereka akan mencipta sebuah kultur baru, yang kita belum akan tahu. (*)

---

MAHFUD IKHWAN, Penulis asal Lamongan, kini tinggal di Jogja

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore