
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Banyak pentas musik digelar, tapi tidak banyak musik dituliskan. Hampir semua pergelaran musik senantiasa menonjolkan kemegahan bunyi, ditonton dan dinikmati, kemudian hilang tertelan waktu. Kita melupakan bahwa musik adalah episentrum yang bukan sekadar suara, melainkan juga gumpalan ide, wacana, konsep, dan gagasan.
---
NAMUN sayang, semua itu tidak dapat terbaca oleh publik secara terbuka. Wacana tentang musik yang dipentaskan sering kali hanya dimengerti komponisnya sendiri. Publik dipersilakan menerka sesuka hati. Di satu sisi hal itu benar, bukankah musik tidak harus dijelas-jelaskan karena menjelaskan musik itu seperti memandang matahari, semakin detail semakin menyilaukan. Biarkan musik itu sebagaimana kodratnya, bunyi atau suara, tidak lebih dari itu. Kalaupun ada tafsir terhadapnya, penonton atau publik punya kuasa penuh, bebas untuk tidak terikat oleh apa pun atau siapa pun, termasuk komponisnya sekalipun.
Namun, di sisi lain, musik itu adalah ”labirin intelektualitas”. Ada pertanggungjawaban yang harus diberikan kepada publik, alih-alih ilmiah dan formal. Pertanggungjawaban itu sebentuk jembatan agar musik mampu dimengerti dan dipahami secara lebih mudah, sederhana, atau bahkan sebaliknya; apa yang terlihat sederhana di atas panggung justru memiliki kompleksitas dalam takaran ide dan gagasannya. Semua itu hanya bisa dilakukan dengan jalan ”membahasakan” peristiwa musik dan yang dapat melakukannya adalah orang-orang terpilih dengan bekal kemampuan serta pengalaman tinggi. Para penulis musik, jurnalis musik, kritikus, dan pengamat adalah beberapa di antaranya. Forum Gelar Komposer: Lokalitas dan Perspektif yang diadakan di Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, pada 10–12 Maret 2022 adalah sebentuk upaya mempertemukan komposer dengan penulis musik. Barangkali ini adalah forum pertama di Jawa Timur yang memberi ”karpet merah” pada penulis musik untuk melakukan pencatatan kritis terhadap karya-karya yang ditampilkan. Forum itu menjadi ajang uji coba untuk tidak sekadar melahirkan komposer-komposer muda berbakat, tapi juga penulis (kritikus) musik yang ciamik.
Terdapat enam penulis yang mendampingi enam komposer. Penulis-penulis itu adalah Erie Setiawan yang mendampingi Purwanto dari Jogja, Yudhistira Sugma Nugraha yang mendampingi Yuddan Fijar dari Bondowoso, Andri Widi Asmara yang mendampingi Willyday Onamlay Muslim dari Malang, Murlan yang mendampingi Eko Kasmo dari Tuban, Panakajaya Hidayatullah yang mendampingi Pungki dari Banyuwangi, dan Diecky K. Indrapraja yang mendampingi Marda Putra dari Surabaya. Para penulis itu memotret dengan detail profil komponis, aspek sosial, ekstramusikal, dan musikal kekaryaannya. Ada keyakinan yang membubung bahwa selama ini musik itu terlalu indah didengar, tapi tidak menarik untuk dipikirkan. Lewat pergelaran itu, ada misi penting, para penulis itu mencoba menjadikan musik melewati batas-batasnya sebagai sebuah bunyi, tapi juga sebentuk gejolak sosial yang menarik untuk direnungkan.
Upaya menuliskan musik tentu saja tidak semudah mendeskripsikan keindahan alam atau lezatnya sebuah makanan. Itu karena musik adalah serangkaian simbol, abstrak, dan rumit. Para penulis harus mampu mengerti (setidaknya untuk ukuran yang paling subjektif) terhadap fenomena bunyi yang diamatinya. Mereka harus mampu menemukan sisi lain yang membuat karya itu menarik atau sebaliknya. Ketika yang lain menikmati pertunjukan musik, mereka melebihi hal itu, mencoba memahami dan memikirkan. Akibatnya, penonton pulang tanpa beban, maka penulis masih merenung untuk merajut satu fakta musikal dengan yang lain, kemudian mempertanyakan (sekaligus menjawab) apa yang dilihat dan didengarkan, dan terakhir adalah menuliskannya. Kerja yang demikian berada dalam ruang sunyi. Gemuruh dan bising musik di atas panggung semata dibaca sebagai tanda yang bisu, menunggu untuk terus dimaknai, dibedah, dan dipahami tiap bagiannya.
Penulis musik itu serupa mesias-mesias yang menyebarkan wahyu-wahyu keilahian. Wahyu itu, sekelebat cahaya, diterjemahkan menjadi narasi yang berisi nasihat-nasihat untuk kehidupan. Penulis musik juga demikian, membahasakan denting bunyi yang sejatinya tak berbahasa. Apakah tulisan itu sebuah kebenaran atas fakta musikal yang dilihat penulis? Tentu saja iya, kebenaran menurut penulis tentunya, yang bisa jadi berbeda dengan kebenaran versi penikmat lain. Dan yang demikian itu sah, mengingat pergelaran musik adalah peristiwa post vaktum, kejadian sepintas yang akan berakhir ketika musik itu usai dipentaskan, tapi wacana-wacana terhadapnya dapat terus hidup dalam bingkai pikiran penikmatnya, termasuk penulis musik.
Karena itu, tidak ada satu pun tulisan di dunia ini yang benar-benar objektif. Bias-bias subjektivitas pasti akan tersemat. Meski demikian, penulis (musik) yang baik akan senantiasa berusaha untuk mengikis ego pribadi agar tulisannya tidak menjadi ajang penghakiman banal atas sebuah karya. Semua itu karena adanya tanggung jawab moral pada publik dalam misi mencerdaskan dan membangun tonggak keilmuan musik yang lebih komprehensif. Impian tersebut dapat diawali dengan bersanding-bergayut pada forum-forum musik dan forum Gelar Komposer mengawalinya. Semua karya penulis di atas dapat dibaca dalam laman Taman Budaya Jawa Timur (www.cakdurasim.com). Tentu di sana-sini masih dijumpai kesalahan dan kekurangan, tapi hal itu tak mengikis sebuah angan-angan besar bahwa karya musik yang keren akan dibentuk dari tulisan yang bermutu. Ke depan, semoga festival-festival penulis musik semakin tumbuh dan semarak, amin! (*)
---
ARIS SETIAWAN, Etnomusikolog, pengajar di ISI Surakarta, kurator penulis di Gelar Komposer 2022

Prediksi Skor Kanada vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Lebih Diunggulkan, Mampukah Les Rouges Balas Dendam?
Prediksi Skor Paraguay vs Prancis di 16 Besar Piala Dunia 2026: Ujian Konsistensi si Biru
Prediksi Skor Meksiko vs Inggris di Piala Dunia 2026: Kelemahan 3 Singa di Estadio Azteca
Prediksi Skor Brasil vs Norwegia di Piala Dunia 2026: Statistik Vikings Siap Hancurkan Samba
Prediksi Skor Brasil vs Norwegia: Bursa Taruhan Dunia Jagokan Selecao, Opta Beri Peluang Menang 53,6 Persen
Prediksi Skor Meksiko vs Inggris di Piala Dunia 2026: Ujian Konsistensi The Three Lions Demi Lolos Perempat Final!
Prediksi Skor Prancis vs Paraguay: Bursa Taruhan Jagokan Les Bleus, Opta Catat Peluang Menang 79,7 Persen!
Kisah Renato Veiga, Bek Timnas Portugal yang Tumbuh di Maroko hingga Memilih Memeluk Agama Islam
Prediksi Skor Kanada vs Maroko: Bursa Dunia Sepakat Pilih Atlas Lions, Opta Beri Peluang Menang 51,8 Persen
Prediksi Skor Inggris vs Meksiko: Bursa Taruhan Dunia Tetap Jagokan Three Lions, Rekor Angker Azteca Jadi Ancaman
