
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Ada keluh kesah tentang karya sastra yang sulit, bahkan tidak diminati sama sekali oleh para pembaca. Ia tersisih dari buku-buku fiksi populer atau nonfiksi bertema pengembangan diri, strategi cepat sukses, hingga cara menata hati dan ruangan. Rak-rak buku sastra pun menghuni lorong paling sepi, baik di toko buku maupun perpustakaan. Tentu ada alasan di balik keterpencilan ini.
---
DALAM esainya, Elite atau Keterasingan, Jakob Sumardjo mengakui bahwa ”seni di Indonesia belum bisa berdialog dengan massa bangsanya.” Karya seni, termasuk sastra, baru menjadi konsumsi elite pembaca yang jumlahnya sangat kecil. Jelas Jakob, penyebab seni bisa terasing di tengah publik antara lain dimulai dari ketidakberesan dalam pembinaan seni hingga sang seniman yang kian asyik dengan estetik dan logikanya sendiri sehingga menghasilkan karya yang hanya dimengerti sesama seniman. Akibatnya, menurut Jakob, ”...sajak, novel, drama... [lebih] banyak dibicarakan oleh kelompok terpencil.” Jadilah karya sastra laksana barang elite. Namun, apakah hanya itu penyebab karya sastra terasing dari pembacanya?
Komodifikasi Buku
Di tengah pasar, kapitalisme menaruh karya sastra seposisi dengan produk massal lain seperti ponsel, sepatu, baju, bahkan minyak goreng. Ia telah menjadi komoditas yang dijual demi mendapatkan laba. Itulah mengapa label best seller atau mega best seller kerap hadir menghiasi sampul sejumlah buku sastra, entah sebagai tanda karya tersebut benar-benar laris atau sekadar trik pemasaran. Yang jelas, kehadiran label semacam ini membawa satu pesan penting. Bahwa jumlah cetakan jauh lebih penting ketimbang kualitas karya.
Selanjutnya, kapitalisme mengonstruksi pasar dengan sebuah logika bisnis nan cerdik. Bahwa kuantitas penjualan berbanding lurus dengan kualitas karya. Dalam medan produksi semacam itu, para pengarang jelas dikondisikan agar mengikuti selera pasar. Soal pemberhalaan pasar semacam ini sebenarnya telah diungkap Nietzsche dalam Sabda Zarathustra. Bagi Nietzsche, pasar merupakan sebuah tempat riuh rendah di mana para ”aktor besar” bermunculan bersama ”lalat-lalat beracun”. Para aktor besar inilah yang berperan penting dalam proses mengubah, meminjam istilah Marx, ”nilai guna” menjadi ”nilai tukar”. Alhasil, sebuah karya sastra tidak lagi dibeli karena kegunaannya, melainkan nilai tukarnya yang tinggi, entah sebagai koleksi, prestise, atau sekadar mengikuti tren. Adapun ”lalat beracun” bisa berwujud endorsement dari sastrawan senior, akademisi, pejabat, atau artis hingga label penghargaan dan jejak prestasi si pengarang meskipun sudah kedaluwarsa.
Pada akhirnya, pasarlah yang menentukan apakah sebuah buku sastra mesti duduk di rak teratas yang terpencil, rak strategis di bagian tengah, atau rak terbawah yang nyaris sejajar lantai. Adapun yang terpampang di rak-rak khusus sudah pasti buku-buku sastra yang termasuk 10 besar terlaris, bukan yang layak dibaca karena kualitasnya. Pembaca sengaja dibentuk untuk memilih buku yang laku, bukan yang bermutu.
Kapitalisme dan Orang yang Membaca
Dalam lanskap kapitalisme, sebagian besar pembaca buku adalah kelas menengah ke atas. Mereka inilah yang memiliki akses terhadap buku karena, selain mempunyai kemampuan finansial, juga memiliki kesempatan untuk membacanya. Dua hal ini menjadi faktor penting seseorang bisa menikmati buku. Lantas, bagaimana dengan buruh, petani, dan kaum miskin perkotaan?
Waktu para buruh jelas habis dalam proses produksi di pabrik. Bayangkan saja, mereka mesti bekerja delapan jam sehari atau lebih bila terkena kewajiban lembur. Jika untuk beristirahat saja mereka kekurangan waktu, apalagi membaca buku. Selain itu, dengan upah yang lebih sering di bawah upah minimum regional, isi dompet para buruh hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan harga senilai uang makan seminggu, wajarlah jika buku dipandang sebagai barang mewah bagi mereka. Hal serupa dialami para petani dan kaum miskin perkotaan.
Kapitalisme seolah sengaja menciptakan kelompok-kelompok marginal yang jumlahnya mayoritas ini menjauh dari buku. Kesempatan membaca mereka terus-menerus digerus untuk proses produksi yang tiada habis. Kemampuan finansial mereka juga ditekan seminimal mungkin agar tidak mampu membeli buku. Kendati demikian, selera mereka sengaja diatur agar terikat pada produk massal tertentu. Misalnya, barang-barang hiburan yang mampu meraup banyak laba sekaligus dan ampuh membuat kecanduan jangka panjang seperti ponsel. Maka, bukan salah para buruh jika tidak membaca Ibunda karya Maxim Gorki, para petani tidak menengok Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer, atau kaum miskin perkotaan tidak mengetahui tentang novel Merahnya Merah karya Iwan Simatupang.
Bila membaca karya sastra bisa membuat seseorang menjadi lebih kritis dan maju, apa yang diinginkan kapitalisme adalah sebaliknya. Demi menjaga perputaran mesin pabrik, kapitalisme menginginkan pekerja-pekerja patuh yang mampu berproduksi seefektif dan seefisien mungkin. Demi menumpuk laba terus-menerus, kapitalisme mengharapkan orang-orang senantiasa menghabiskan waktu untuk melakukan ”hal-hal produktif” yang sesuai kepentingan mereka. Jika sudah begini, jelaslah sudah mengapa minat baca masyarakat, apalagi membaca karya sastra, sangat rendah –ini salah satu penyebabnya.
Sangat sulit menyisipkan iklan dalam karya sastra. Sebuah buku juga tetap bisa dibaca tanpa perlu mengisi pulsa, kecuali buku elektronik atau terbitan aplikasi menulis daring. Seandainya tidak demikian, barangkali kapitalisme akan memberikan dukungan penuh pada kegiatan membaca buku (sastra) sebagaimana halnya menonton televisi yang penuh iklan atau aktivitas berbelanja online dan bermain ponsel dengan pulsa penuh. Yang pasti, hingga hari ini, karya sastra masih terasing dari pembacanya, baik disertai endorsement maupun tanpa endorsement. (*)

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Kasus Penipuan ASN di Gresik Menghadirkan Fakta Baru, Pegawai DPMD Mengaku Jadi Korban
Kronologi Kasus Pelecehan Seksual FH UI, 16 Mahasiswa Terduga Pelaku Disidang Terbuka
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
Momen Terduga Pelaku Pelecehan di FH UI yang juga Anak Polisi Dikonfrontasi Mahasiswa
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
Tak Perlu ke Jogja, 12 Tempat Kuliner Gudeg Ini Ada di Malang yang Juga Istimewa dan Rasanya Juara
12 Kuliner Nasi Pecel Enak di Jember, Perpaduan Sayur Segar, Rempeyek dan Bumbu Kacang yang Sedap
Jangan Ketinggalan! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia U-17 di Piala AFF U-17 2026
