
ILUSTRASI
Indonesia ibarat katalog bagi perbedaan. Mulai suku, agama, adat istiadat, hingga bahasa daerah yang berbeda-beda, semua ada di negara ini. Sehimpun perbedaan yang berusaha dirangkul dan disatukan tidak hanya lewat imajinasi yang sama sebagai sebuah bangsa merdeka bernama Indonesia, tapi juga diikat erat oleh bahasa persatuan Indonesia dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
MASALAHNYA, kini zaman telah jauh berubah dari tujuh puluh delapan tahun lalu. Di tengah zaman yang dikepung arus globalisasi dari segala arah dan perkembangan kesadaran yang kian mendunia, masalah perbedaan sekecil apa pun bisa menjadi pemicu keretakan, bahkan perpecahan. Bagaimana cara menyiasatinya? Salah satunya adalah dengan cara membaca sastra.
Laku Membaca
”Buku bisa membawamu berkeliling dunia dan kembali,” demikian ucap seorang tokoh penyihir dalam prekuel film Harry Potter, Fantastic Beast 2 (2022). Kalimat ini adalah sebentuk pujian untuk buku sekaligus penghormatan bagi laku membaca. Bahwa membaca tidak hanya sebatas kegiatan merangkai kata dan kalimat, tapi ada sesuatu yang lebih penting daripada itu. Lewat membaca, seseorang berusaha menjadi lebih tahu, lebih sadar, dan lebih pandai daripada sebelumnya. Dengan membaca, seseorang berusaha melampaui batas-batas dirinya sendiri, entah kemampuan, pengetahuan, bahkan mimpi-mimpinya.
Menurut Sartre, kata-kata adalah aksi. Dalam iklan, kata-kata yang menjelma dalam bentuk teks pesan produk adalah sebuah bujukan bagi siapa pun yang membacanya untuk tergerak mengonsumsi barang tersebut. Adapun dalam sastra, kata-kata akan membuat kesadaran dan jendela pengetahuan kita terbuka lebih lebar daripada sebelumnya. Kendati termasuk karya fiksi, sastra tidak semata berisi imajinasi atau khayalan sang penulis, melainkan juga menawarkan sesuatu yang hanya bisa dirasakan pembacanya. Yaitu, kekuatan untuk berpikir kritis, berempati pada sesama manusia dan setiap perbedaan, serta menumbuhkan kewaspadaan pada diri sendiri dan lingkungan sekitar.
Itulah mengapa J. Hillis Miller, dalam bukunya On Literature, berkata, ”Alasan kuat untuk membaca sastra adalah bahwa sastra masih merupakan salah satu cara tercepat, baik-buruknya, untuk menjadi berbudaya, agar dapat masuk ke suatu kebudayaan milik seseorang dan memiliki kebudayaan tersebut....”
Lewat sastra, seseorang bisa mendapatkan pengalaman tentang sesuatu hal yang tidak pernah dialaminya atau bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya. Misalnya, merasakan menjadi minoritas tanpa harus menjadi minoritas, merasakan masalah penduduk pulau terpencil tanpa harus terlahir di sana, atau memahami adat budaya salah satu suku tanpa perlu mengunjunginya. Sebab, ”kata-kata adalah simbol untuk membagi ingatan,” demikian ungkap sastrawan dunia Jorge Luis Borges.
Sastra, Literasi, dan Persatuan Bangsa
Awam memahami bahwa literasi hanya sebatas laku membaca dan menulis alias segala hal yang berhubungan dengan keberaksaraan. Pemahaman ini jelas keliru sebab makna literasi sesungguhnya jauh lebih luas daripada itu. Literasi bukan sekadar menyuruh murid-murid rajin membaca atau mendorong para guru gemar menulis, tapi ia juga mengajak setiap orang untuk mengasah nalar dan kepekaan sosial mereka, termasuk rasa solidaritas sebagai sesama manusia dan kebinekaan sebagai sebuah bangsa.
Sastra Indonesia sekaya pulau-pulau, suku bangsa, dan bahasa daerahnya. Kendati ditulis penulis Indonesia, isi, latar, dan pesan yang dibawanya bisa beraneka ragam dan berbeda-beda. Meskipun demikian, di setiap karya sastra Indonesia mestilah terdapat satu masalah yang penting untuk digarisbawahi, dicermati, dan diwaspadai bersama. Masalah yang berusaha dibungkam lewat larangan penulisan tema-tema yang mengangkat isu perbedaan seperti suku, agama, dan ras. Padahal, perbedaan suku, agama, dan ras adalah fakta. Kondisi yang benar-benar ada dan nyata terjadi di sekeliling kita, tapi bukan untuk dihakimi, melainkan dipahami lewat empati dan toleransi. Sesuatu yang bisa dijembatani lewat sastra.
Membaca buku adalah sebuah proses yang tidak bisa dipaksakan, kecuali ia akan terasa menyebalkan seperti murid yang dipaksa belajar menjelang ujian, apalagi membaca (buku) sastra. Itulah mengapa buku sastra hendaknya didekati dengan satu pemahaman yang berbeda. Bahwa jika buku pelajaran bisa memberikan pengetahuan kepada pembacanya, buku sastra akan memberikan lebih daripada itu: pengetahuan, kesadaran, dan sebuah kemungkinan atas apa yang ”dapat terjadi”. Salah satu contoh karya sastra yang memuat tiga hal tersebut adalah The Ministry of Utmost Happiness karya Arundhati Roy.
The Ministry of Utmost Happiness berkisah tentang perjuangan Aftab yang berusaha menerima kondisinya sebagai bagian dari komunitas terbuang di negerinya. Dia mesti hidup di tengah perbedaan kasta, agama, suku, bahkan identitas politik yang ada di India. Sang penulis, Arundhati, memilih untuk meminjam kehidupan Anjum sebagai alegori atas sejarah bangsanya yang terpartisi, India.
Tentu saja, hasil kerja seorang penulis tidak akan memberikan solusi praktis serupa resep obat dokter untuk pasiennya. Meskipun demikian, setidaknya hasil-hasil kesusastraan tidak terpisah dari rakyat, bahkan turut menyuarakan serta menggaungkan penderitaan masyarakat sekitarnya.
Terlepas dari berhasil atau tidak, usaha Arundhati untuk mendekonstruksi sejarah bangsanya lewat karya sastra patut diacungi jempol. Kepada dunia, dia menawarkan sebuah novel yang bisa menjadi cermin bagi kita semua bahwa suatu bangsa mesti dan selalu berdiri di atas semua identitas, entah itu India, Indonesia, atau bangsa mana pun di dunia ini. Selain itu, novel ini merupakan salah satu bukti bahwa berbicara tentang sastra dan literasi tidak hanya bisa dipandang sebagai pembicaraan tentang teks atau aksara, melainkan juga sebuah ajakan untuk berbenah demi masa depan yang lebih baik. Caranya, berani membuka diri terhadap perbedaan dan mau belajar dari pengalaman sesama manusia dan bangsa lain melalui karya-karya sastra. (*)
---

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Jadwal Piala AFF U-17 Timnas Indonesia U-17 vs Timor Leste, Siaran Langsung, dan Daftar Skuad Garuda Muda
Bupati Gresik Gus Yani Buka Suara soal Kasus SK ASN Palsu, Korban Rugi hingga Rp 150 Juta
Kasus Penipuan ASN di Gresik Menghadirkan Fakta Baru, Pegawai DPMD Mengaku Jadi Korban
Kronologi Kasus Pelecehan Seksual FH UI, 16 Mahasiswa Terduga Pelaku Disidang Terbuka
Tak Perlu ke Jogja, 12 Tempat Kuliner Gudeg Ini Ada di Malang yang Juga Istimewa dan Rasanya Juara
Momen Terduga Pelaku Pelecehan di FH UI yang juga Anak Polisi Dikonfrontasi Mahasiswa
12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
11 Tempat Kuliner Gudeg di Surabaya Paling Enak Soal Rasa Bikin Nostalgia dengan Jogja
