Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 Agustus 2023 | 20.12 WIB

Nasirun dan Suluk Seribu Peci

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Oleh SUWARNO WISETROTOMO

---

Di tengah situasi penuh tegangan lantaran perbedaan keyakinan, pandangan dan pilihan politik, relasi/kesenjangan sosial, praktik kuasa, yang membuat komunikasi mudah retak, pecah, dan putus, persahabatan memang perlu dirayakan. Persahabatan menjadi mahal. Sebab, butuh prasyarat berupa penerimaan atas segala perbedaan yang bertumpu pada kepentingan kemanusiaan.

PERUPA Nasirun tak terkecuali. Perupa kelahiran Cilacap itu mengalami dinamika persahabatan dengan sejumlah turbulensi, kemudian menyelenggarakan pameran tunggal yang didedikasikan untuk para sahabat dan persahabatan.

Pameran diselenggarakan di OHD Museum, Magelang, Jawa Tengah, dengan tajuk Perayaan Persahabatan. Pameran ini berlangsung 1 Juli sampai 31 Oktober mendatang. Terdapat sekitar 90 karya, sebagian besar merupakan koleksi pribadi Dokter Oei Hong Djien atau OHD Museum.

Di antara lukisan koleksi yang menunjukkan daya pukau –akrobatik teknik, tema, keseluruhan pencapaian tata rupa lukisan yang luruh dalam pesona misteri, ada juga karya terbarunya. Berupa lukisan berukuran 14 x 2 meter, yang dikerjakan selama pagebluk Covid-19 dan karya objek yang ditata di dinding lorong museum. Yakni, menggunakan ”benda jadi” (ready-made) berupa peci berjumlah 1.000 buah.

Narasi ”persahabatan” dalam pameran ini dapat dimaknai melalui sejumlah tanda. Pertama, persahabatan antara Nasirun dan OHD yang demikian dekat dan panjang, dapat dilihat dari sekian banyak karya yang dikoleksi sejak 1990-an hingga 2000-an. Dari koleksi itu dapat dilihat kurva pencapaian Nasirun; yang sangat mungkin Nasirun terkejut oleh karyanya sendiri sambil bergumam ”Kok bisa ya aku bikin lukisan seperti itu?”. Persahabatan antara Nasirun dan OHD menjadi penting karena dapat digunakan Nasirun sebagai cermin, juga penting bagi orang lain karena dapat digunakan untuk melihat tahapan pencapaian Nasirun.

Kedua, persahabatan Nasirun dengan sejumlah orang, mengantarkannya pada perenungan, tujuan, sikap, dan tindakan yang semakin mengerucut: keseniannya untuk memuliakan kemanusiaan. Karena itu, seloroh-seloroh Nasirun dapat dipahami dalam perspektif semacam itu. Misalnya, ia sering berucap: ”Saya akan bilang ’ya bersedia’ untuk ajakan pameran di mana pun, level apa pun”, justru ketika ia berada dalam level ”selektif” (menimbang kualitas dan skala peristiwanya). Nasirun dengan sadar memilih sikap omnipresent,”hadir” di mana pun, di setiap peristiwa kesenian, termasuk lintas pergaulan seni. Kearifan semacam ini pantas dicatat karena tak mengurangi nilai dirinya. Kemudian pernyataannya: ”Saya ini mualaf kontemporer” (lihat tiga lukisan bertajuk Mualaf Kontemporer: tiga wajah dirinya mengenakan peci dengan rambut gondrong terurai tiga warna), sesungguhnya merupakan pernyataan sinistik terhadap keriuhan sekaligus silang sengkarut percakapan seni rupa kontemporer. Sementara itu, dirinya sudah berada dalam praktik kekontemporeran, namun sekaligus mengabaikannya.

Ketiga, bagaimana Nasirun memaknai ”persahabatan” dan ”perayaan”. Persahabatan baginya adalah relasi kemanusiaan dengan segala kurang dan lebihnya. Kesalahpahaman dan ketidaksamaan adalah bagian dari dinamika persahabatan. Ihwal perayaan, tak hanya reriungan ketika masih sama-sama hidup, tetapi juga ketika kehilangan utamanya karena pergi selamanya. Sejumlah sosok yang ia kenal baik berpulang selama pagebluk (2020–2022), lalu ia abadikan dalam lukisan. Perayaan visual yang takzim dan menyentuh.

Suluk Seribu Peci

Pameran ini merupakan kesempatan Nasirun menziarahi laku kreatifnya, puluhan lukisan dan sejumlah objek (seperti lukisan pada peti mati atau karpet) yang ”berhasil” mengorkestrasi daya ganggu dan daya pukau. Karya-karya itu berada di tempat yang tepat (OHD Museum) dan dimuliakan. Ia dapat merenungkan, melacak, bagaimana dulu karya-karya itu dilahirkan. Bagi penonton juga merupakan kesempatan memahami proses kreatif Nasirun, pergulatan dan pencapaiannya, kemudian dapat menilai karya-karya maupun partisipasinya dalam banyak peristiwa kesenian.

Di manakah titik temu antara jalan seni dan jalan tarekatnya? Seperti apa ucapan, keyakinan, dan tindakannya berada dalam spirit yang sama dan tidak saling mencederai? Pertanyaan ini penting sebagai cara baca untuk melihat Nasirun secara utuh. Contoh yang akan saya persoalkan adalah karya 1000 Peci yang dipajang di sepanjang lorong OHD Museum. Secara makna, dapat dibaca sebagai bagian dari jalan tarekat (suluk) melalui peci. Tetapi dapat juga dibaca sebagai simbol identitas nasional, atau penanda kelengkapan ibadah (setara kopiah atau serban) dalam agama Islam.

Ketika peci sebagai hasil industri dijumput begitu saja sebagai medium ready-made, tanpa penjelasan secara terperinci; apakah kolaborasi, kerja sama dengan industri, atau seperti apa bentuknya, berpotensi menciptakan salah paham. Meskipun saya mendengar langsung dari Nasirun, bahwa ketika dagangan pecinya diborong, sejumlah pedagang/industri sangat gembira dan merasa tertolong. Bagaimana kemudian setelah peci itu di tangan Nasirun menjadi bernilai plus? Sebagai media suluk, tentu harus jernih dari banalitas dan prasangka.

Kesenian pada akhirnya menyatu dalam nadi spiritualitas. Kerja seni menjadi laku tarekat (thariqah: jalan, keadaan, aliran), yakni menempuh jalan berdasar syariat untuk menuju hakikat sebagai cara untuk lebih memahami dan mengenal Allah SWT, dan agar mendapatkan rida-Nya dalam segala urusan kehidupan. Kaki kesenian Nasirun terus menapaki jalan suluk ini dengan segenap daya. (*)

SUWARNO WISETROTOMO, Dosen di Fakultas Seni Rupa & Pascasarjana ISI Jogja, pengajar di PSPSR Sekolah Pascasarjana UGM, dan kurator Galeri Nasional Indonesia

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore