Salah satunya, kita mungkin pernah melihatnya di buku pelajaran sejarah SD, foto peristiwa Bung Karno, didampingi Bung Hatta dan beberapa hadirin, membaca teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Yang tak kalah terkenalnya, foto pengibaran Sang Saka Merah Putih untuk kali pertama di Jalan Pegangsaan Timur 56 pada 17 Agustus 1945.
Selain itu, yang jarang kita lihat, foto-foto gerilya Jenderal Soedirman dan pasukannya, foto jasad Muso dan tumpukan mayat dalam lubang dari peristiwa Madiun 1948.
Celakanya, kamera-kamera, mesin cetak, dan foto-foto itu remuk redam tak terawat. Mereka berdebu, membiru, dan berkarat.
Kepada Pierre Mendur, cucu keponakan ’’Mendur Bersaudara’’, penjaga Tugu Pers Mendur, saat bertemu di sana, saya bertanya: bagaimana bisa kekarutmarutan itu terjadi?
’’Torang so (kami sudah) berupa minta bantuan pemerintah for (untuk) perawatan Tugu ini, mar (tapi) bagini no (beginilah) kenyataannya,’’ kata laki-laki 54 tahun itu.
’’Mar bagini no’’ itu artinya, jangankan subsidi atau dana, perhatian kecil sedikit pun tak ada dari pemerintah saat ini.
Barangkali karena Tugu Pers Mendur, yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dari Manado pada 11 Februari 2013 tatkala ibu kota Sulawesi Utara itu menjadi tuan rumah peringatan Hari Pers Nasional, merupakan siasat politik muka manis penguasa daerah Nyiur Melambai saat itu, alih-alih ikhtiar kebudayaan penuh hormat kepada jasa-jasa ’’Mendur Bersaudara’’ bagi republik ini.
Ketika penguasa berganti, monumen dan museum itu pun tak diacuhkan lagi, sengaja tak sengaja.
Maka baiklah diingat, kedua wartawan asal Kawangkoan itu, dengan kamera dan foto, berjasa membukakan keberadaan republik ini ke kancah dunia. Kamera dan foto mereka meyakinkan bahwa republik ini merdeka dengan darah dan doa, air mata dan daya cipta.
Oleh karena itu, Janeth, saya benar-benar sedih. Di Jawa, setidaknya di Jakarta dan Jogjakarta, nama dan jasa ’’Mendur Bersaudara’’ harum semerbak di lidah dan hati penghayat jurnalisme, fotografi, dan sejarah.
Di Sulawesi Utara, khususnya di Kawangkoan dan Manado, nama dan jasa salah dua pendiri kantor berita foto IPPHOS (Indonesia Press Photo Service) itu tenggelam dalam riuh rendah mal, tempat wisata, dan swalayan ’’I-A’’ yang menggurita hingga pelosok Kawangkoan dan sudut-sudut terjauh Manado. Nama dan jasa ’’Mendur Bersaudara’’ seperti mikrolet tua yang terjebak macet di kawasan Boulevard Manado. Nama dan jasa ’’Mendur Bersaudara’’ sunyi senyap di balik ketenaran kacang Kawangkoan.
Janeth yang baik.
Saya bisa jadi berlebihan dengan semua kesedihan itu. Tapi, saya tak dapat berpura-pura atas realitas lampus Tugu Pers Mendur.
Penderitaannya hari-hari ini, yang tak membangkitkan iba, bisa diterjemahkan sebagai sejarah telah tak diacuhkan di provinsi ini, dan warga dan penguasanya berbahagia saja mengunyah pisang goroho, melahap tinutuan, dan mengganyang nasi jaha.
Kereyotannya kini jadi bukan berarti apa-apa kecuali alpa yang disengaja. Kesunyi-senyapannya saat ini bukan duka yang harus diratap-sesali sepanjang masa. Kesirnaannya nanti bukan lampus di malam kudus melainkan risiko kumpulannya yang terbuang.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
