
Ilustrasi jemaah haji saat melaksanakan tawaf wada dengan mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali. (MCH 2025)
JawaPos.com – Pelaksanaan ibadah haji 2025 menyisakan banyak catatan positif. Salah satunya adalah dorongan kuat untuk membangun kesadaran berhaji sejak dini, khususnya bagi generasi muda. Ajakan itu disampaikan Rektor IPB yang juga anggota Amirul Hajj, Prof. Arif Satria, saat mendampingi kepulangan jemaah haji Indonesia di Madinah, Kamis (12/6).
Menurut Arif, saat ini Indonesia telah memasuki fase masyarakat menua (aging society), dan ini tercermin dalam komposisi jemaah haji yang mayoritas sudah lanjut usia. Karena itu, perlu ada gerakan masif untuk mendorong anak muda menabung sejak dini dan mendaftar haji di usia produktif.
“Kalau anak-anak muda sekarang masih mahasiswa, sudah mulai nabung. Baru lulus, kerja, harus sudah mulai daftar. Sehingga bisa berhaji di usia di bawah 45 atau 40 tahun,” tutur Arif.
Dia menekankan bahwa berhaji di usia muda akan membuat proses ibadah lebih nyaman secara fisik, lebih mudah secara logistik, dan lebih berdaya guna untuk masa depan. “Saya kira itu jauh lebih memudahkan bagi semuanya, termasuk jemaah itu sendiri,” lanjutnya.
Namun, tantangan yang muncul belakangan justru datang dari maraknya narasi negatif seputar haji di media sosial. Video-video viral, cerita-cerita problematis, hingga misinformasi kerap membanjiri linimasa dan menciptakan kesan bahwa ibadah haji adalah pengalaman berat dan penuh masalah.
“Ini medsos harus diisi dengan energi-energi positif. Supaya yang muncul di medsos itu, haji itu bukan sesuatu yang menyeramkan, tapi menjurus pada edukasi tentang makna haji sebagai sebuah proses spiritual,” ucap Arif.
Ia mengingatkan, haji bukanlah wisata biasa. “Ini bukan wisata fisikal. Kalau cuma wisata fisikal, ya sama saja ke Singapura atau Amerika. Tapi haji adalah wisata spiritual, puncak penyadaran, kekuatan spiritualitas bagi umat Islam,” tambahnya.
Untuk itu, ia mengajak semua pihak – termasuk para influencer, tokoh masyarakat, dan media – agar menyebarkan sisi-sisi positif penyelenggaraan haji. Mengangkat semangat, kekhidmatan, dan ketulusan para jemaah dan petugas yang melayani mereka dengan sepenuh hati.
“Kalau orang pesan ke sini (berhaji), yang muncul di benaknya haruslah mata lebah, bukan mata lalat,” ujar Arif.
Ia menjelaskan, kebahagiaan berhaji sangat dipengaruhi oleh cara pandang. “Kalau kita melihatnya dengan mata lebah, maka yang muncul adalah kebahagiaan. Tapi kalau kita terus pakai mata lalat, yang muncul energi negatif,” tegasnya.
Lebih lanjut, dia berharap semangat berhaji bisa tumbuh dari generasi ke generasi, terutama dengan dukungan sistem dan edukasi yang menyeluruh. “Kalau kita persiapkan dari sekarang, kita bisa lahirkan generasi haji muda yang tangguh secara fisik dan matang secara spiritual.”

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
