Tampilan iPhone 16. (Nanda Prayoga/JawaPos.com)
JawaPos.com-Musim Lebaran 2025 memang telah berlalu. Hanya saja, tren menarik dari musim mudik dan silaturahmi masih menjadi perbincangan, salah satunya praktik penyewaan smartphone.
Salah satu merek yang paling sering dicari untuk disewa adalah iPhone. Tujuannya jelas agar penyewa tampil lebih percaya saat bersilaturahmi bersama keluarga.
Di balik tren ini, muncul kekhawatiran baru yakni risiko pencurian data dan pembajakan akun. Sayangnya, masih banyak yang belum menyadari bahwa perangkat sewaan menyimpan potensi celah keamanan yang serius.
“Menyewa smartphone untuk keperluan sesaat memang praktis, tapi jangan lupa, perangkat itu bisa menyimpan jejak data sensitif kita,” kata Niki Luhur, Founder dan Group CEO VIDA, perusahaan penyedia identitas digital.
Dia menjelaskan, banyak orang tidak sadar bahwa saat menyewa smartphone dan menggunakannya untuk mengakses akun digital atau mengisi data pribadi seperti KTP dan foto pribadi (selfie) menandakan mereka sedang membuka celah bagi kejahatan online.
“Fraudster tidak perlu meretas sistem, karena celahnya sangat terbuka, mulai dari data yang tersimpan otomatis, cache aplikasi, hingga akses residual ke iOS atau Android dari pemilik sebelumnya. Dengan itu, mereka bisa mengambil alih akun siapa pun hanya dalam hitungan menit dan itulah yang kita kenal sebagai Account Takeover,” ungkap Niki.
Melihat hal ini, ia mengimbau masyarakat untuk lebih waspada saat menggunakan perangkat sewaan. Terutama ketika mengakses layanan penting seperti perbankan digital, dompet digital, e-commerce, hingga media sosial.
Pasalnya, perangkat sewaan menyimpan risiko keamanan tinggi, terutama jika digunakan untuk login, transaksi, atau verifikasi identitas digital.
Sebagai informasi, Berdasarkan whitepaper terbaru VIDA, "Where’s The Fraud? The State of Authentication and Account Takeovers in Indonesia," ditemukan fakta-fakta yang mengkhawatirkan dan berpotensi terjadi apabila menyewa smartphone:
1. 97 persen perusahaan di Indonesia mengalami insiden Account Takeover dalam 12 bulan terakhir.
2. 67 persen konsumen telah menjadi korban transaksi tidak sah di akun digital mereka.
3. 7 dari 10 kasus serangan siber terhadap bisnis dan individu melibatkan akses tanpa izin dari perangkat atau lokasi yang tidak dikenal.
4. 71 persen insiden Account Takeover berujung pada kerugian finansial atau transaksi tidak sah. (*)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
