
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Kenaikan imbal hasil (yield) Obligasi Pemerintah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menunjukkn perkembangan yang positif dan perlu disambut sebagai bagian dari proses normalisasi pasar keuangan domestik.
Menurut Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, setelah periode panjang di mana kurva imbal hasil pemerintah berada pada kondisi yang sangat datar (super flat), pasar kini mulai bergerak kembali ke arah yang lebih sehat dan mencerminkan harga risiko yang sebenarnya.
"Selama beberapa bulan terakhir kita melihat kondisi yang tidak normal. Kurva imbal hasil terlalu datar dan tidak sepenuhnya mencerminkan risiko yang sedang dihadapi perekonomian Indonesia maupun kondisi global. Kenaikan yield saat ini justru merupakan proses pemulihan fungsi pasar yang sehat," ujar Fakhrul.
Ia menjelaskan bahwa pasar obligasi merupakan fondasi utama sistem keuangan modern. Ketika harga obligasi tidak lagi mencerminkan keseimbangan antara risiko dan imbal hasil, maka investor akan kehilangan referensi harga yang kredibel untuk menempatkan modalnya.
"Investor global selalu membandingkan risiko dan return antar negara. Jika risiko meningkat tetapi yield tidak menyesuaikan, maka daya tarik aset keuangan akan menurun dan tekanan terhadap nilai tukar menjadi lebih besar. Karena itu, normalisasi yield merupakan bagian penting dari strategi stabilisasi rupiah," katanya.
Menurut Fakhrul, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar tenor Surat Berharga Negara kini telah bergerak kembali ke atas level 7,0 persen, suatu perkembangan yang menurutnya penting untuk mengembalikan daya tarik pasar obligasi Indonesia di mata investor global.
"Yield di atas 7 persen mulai membuat pasar obligasi Indonesia kembali kompetitif. Investor membutuhkan kompensasi risiko yang memadai. Tanpa itu, kita akan kesulitan menarik arus modal yang dibutuhkan untuk memperkuat neraca pembayaran dan menjaga stabilitas rupiah," jelasnya.
Bahkan, Fakhrul menilai bahwa proses penyesuaian tersebut masih dapat berlanjut secara bertahap sebelum pasar mencapai titik keseimbangan yang baru.
"Saya melihat investor dapat mulai melakukan akumulasi secara bertahap ketika imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun berada di atas kisaran 7,3 persen. Pada level tersebut, valuasi mulai menjadi menarik bagi investor jangka panjang, terutama apabila dibarengi dengan perbaikan arah kebijakan fiskal dan stabilitas nilai tukar," ujarnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Prediksi Skor Al-Hilal vs Al-Gharafa di Liga Champions Asia: Gabriel Martinelli Cetak Gol Lagi!
Prediksi Genoa vs Sudtirol: Rotasi De Rossi Jadi Sorotan, Laga Coppa Italia Bisa Berlangsung Sengit
Prediksi Skor Atletico Madrid vs Osasuna di Liga Spanyol: Los Colchoneros Menang di Metropolitano

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022