
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelum memberikan paparan pada konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Selasa (14/10/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mendorong Bank Indonesia (BI) untuk segera menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate ke level yang lebih rendah, yakni 3,5%, dari posisi saat ini 4,75%.
Langkah itu, menurutnya, akan menjadi kunci memperkuat daya saing ekonomi nasional dan menurunkan beban bunga pinjaman dunia usaha.
“Kalau inflasi bisa terus-terusan di 2,5%, BI harus dipaksa, pelan-pelan akan bisa dipaksa, menurunkan suku bunga acuannya ke 3,5%. Harusnya bunga pinjamannya juga turun ke 7% atau bahkan lebih rendah,” ujar Purbaya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin (20/10).
Purbaya menjelaskan, penurunan suku bunga bukan sekadar kebijakan moneter, melainkan hasil konsistensi dalam mengendalikan inflasi. Pemerintah, kata dia, telah menempuh berbagai langkah agar inflasi tetap sesuai target, yakni di kisaran 2,5%, melalui kerja sama erat antara Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).
Menurut Purbaya, upaya itu penting karena kebijakan utama bank sentral berbasis pada inflation targeting regime, yakni penyesuaian bunga berdasarkan tingkat inflasi.
“Biasanya suku bunga itu beberapa persen di atas inflasi. Kalau inflasinya 7%, suku bunga bisa 8% atau lebih sedikit, bunga pinjamannya tentu lebih tinggi lagi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Purbaya menilai stabilitas inflasi yang rendah memberi ruang bagi BI untuk lebih agresif menurunkan bunga acuan tanpa mengorbankan kestabilan harga. Langkah tersebut, kata dia, sangat dibutuhkan agar biaya kredit bisa turun dan aktivitas ekonomi meningkat.
“Pemerintah waktu itu enggak bisa mengendalikan bank sentral, jadi cara kita kendalikan bank sentral adalah dengan mengendalikan inflasi,” tegasnya.
“Kalau itu yang terjadi, ekonomi kita bisa tumbuh lebih cepat lagi. Paling tidak kita bisa bersaing dengan negara lain. Di Malaysia bunga pinjaman paling 5%, kalau di sini ketinggian, ya perusahaan kita kalah bersaing,” tambahnya lagi.
Desakan Purbaya muncul di tengah momentum pemulihan ekonomi pasca-pelemahan global dan stagnasi investasi sektor riil. Banyak pelaku usaha mengeluhkan bunga pinjaman yang masih tinggi sehingga menahan ekspansi bisnis.
Dengan inflasi yang relatif stabil dan cadangan devisa yang kuat, tekanan terhadap rupiah juga mulai mereda. Kondisi ini, menurut analis, membuka peluang bagi BI untuk melonggarkan kebijakan moneter secara bertahap tanpa menimbulkan gejolak di pasar keuangan.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
