Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 Juli 2025 | 14.00 WIB

Utang Luar Negeri Melambat, BI: Struktur Tetap Sehat dan Terkelola Baik


Sejumlah warga mengantri menukarkan uang di layanan kas keliling Bank Indonesia di Halaman Masjid Hasyim Asyari, Jakarta, Selasa (4/3/2025). (Hanung Hambara/Jawa Pos)

JawaPos.com - Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2025 melambat. Hanya tumbuh 6,8 persen secara tahunan menjadi USD 435,6 miliar. Lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada April 2025 sebanyak 8,2 persen Year-on-Year (YoY).

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, perlambatan pertumbuhan ini disebabkan menurunnya kinerja ULN di sektor publik maupun swasta. "Perlambatan ULN terutama disebabkan oleh lambatnya pertumbuhan ULN pada sektor publik dan penurunan pertumbuhan ULN swasta," ungkap Ramdan, Senin (14/7).

ULN Pemerintah Masih Tumbuh, Tapi Melambat

ULN pemerintah pada Mei 2025 sebesar USD 209,6 miliar, tumbuh 9,8 persen YoY. Melambat dari pertumbuhan April 2025 yang sebesar 10,4 persen YoY.

Perlambatan tersebut dipicu oleh pembayaran jatuh tempo surat berharga negara (SBN) internasional. Meski di sisi lain terjadi aliran masuk modal asing ke SBN domestik.

"Seiring tetap terjaganya kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah global. Sebagai salah satu instrumen pembiayaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), pemanfaatan ULN terus diarahkan pada prioritas program dalam mendukung stabilitas dan momentum pertumbuhan ekonomi dengan tetap memperhatikan aspek keingintahuan pengelolaan ULN," jelas Ramdan.

Dia memastikan, ULN pemerintah dimanfaatkan untuk mendukung sektor prioritas. Seperti jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebanyak 22,3 persen. Lalu, administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial sebesar 18,7 persen.

Ada pula pemanfaatan ULN untuk jasa pendidikan, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan. Denny menjelaskan, mayoritas ULN pemerintah masih didominasi oleh utang jangka panjang. Dengan proporsi mencapai 99,9 persen dari total ULN pemerintah.

ULN Swasta Kembali Tertekan

Sementara itu, posisi ULN swasta sebesar USD 196,4 miliar. Mengalami kontraksi pertumbuhan 0,9 persen secara tahunan. Bahkan lebih dalam dari kontraksi bulan sebelumnya yang 0,4 persen YoY. Pelemahan itu bersumber dari ULN lembaga keuangan yang turun dari bulan sebelumnya sebesar 2,8 persen menjadi 1,2 persen pada Mei 2025.

"ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporation) juga mencatat penurunan pertumbuhan sebesar 1,4 persen YoY, lebih besar dibandingkan durasi 1,2 persen YoY pada April 2025," jelasnya.

ULN swasta mayoritas berasal dari sektor industri pengolahan. Disusul, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian. Sektor-sektor tersebut menyumbang 80,2 persen dari total ULN swasta.

"Sama seperti pemerintah, ULN swasta juga didominasi oleh utang jangka panjang, dengan pangsa mencapai 76,5 persen," imbuhnya.

Denny memastikan, secara keseluruhan struktur ULN Indonesia tetap sehat. Optimalisasi peran ULN tetap dilakukan secara hati-hati dengan meminimalkan risiko terhadap stabilitas perekonomian nasional. Rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) masih terjaga di level 30,6 persen.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore