Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 20 Oktober 2023 | 18.20 WIB

BI Sebut Suku Bunga Dinaikkan agar Rupiah Tak Makin Ambles

Gubernur BI Perry Warjiyo - Image

Gubernur BI Perry Warjiyo

JawaPos.com - Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6 persen, Kamis (19/10). Kenaikan ini untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak meningkat tingginya ketidakpastian global.

Serta sebagai langkah pre-emptive dan forward looking untuk memitigasi dampaknya terhadap inflasi barang impor (imported inflation). Sehingga inflasi tetap terkendali dalam sasaran 3 persen pada 2023 dan 2,5 persen di 2024.

Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan, perekonomian global melambat dengan ketidakpastian yang semakin meningkat tinggi. Pertumbuhan ekonomi global diprakirakan melemah disertai divergensi pertumbuhan antarnegara yang semakin melebar.

Tahun ini diprakirakan sebesar 2,9 persen. Yang kemudian melambat 2,8 persen tahun depan dengan kecenderungan risiko yang lebih rendah.

"Ekonomi Amerika Serikat (AS) pada 2023 masih tumbuh kuat terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan sektor jasa yang berorientasi domestik. Sedangkan Tiongkok melambat dipengaruhi oleh pelemahan konsumsi dan penurunan kinerja sektor properti," ucap Perry usai rapat dewan gubernur di Gedung Thamrin.

Meningkatnya ketegangan geopolitik mendorong harga energi dan pangan meningkat. Sehingga mengakibatkan tetap tingginya inflasi global. Untuk mengendalikan inflasi, suku bunga kebijakan moneter di negara maju, termasuk Federal Funds Rate (FFR), tampaknya akan tetap bertahan tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer).

Kenaikan suku bunga global diperkirakan akan diikuti pada tenor jangka panjang dengan kenaikan yield obligasi pemerintah negara maju, khususnya US Treasury. Sejalan dengan peningkatan kebutuhan pembiayaan utang pemerintah AS dan kenaikan premi risiko jangka panjang.

Berbagai perkembangan tersebut mendorong pembalikan arus modal dari negara emerging market economies (EMEs) ke negara maju dan ke aset yang lebih likuid. "Ini yang mengakibatkan dolar AS (USD) menguat secara tajam terhadap berbagai mata uang dunia. Karenanya memerlukan penguatan respons kebijakan untuk memitigasi dampak negatif rambatan global terhadap ketahanan ekonomi domestik di negara-negara EMEs, termasuk Indonesia," jelas lulusan Iowa State University itu.

Kuatnya USD menyebabkan tekanan pelemahan berbagai mata uang negara lain, termasuk nilai tukar rupiah. Dibandingkan akhir 2022, indeks nilai tukar USD terhadap mata uang utama (DXY) pada 18 Oktober 2023 tercatat tinggi. Yakni di level 106,21 atau menguat 2,60bpersen year-to-rate (YtD).

Sangat kuatnya mata uang Negri Paman Sam itu memberikan tekanan depresiasi mata uang hampir seluruh mata uang dunia, seperti yen Jepang (JPY), dolar Australia (AUD), dan Euro (EUR) yang masing-masing melemah 12,44 persen, 6,61 persen, dan 1,40 persen YtD. Di kawasan Asia Tenggara, ringgit Malaysia, baht Thailand, dan peso Filipina masing-masing terdepresiasi 7,23 persen, 4,64 persen, dan 1,73 persen YtD. Sedangkan rupiah terdepresiasi 1,03 persen YtD.

"Dalam periode yang sama, dengan langkah-langkah stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia, relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara di kawasan dan global tersebut," beber Perry.

Ke depan, lanjut dia, masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global BI terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah. Agar sejalan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian imported inflation.

Di samping intervensi di pasar valuta asing, bank sentral mempercepat upaya pendalaman pasar uang rupiah dan pasar valuta asing. "Termasuk optimalisasi SRBI dan penerbitan instrumen-instrumen lain untuk meningkatkan mekanisme pasar baik dalam meningkatkan manajemen likuiditas institusi keuangan domestik dan menarik masuknya aliran portofolio asing dari luar negeri," imbuhnya.

Menurut dia, koordinasi dengan pemerintah, perbankan, dan dunia usaha terus ditingkatkan dan diperluas. Terutama untuk implementasi instrumen penempatan valas devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) sejalan dengan PP Nomor 36 Tahun 2023.  

Sementara itu, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menuturkan, The Federal Reserve (The Fed) sudah sudah menaikkan suku bunga yang cukup tinggi. Saat ini di level 5,25-5,5 persen. Nah, kemungkinan pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) November mendatang akan menaikkan suku bunga.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore