
Ilustrasi uang saku. Pemberian uang saku pada anak tidak boleh dilakukan asal-asalan, dan harus memperhatikan kebutuhan anak sekaligus mengajarkan tanggung jawab.
JawaPos.com - Uang saku adalah sumber penghasilan utama bagi seorang anak. Perencana keuangan dari ZAP Finance Prita Ghozie mengatakan, pemberian uang saku bisa dilakukan ketika Anda merasa bahwa anak sudah memenuhi minimal salah satu dari tiga kondisi berikut ini.
Pertama, anak memiliki keinginan membeli barang atau mainan dengan nilai besar. Kedua, anak menyadari kebutuhan untuk menyimpan uang, dan bukannya menghabiskan seluruh uang yang dimiliki.
Atau ketiga, anak mampu untuk berhitung dan mampu untuk bertanggung jawab dalam penyimpanan uang saku. Jika anak Anda sudah berada pada salah satu kondisi tersebut, maka inilah hal-hal yang sebaiknya diperhatikan dalam pemberian uang saku.
1. Mencatat dan mengevaluasi penggunaan
Anda bisa mengajarkan untuk membagi uang saku menjadi tiga pos misalnya dengan prosentase 50:40:10. Artinya setengah dari uang saku bebas dibelanjakan anak untuk jajan dan belanja.
Kemudian, 40 persen dari uang saku sebaiknya ditabung untuk dana pembelian barang yang bernilai besar di kemudian hari. Sedangkan 10 persennya disisihkan untuk dana sosial seperti kotak amal maupun sumbangan.
2. Frekuensi pemberian
Hingga anak berusia 10 tahun, uang saku biasanya diberikan secara harian. Namun, di atas usia tersebut, ada baiknya mulai diberikan secara mingguan. Dengan konsep tersebut, anak akan belajar untuk membagi uang sakunya agar cukup memenuhi kebutuhannya selama periode tersebut.
Anda sebaiknya tegas kepada anak ketika mereka meminta tambahan uang saku karena menghabiskan uang saku sebelum periode berakhir. Ajarkan anak untuk menghadapi konsekuensi atas perbuatan yang dilakukannya.
Misalnya, daripada memberikan uang saku tambahan untuk jajan, ajarkan anak untuk membuat sendiri barang yang diinginkan.
3. Kapan memberi tambahan uang saku?
Uang saku juga bisa menjadi metode yang tepat dalam mengajarkan konsep kewajiban dan hak. Misalnya, anak bisa mendapatkan uang saku tambahan ketika membantu pekerjaan rumah yang sesuai dengan usianya.
Momen khusus seperti lebaran maupun pembagian rapor bisa jadi waktu yang tepat untuk memberikan insentif atas hasil usahanya. Atau, saat anak memperoleh prestasi gemilang di sekolah berkat ketekunannya belajar, maka ada tambahan uang saku yang diberikan.
4. Bentuk uang saku
Uang saku berbentuk tunai akan lebih mudah untuk dibelanjakan, namun lebih sulit untuk dicatat dan dievaluasi penggunaannya. Sedangkan, uang saku berbentuk kartu elektronik akan memudahkan orang tua untuk melakukan pengawasan.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
