
Rupiah Menguat, Tembus 13.711 per USD
Dengan perkembangan tersebut, lanjutnya, posisi cadangan devisa per akhir September 2015 masih cukup membiayai 7,0 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. "Cadangan devisa saat ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," tambahnya.
Otoritas moneter menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
Penguatan tajam rupiah juga membuat para pelaku usaha di bidang ekspor impor mulai melakukan kalkulasi ulang. Ketua Umum Asosiasi Eksportir-Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia (Aseibssindo) Khafid Sirotuddin mengatakan meski rupiah mulai menguat beberapa hari
ini namun belum menjadi momen yang tepat untuk melakukan importasi. "Harga masih tinggi kalau mengimpor sekarang, terakhir kita impor waktu rupiah masih Rp 13.000 per dolar AS," tuturnya.
Saat delivery order (DO) importir harus membayar uang muka, selanjutnya saat buah dan sayuran di negara asal panen dan siap dikirim dolar malah menguat hingga tembus Rp 14.500 per dolar AS.
"Harga dari penjual memang tetap misal USD 2 per kilo tapi kita bayarnya pakai rupiah jadi dari harusnya Rp 26.000 jadi Rp 29.000 perkilo. Nah kalau se kontainer?," keluhnya.
Para importir buah sekarang ini belum berani melakukan delivery order (DO) lagi khawatir dalam beberapa bulan kedepan dolar akan semakin menguat. Sebab jika kurs masih tinggi maka harga jual ke dalam negeri juga menjadi mahal."Masalahnya daya beli masyarakat sedang menurun. Akibatnya banyak importir yang pilih jual rugi asal buah cepat laku, daripada busuk," tukasnya.
Sementara buah dan sayuran lokal belum bisa diandalkan untuk menggenjot ekspor. Padahal seharusnya pelemahan rupiah memberi keuntungan besar bagi eksportir."Belum banyak yang bisa kita ekspor paling cuma manggis, buah naga, mangga, salak. Itupun masih harus pakai pesawat karena volume yang diekspor kecil. Harganya mahal karena ongkosnya tinggi," tuturnya.
Selain harga mahal, kualitas buah atau barang lain produksi Indonesia dianggap belum cukup baik di pasar internasional. Akibatnya selama ini ekspor di dominasi komoditi seperti CPO atau karet. Itu yang membuat ekspor tidak banyak bergerak meski dolar menguat. "Mau dolar Rp 13.000 atau 14.500 kalau negara lain tidak mau terima barang dari kita mau apa?," terangnya.
Dia berharap dalam paket kebijakan ekonomi jilid III pemerintah mampu mendorong daya beli masyarakat, terutama dengan menurunkan harga BBM. Sebab hal itu berkaitan langsung dengan distribusi barang. "Kita berharap biaya logistik di dalam negeri bisa turun sehingga harga barang kita bisa murah di luar negeri. Daya saing ekspor kita meningkat," jelasnya. (owi/dee/wir/dim/gen)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
