Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 8 Oktober 2015 | 14.17 WIB

Rupiah Menguat, Tembus 13.711 per USD

Rupiah Menguat, Tembus 13.711 per USD - Image

Rupiah Menguat, Tembus 13.711 per USD



Dengan perkembangan tersebut, lanjutnya, posisi cadangan devisa per  akhir September 2015 masih cukup membiayai 7,0 bulan impor atau 6,8  bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. "Cadangan  devisa saat ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar  3 bulan impor," tambahnya.



Otoritas moneter menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung  ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan  ekonomi Indonesia ke depan.



Penguatan tajam rupiah juga membuat para pelaku usaha di bidang ekspor  impor mulai melakukan kalkulasi ulang. Ketua Umum Asosiasi  Eksportir-Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia (Aseibssindo) Khafid Sirotuddin mengatakan meski rupiah mulai menguat beberapa hari

ini namun belum menjadi momen yang tepat untuk melakukan importasi. "Harga masih tinggi kalau mengimpor sekarang, terakhir kita impor  waktu rupiah masih Rp 13.000 per dolar AS," tuturnya.



Saat delivery order (DO) importir harus membayar uang muka,  selanjutnya saat buah dan sayuran di negara asal panen dan siap  dikirim dolar malah menguat hingga tembus Rp 14.500 per dolar AS.



"Harga dari penjual memang tetap misal USD 2 per kilo tapi kita  bayarnya pakai rupiah jadi dari harusnya Rp 26.000 jadi Rp 29.000  perkilo. Nah kalau se kontainer?," keluhnya.



Para importir buah sekarang ini belum berani melakukan delivery order  (DO) lagi khawatir dalam beberapa bulan kedepan dolar akan semakin menguat. Sebab jika kurs masih tinggi maka harga jual ke dalam negeri juga menjadi mahal."Masalahnya daya beli masyarakat sedang menurun. Akibatnya banyak importir yang pilih jual rugi asal buah cepat laku,  daripada busuk," tukasnya.



Sementara buah dan sayuran lokal belum bisa diandalkan untuk  menggenjot ekspor. Padahal seharusnya pelemahan rupiah memberi  keuntungan besar bagi eksportir."Belum banyak yang bisa kita ekspor paling cuma manggis, buah naga, mangga, salak. Itupun masih harus  pakai pesawat karena volume yang diekspor kecil. Harganya mahal karena  ongkosnya tinggi," tuturnya.



Selain harga mahal, kualitas buah atau barang lain produksi Indonesia  dianggap belum cukup baik di pasar internasional. Akibatnya selama ini  ekspor di dominasi komoditi seperti CPO atau karet. Itu yang membuat ekspor tidak banyak bergerak meski dolar menguat. "Mau dolar Rp 13.000  atau 14.500 kalau negara lain tidak mau terima barang dari kita mau  apa?," terangnya.



Dia berharap dalam paket kebijakan ekonomi jilid III pemerintah mampu  mendorong daya beli masyarakat, terutama dengan menurunkan harga BBM.  Sebab hal itu berkaitan langsung dengan distribusi barang. "Kita berharap biaya logistik di dalam negeri bisa turun sehingga harga  barang kita bisa murah di luar negeri. Daya saing ekspor kita  meningkat," jelasnya. (owi/dee/wir/dim/gen)



Editor: Arwan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore