Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 29 Mei 2025 | 05.55 WIB

Pertumbuhan DPK Nasabah Kaya BNI Capai 16 Persen

Pegawai mengamati layar transaksi obligasi di dealing room BNI, Jakarta, Kamis (22/5/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Pegawai mengamati layar transaksi obligasi di dealing room BNI, Jakarta, Kamis (22/5/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Dana pihak ketiga (DPK) nasabah kaya PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) tumbuh double digit. Sejalan dengan pengembangan beragam layanan digital dan keuangan, termasuk tabungan. Tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) memberikan ruang perbankan untuk menjaga likuiditas.

Pertumbuhan DPK segmen menengah ke atas dengan minimum penempatan dana Rp 5 miliar mencapai 16 persen secara tahunan hingga April 2025. Direktur Consumer Banking BNI Corina Leya Karnalies mengungkapkan, peningkatan dana dan jumlah nasabah tersebut tidak terlepas beragam layanan digital dan keuangan khususnya pada nasabah Emerald.

Jumlah nasabah dengan asset under management (AUM) lebih dari Rp 5 miliar juga naik 15 persen year-on-year (YoY). Selain itu, peningkatan AUM juga terjadi pada produk investasi dan bancassurance yang meningkat 17 persen YoY.

"Mengamati pergerakan portfolio nasabah, komposisi tabungan dengan AUM minimal Rp 5 miliar mengalami kenaikan porsi dari sebelumnya 36 persen menjadi 39 persen dari total AUM yang ada," beber Corina, Rabu (28/5).

Peningkatan tersebut antara lain didorong adanya pengembangan terhadap fitur produk tabungan. Sejalan dengan era yang serba digital, BNI melakukan penyempurnaan. Melalui fitur dan layanan yang lengkap, cepat dan mudah melalui Wondr by BNI.

Corina mengatakan, strategi BNI dalam menghimpun DPK di tengah persaingan likuiditas industri perbankan salah satunya melalui penguatan relationship manager (RM) khusus bagi nasabah Emerald. Yakni segmen nasabah dengan AUM minimum Rp 1 miliar.

"Kami percaya customer merupakan aset berharga, oleh karenanya kami menyiapkan dedicated relationship manager untuk mengetahui kebutuhan nasabah agar terlayani dengan baik," ujarnya.

Perluasan customer base juga menjadi target fokus BNI tahun ini. Percepatan pertumbuhan nasabah baru menjadi bagian dari mesin pertumbuhan perseroan. Corina optimistis pencapaian ini akan berlanjut.

BNI menangkap peluang dari penurunan BI rate untuk memperkuat posisi likuiditas. Sejak September 2024, bank sentral telah menurunkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin (bps) dari 6,25 persen menjadi 5,5 persen.

"Penurunan BI rate juga diikuti dengan kenaikan likuiditas di market sehingga memberikan ruang bagi perbankan untuk meningkatkan likuiditas," ujar Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo.

Menurut dia, BNI mengambil langkah strategis dengan fokus pada DPK yang berkelanjutan dari segmen ritel. Sejalan dengan rencana bank dalam penghimpunan DPK melalui aplikasi Wondr dan BNI Direct. Untuk mendorong dana murah berbasis transaksi.

Selain mengandalkan DPK, pendanaan dari sumber non-DPK yang bersifat jangka panjang juga diperkuat. Dengan tetap memerhatikan efisiensi struktur biaya pendanaan.

Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar yang kompetitif dan terus berubah. BNI secara aktif mengevaluasi komposisi portofolio aset agar tetap optimal. Serta berupaya mendorong pertumbuhan aset sambil menjaga kualitas kredit tetap terjaga.

"Namun demikian, ini tidak serta merta mengubah strategi pembiayaan dan kredit di BNI," ujar Okki.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore