
Direktur Utama BRI Sunarso. (Foto: M. Ali/Jawa Pos)
JawaPos.com - Fluktuasi pasar, kompleksitas isu global, serta dinamika di dalam negeri menuntut kesiapan strategic response yang tepat. Termasuk bagi perbankan.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) memilih untuk wait and see sembari mengembangkan pendekatan yang fleksibel dan terukur. Direktur Utama BRI Sunarso optimistis terhadap tren profitabilitas 2025-2026. Tentu dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian.
"Jika tantangannya tidak lebih buruk dari sekarang, kita masih bisa bertahan. Namun, jika tantangannya memburuk, kita harus punya plan B. Apa yang harus kita perketat, mana yang harus kita jaga, kita sudah menyiapkan langkah-langkah antisipasi untuk menghadapi kondisi yang lebih buruk," terangnya, Rabu (19/2).
Berbagai langkah strategis telah disiapkan. Termasuk rencana cadangan untuk mengantisipasi potensi krisis. Pendekatan yang dilakukan BRI ibarat kompetisi sepak bola.
Prinsip utama yang dipegang adalah untuk meraih kemenangan. Meski hasilnya tidak selalu sempurna. Dalam keadaan normal, misalnya, BRI bisa menang 3-0 yang berarti likuiditas, kualitas, dan profitabilitas berada dalam kondisi baik.
"Sebaliknya, dalam situasi penuh ketidakpastian, BRI cukup menang 2-1, yakni dengan tetap menjaga likuiditas dan kualitas untuk memastikan keberlanjutan. Meskipun profitabilitas bisa sedikit menurun, yang penting adalah kita tetap bertahan," ujarnya.
Dengan tujuan, mampu menjaga momentum pertumbuhan BRI di tengah dinamika global dan domestik. Serta konsisten memberikan nilai tambah yang signifikan bagi pemegang saham.
Bahkan, sebagai bagian dari strategi untuk menjaga keberlanjutan operasional, Sunarso menyoroti pentingnya kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR). Menurut dia, rasio CAR BRI yang tinggi menunjukkan fondasi yang kuat untuk ekspansi bisnis dan mitigasi risiko.
Saat ini, CAR tercatat lebih dari 26 persen. Jauh di atas threshold basel III. Yang mana sebenarnya perseroan hanya membutuhkan CAR sebesar 17,5 persen untuk melindungi risiko sesuai ketentuan.
"Itu berarti kami memiliki ruang lebih dari 7 persen untuk penggunaan modal. Ini menunjukkan bahwa selama lima tahun ke depan, berapa pun laba yang dihasilkan, BRI tidak perlu menahan laba untuk memperkuat modal. Dan berapapun laba BRI memang harus dibagi," beber Sunarso.
Penting menjaga kualitas aset untuk memastikan bisnis BRI tetap sustain dalam jangka panjang. Dengan pengelolaan portofolio kredit secara hati-hati. Serta, mengantisipasi potensi penurunan kualitas dengan menyediakan pencadangan yang mencukupi.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
