Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 17 Desember 2024 | 23.00 WIB

Data Ekonomi AS Resilien, Rupiah Gembos ke Rp 16.000

Rupiah dalam sepekan ini mendekati angka Rp 15.000 per USD. Meski demikian, keperkasaan mata uang Garuda bakal terus teruji seiring labilnya pasar finansial global. (ADEK BERRY/AFP) - Image

Rupiah dalam sepekan ini mendekati angka Rp 15.000 per USD. Meski demikian, keperkasaan mata uang Garuda bakal terus teruji seiring labilnya pasar finansial global. (ADEK BERRY/AFP)

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah kembali menyentuh level Rp 16 ribu per USD. Didorong oleh sentimen global. Khususnya kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS).

Berdasar data Bloomberg Market Spot Rate hingga pukul 10.51 WIB, Selasa (17/12), USD menguat terhadap rupiah di level Rp 16.049. Sejumlah perbankan seperti OCBC menjual rupiah di posisi Rp 16.064 per USD. Sedangkan BCA senilai Rp 16.030 per USD.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Edi Susianto menyatakan, pergerakan nilai tukar mata uang dunia masih didorong kondisi ekonomi AS yang masih cukup risilien. Khususnya rilis data consumer price index (CPI) alias indeks harga konsumen dan producer price index (PPI) atau indeks harga produsen AS yang meningkat. Masing-masing sebesar 2,7 persen dan 3 persen year-on-year (YoY).

"Di sisi lain, terdapat dugaan pelaku pasar bahwa Bank of Japan (BoJ) belum akan menaikkan policy rate pada board meeting pekan ini. (Indeks) DXY menguat terhadap mata uang EM (emerging market) Asia," kata Edi kepada Jawa Pos.

Dia memastikan, bank sentral terus mengawal pergerakan rupiah untuk menjaga market confidence. Dengan melakukan langkah-langkah strategis dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Terus berada di pasar untuk menjaga keseimbangan supply-demand valas di market melalui triple intervention di pasar spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF). "Terkait nilai tukar (rupiah) akan menjadi asesmen dalam RDG (rapat dewan gubernur) bulanan di pekan ini," jelasnya.

CEO Jooara Gembong Suwito memperkirakan mata uang Garuda melemah hingga Rp 16.300 per USD dalam tiga bulan ke depan. Fokus penguatan ekonomi domestik dan langkah proteksionis AS terkait perang dagang mendorong fenomena strong dollar.

Kondisi ketidakpasian global yang tinggi, aset safe haven seperti USD banyak dicari. Sebab, investor tentu mencari perlindungan terhadap aset-asetnya. Sejalan dengan ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah dan Rusia-Ukraina.

"Hal itu mendorong terjadinya capital outflow," ungkapnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore