Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 18 Juli 2024 | 13.10 WIB

BI Beri Sinyal Pangkas Suku Bunga Akhir Tahun ini, Bank Mandiri Yakin Kredit Tumbuh 13-15 Persen

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah), Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti (kanan) dan Deputi Gubernur Doni P. Joewono (kiri) saat konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur di Jakarta, Kamis (20/6/2024). - Image

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah), Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti (kanan) dan Deputi Gubernur Doni P. Joewono (kiri) saat konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur di Jakarta, Kamis (20/6/2024).

JawaPos.com - Bank Indonesia (BI) memberi sinyal bahwa terdapat ruang untuk memangkas suku bunga acuan tahun ini, sejalan dengan data perekonomian domestik yang terkendali. Sayangnya, ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi menjadi pertimbangan untuk tetap higher for longer.
 
"Kami masih melihat ruang untuk arah suku bunga BI rate akan turun. Kemungkinan masih sama yaitu pada triwulan IV. Kemungkinan (pemangkasan) Fed Fund rate (FFR) lebih maju kami akan lihat, bagaimana (suku bunga obligasi) US Treasury, bagaimana dolar (Amerika Serikat). Semuanya akan data dependen," ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo usai rapat dewan gubernur di kantornya, kemarin (17/7).
 
Ekonomi global pada 2024, lanjut dia, diperkirakan tumbuh sebesar 3,2 persen didorong Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam tetap baik ditopang oleh konsumsi dan stimulus fiskal.
 
Inflasi AS pada Juni 2024 sebesar 3 persen YoY. Lebih rendah dari inflasi Mei 2024 sebesar 3,3 persen. Hal ini mendorong perkiraan penurunan FFR dapat lebih cepat dari proyeksi sebelumnya pada akhir tahun 2024.
 
"Yang semula Fed Fund Rate itu kami perkirakan baru turun Desember, itu ada probabilitas yang semakin besar bisa maju ke November. Kami belum berani mengatakan akan maju ke September," ungkap alumnus Iowa State University itu.
 
Sementara itu, ekonomi Eropa bakal tumbuh lebih tinggi seiring dengan perbaikan ekspor dan investasi. Sedangkan, perekonomian Tiongkok belum kuat dipengaruhi lemahnya permintaan domestik.
 
Pertumbuhan ekonomi tahunan Year-on-Year (YoY) kuartal II 2024 hanya tumbuh 4,7 persen. Turun dari 5,3 persen YoY dari kuartal sebelumnya.
 
Nah, ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi serta ketegangan geopolitik yang belum mereda mengakibatkan aliran modal ke negara berkembang relatif terbatas. Perkembangan tersebut berimplikasi memberikan dampak negatif terhadap negara berkembang.
 
"Maka perlu l penguatan respons kebijakan untuk memitigasi dampak negatif dari rambatan ketidakpastian global terhadap perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia," ujar Perry.
 
Asesmen BI menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik didukung permintaan domestik. Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan II 2024 ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi.
 
 
Ekspor barang meningkat didorong kenaikan ekspor produk manufaktur dan pertambangan. Terutama logam dan bijih logam, serta besi baja ke negara mitra dagang utama seperti India dan Tiongkok.
 
Menurut Perry, tren positif pertumbuhan ekonomi dalam negeri di sisa 2024 masih akan berlanjut. Seiring dengan rencana peningkatan stimulus fiskal dari 2,3 persen menjadi 2,7 persen dari PDB serta kinerja ekspor yang meningkat dengan kenaikan permintaan dari mitra dagang utama.
 
"Dengan berbagai perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi 2024 diprakirakan berada dalam kisaran 4,7 sampai dengan 5,5 persen. Tahun depan 4,8 sampai 5,5 persen," bebernya.
 
Perry meyakini pertumbuhan kredit tahun ini bisa mencapai double digit. Bahkan di batas atas sekitar 10-12 persen. Hingga triwulan II 2024, BI mencatat pertumbuhan kredit sebesar 12,36 persen YoY. Didorong oleh kuatnya sisi penawaran dan permintaan.
 
Terpisah, Corporate Secretary Bank Mandiri Teuku Ali Usman menyampaikan, kebijakan BI turut memberikan kontribusi positif. Terutama pada pertumbuhan kredit yang masih menunjukkan tren akselerasi hingga akhir semester I 2024. Hal tersebut juga diikuti dengan permintaan kredit yang sehat sejalan dengan perekonomian yang masih resilien.
 
"Di sisi lain, kami melihat masih ada peluang penguatan rupiah. Meski demikian, volatilitas nilai tukar rupiah tetap perlu diwaspadai dengan melihat dinamika politik di Amerika Serikat (AS) dan fluktuasi ekonomi global," terang Ali saat ditanyai Jawa Pos tadi malam.
 
Adapun, sampai akhir Mei 2024 penyaluran kredit Bank Mandiri secara bank only masih mencatatkan pertumbuhan mencapai 19,5 persen YoY menjadi Rp 1.152,53 triliun. Realisasi kredit tersebut turut diikuti dengan dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh 12,9 persen YoY menjadi Rp 1.296,1 triliun yang ditopang oleh dana murah atau current account saving account (CASA).
 
"Sejalan dengan kondisi fundamental makro ekonomi domestik yang masih baik, diikuti permintaan kredit yang positif, kami optimis kredit Bank Mandiri masih mampu tumbuh sesuai guidance di kisaran 13 hingga 15 persen pada 2024," tandasnya.
 
Hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia Juli 2024
 
-mempertahankan BI rate di level 6,25 persen
-sasaran inflasi 2,5±1 persen pada 2024 dan 2025
-proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2024 sebesar 3,2 persen
-proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2024 di kisaran 4,7-5,5 persen
-nilai tukar rupiah melemah 4,84 persen year-to-date (YtD)
-pertumbuhan kredit triwulan II 2024 sebesar 12,36 persen year-on-year (YoY)
Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore