Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 September 2018 | 01.08 WIB

Begini Alasan Pemerintah Optimistis Perekonomian Masih Baik-baik Saja

Menko Perekonomian Darmin Nasution - Image

Menko Perekonomian Darmin Nasution

JawaPos.com - Saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah mencapai Rp 14.900. Meski demikian, Pemerintah tetap optimistis bila fundamental ekonomi Indonesia masih baik-baik saja. Walaupun nilainya sama dengan kondisi rupiah saat krisis moneter 1998, namun kondisi sekarang dilihat jauh berbeda.


Menko Perekonomian Darmin Nasution mengingatkan bahwa 20 tahun lalu, saat Indonesia terkena krisis moneter, rupiah tembus ke level Rp 14.000 per USD bergerak dari level Rp 2.800 per USD.


"Sekarang dari Rp 13 ribu ke Rp 14 ribu. Tahun 2014, dari Rp 12 ribu ke Rp 14 ribu," kata Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution di Jakarta, Selasa (4/9).


Selain pelemahan nilai tukar yang masih jauh lebih baik dibanding sejumlah negara lainnya, cadangan devisa Indonesia yang tercatat sebesar USD 118,3 miliar diyakini jauh lebih baik dibanding kondisi Indonesia saat terkena krisis moneter 1998.


Meski demikian, ekonom Indef Bhima Yudistira mengingatkan, defisit neraca perdagangan Indonesia harus menjadi perhatian pemerintah.


Hal itu lantaran Indonesia masuk ke dalam negara negara fragile five bersama dengan Argentina dan Turki. Bhima menyebut, apabila satu dari negara fragile five jatuh maka negara fragile five lainnya akan terkena imbas.


Fragile five adalah negara-negara yang defisit transaksi berjalannya cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Negara yang masuk ke dalam kategori ini adalah India, Afrika Selatan, Brasil, Turki, dan Indonesia.


"Fragile five memiliki kesamaan, misalnya Argentina yang surat utangnya bergantung dari investor asing. Indonesia 40 persen surat utang kita dikuasai investor asing," kata Bhima dihubungi JawaPos.com, Selasa (4/9).


Meski sama-sama masuk fragile five, Indonesia masih lebih baik dari Argentina dan Turki. Menko Darmin menyebut meski transaksi berjalan mengalami defisit, namun saat ini masih 3 persen lebih kecil dari 2014 yang mencapai 4,2 persen.


Transaksi berjalan Indonesia ada di 3 persen per triwulan II 2018. Sementara Turki 5,9 persen dan Argentina 4,7 persen, tiga negara itu sama-sama menderita defisit transaksi berjalan tapi Indonesia lebih rendah.


"Kemudian dari sisi defisit anggaran Indonesia ditargetkan 2,2 persen pada 2018, sementara Turki 2,8 persen dan Argentina 5,3 persen," jelas Bhima.


Begitu pun dengan rasio utang Turki dan Argentina yang sudah di atas 50 persen. Sementara Indonesia di kisaran 30 persen. Sehingga secara keseluruhan kinerja ekonomi Indonesia masih lebih baik dari Turki dan Argentina.


Darmin menegaskan, fundamental Indonesia cukup bagus bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang cukup baik dengan inflasi yang terjaga, meski pada Agustus kemarin konsumsi justru mengalami deflasi.


"Makanya saya bilang ada hal yang kemudian mendorong agak lebih banyak pelemahannya, yang kita sendiri ini nggak masuk akal," jelas Darmin.


Sebab gejolak yang terjadi di Argentina memberi imbas ke semua negara, akan tetapi Indonesia tidak lebih buruk dari negara maju. Walau pemerintah juga terus mencari penyebab yang menjadi dasar melemahnya rupiah secara gradual.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore